Minggu, 01 November 2009
Jefri Dan Ibunya (10)
“Mengontrak” Istri Kontraktor
Ekonomi Mukarim sebagai kontraktor jelas sangatlah mapan. Banyak proyek pemerintah di Sumenep yang ditanganinya, dari prasarana jalan hingga gedung. Jadi kalau dia bisa memanjakan Dewi istrinya yang cantik tersebut, sudahlah jamak. Minta apa saja, bini yang berkulit putih bersih dan betis mbunting padi itu, pastilah disediakan. Karenanya, sebagai wanita yang termanjakan, setiap pergi perhiasan di tubuh Dewi bak toko berjalan saja. Gelang keroncong bertengger di tangan kanan kiri, baju di rumah satu kamar hanya punya dia seorang.
Rupanya Mukarim beranggapan, hanya itulah kebutuhan seorang wanita. Asal semuanya tercukupi, terjamin soal mamah (makan) diajak mlumah (melayani di ranjang) kapan saja pastilah oke. Padahal Dewi sebagai manusia juga ingin diperlakukan secara manusiawi. Dia tak ingin hanya dijadikan obyek seks semata. Dia ingin perhatian, kasih sayang. Jangan hanya Mukarim pulang ketika butuh saja. Setelah gusrak gusrak gusrak …..selesai, kembali suami tenggelam dalam bisnisnya sampai kadang lupa pulang.
Adalah Murdakin, teman sesama kontraktor yang selama ini jadi pengamat kehidupan rumahtangga Dewi - Mukarim. Dia yang sebetulnya sudah lama ada rasa pada wanita itu, diam-diam mencoba memanfaatkan. Sebagai petualang cinta, dia memang sangat tahu apa yang dibutuhkan kaum hawa. Karenanya, bila dalam soal proyek dia selalu berebut tender dengan Mukarim, di belakang Murdakin memperebutkan hati dan simpati Dewi. Dan ternyata, tanpa harus nyogok dengan pimpro, akhirnya Murdakin bisa memperoleh hati dan jiwa bini Mukarim tersebut.
Ny. Mukarim memang mulai terpikat masuk perangkap pemborong Murdakin. Lelaki ini bisa menghargainya sebagai wanita yang butuh perhatian dan kasih sayang. Karenanya, ketika Murdakin belakangan minta “eksekusi” non Amrozi di sebuah hotel, diladeni saja. Keduanya pun kemudian berpacu dalam birahi. Biar hanya pemborong klas C, tapi nilai Murdakin kelas A dalam urusan ranjang. Karenanya, setiap ada peluang, keduanya pun selalu singgah dari hotel satu ke hotel lain. Pendek kata, bini Mukarim ini sepertinya sudah dikontrak pakai meski tanpa sepertujuan si pemilik.
Akan tetapi semua hal yang batil memang takkan langgeng. Lama-lama Mukarim mengendus juga permainan terkutuk itu. Dia hanya bisa terpana ketika tahu bininya belakangan dibuatkan rumah kontrakan di Desa Pandian Kecamatan Kota, Sumenep. Rumah tak selalu ditinggali, hanya dipakai ketika Murdakin perlu sporing balancing dan amplas platina. Maka dengan minta bantuan warga, saat Murdakin – Dewi ngamar, penggerebekan pun dilakukan. Dewi tak bisa berkutik ketika dipaksa warga dan suami ikut ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
PESELINGKUH BERDARAH DINGIN
Tidur adalah kebutuhan setiap makhluk bernyawa, kecuali ikan. Bahkan menurut penelitian para ahli, kehidupan manusia sepertiganya hanya digunakan untuk tidur. Itu artinya, bila usia seseorang 75 tahun, maka selama 25 tahun dia ngorok saja. Tapi jago tidur paling legendaris adalah Kumbokarno, dari dunia perwayangan. Ketika sudah tertidur nyenyak, susah untuk dibangunkan. Dilindas kereta pun dia takkan bergeming. Tapi setelah bangun, woo….makannya banyak sekali. Seribu nasi tumpeng habis oleh adik dari Prabu Dasamuka raja Alengka ini.
Istri Giyoto warga Desa Candirejo Kecamatan Ponggok Kabupaten Blitar, juga doyan banget tidur, meski belum separah Haryo Kumbokarno. Asal sudah kena bantal, langsung saja lerrrrr……lupa akan segalanya. Lalu mulailah Ny. Minuk, 40, membuat peta Ilmu Bumi di sarung bantal itu pakai ilernya. Meski dicolek-colek suami untuk “keperluan” barang sebentar, dia tetap saja tak bergeming. Terus saja mlungker (melingkar) dibuai mimpi.
Keruan saja, Giyoto sebagai suami sering kaco dibuatnya. Dia baru butuh, Minuk masih asyik dengan mimpi-mimpinya. Pernah dia protes akan hobi ngantukannya tersebut, tapi sang nyonya masih saja berkelit. Katanya, tidur itu kalau bulan puasa termasuk ibadah. Lha ini kan belum puasa? Tapi begitulah, Ny. Minuk selalu memanjakan hobi molornya. Saking ngebetnya Giyoto, pernah lho istri “melayani” suami sambil terkantuk-kantuk. Akibatnya tentu saja, Ny. Minuk nggak menak (enak) lagi.!
Adalah gadis Midah, meski sudah lulus SMA dia masih penakut benar pada soal hantu-hantuan. Ketika tetangga sebelah rumah meninggal, kontan dia tak berani tidur sendirian. Dia memilih bergabung bersama ibu bapaknya. Midah memilih tidur di tengah, di antara ibu dan ayahnya. Sama sekali tak merasa risih, bahwa Giyoto adalah hanya ayah sambungan alias bapak tiri. Padahal jika Midah sadar, di era gombalisasi sekarang ini, bapak tiri banyak yang hobi “makan” anak tiri.
Hil-hil mustahal yang tak pernah terpikirkan oleh Midah, akhirnya terpikirkan oleh Giyoto. Ini terjadi ketika melihat rok si anak tiri tersingkap dan memamerkan pahanya yang mulus nan ranum. Hantu tetangga yang sangat ditakuti Midah, kini telah menjelma dalam tubuh ayah tirinya sendiri. Giyoto yang tahu persis kebiasaan buruk istri, dengan santainya dia langsung menubruk Midah meski itu persis di samping Ny. Minuk yang sedang ngorok membentuk peta ilmu bumi.
Sergapan mendadak Giyoto sempat membuat Midah terkaget-kaget. Tapi karena si ayah tiri tahu benar tehnik menguasai kaum hawa, lama-lama si anak tiri bertekuk lutut dan berbuka paha juga. Di sinilah kerjasama nirlaba ini terus berlangsung, sementara Ny. Minuk terus saja dibuai mimpi. Malam itu Giyoto telah menerima predikat baru: peselingkuh berdarah dingin, yang berani cari “anget-angetan” meski di samping istri. “Tangimu suk tahun Dal ya Bu (kamu besuk bangun di tahun Dal ya bu),” kata Giyoto.
Akhirnya, Midah jadi “menu” utama sejak peristiwa itu. Digarap selalu di samping istri yang tidur nyenyak, lama-lama perut anak tiri pun menggelembung. Tentu saja para tetangga pada heran melihat perubahan perut Midah yang sangat mendasar. Belum bersuami tapi kok seperti orang hamil. Ny. Minuk lalu menginterogasinya. Jawab putri semata wayangnya membuat istri Giyoto ini tercekat. Masak, anak tiri dihamili? Malu akan kelakuan suami, Ny. Minuk langsung melapor ke Polsek Ponggok.
BUASNYA DUDA CALON MANTU
Selama 4 tahun jadi duda, menjadikan Rapingi, 35, tersiksa benar. Maka begitu ada peluang, dia jadi buas sekali. Anak tetangga dilarang dipacari, malah disetubuhinya sebanyak 6 kali. Dengan perasaaan geram, calon mantu tak disuka ini terpaksa dilaporkan orangtua gadis Sarkini, 20, ke Polres Lumajang (Jatim).
Tiap orangtua selalu mendambakan menantu yang ideal. Pilihan dan kriterianya bukan hanya lelaki beriman, tapi juga bermasa depan sukur-sukur mendongkrak citra mertua. Calon menantu yang kemudian malah merongrong harta dan kewibawaan mertua sungguh bakal dikutuknya tujuh turunan. Tapi jika sedang apes, justru dapat yang beginian. Tapi bagaimana lagi, punya anak perempuan memang seperti pasang bubu di kali, salah-salah yang masuk ular beludak!
Agaknya Rapingi, warga Kalibendo Lumajang, termasuk calon menantu yang begini. Statusnya yang duda, dan pekerjaan tetap tidak punya, menyebabkan orangtua Sarkini mengernyitkan dahi ketika Rapingi coba-coba mengajak berkoalisi asmara dengan anaknya. Maka begitu Sarkini nampak mulai akrab dengan siduda, orangtua segera mengingatkan. “Hati-hati kamu nduk, jangan sampai dikawin lelaki kambing bandot macam Ropingi….,” kata Pak Sastro, 50, bisik-bisik.
Tanda penolakan orangtua semakin nyata, sebab ketika Ropingi mencoba “apel” ke rumahnya, Pak Sastro dan istrinya bilang putrinya tak ada. Padahal barusan duda kasmaran ini melihat, Sarkini ngglibet di dapur. Tetapi mau ngeyel dengan calon mertoku Ropingi juga tidak enak, sehingga dengan sejuta rasa kecewa dia pamitan sambil bilang: suk meneh yen lunga sirahe Sarkini aja ditinggal ya (lain kali jika pergi kepala Sarkini janganlah ditinggal).
Ilmu melobi mertua terus dipelajari Ropingi, tapi tak juga membawa perubahan berarti. Pak Sastro tetap saja sangar. Pikir si duda ini kemudian: yang tinggal melarang sih enak, tapi yang dilarang jelas sangat tersiksa. Masak duda 4 tahun kok dilarang berdekatan dengan wanita, apakah ini bukan termasuk pelanggaran HAM berat? “Dikerek diedhunake, gak kenek tak dukunake (kalau tak dapat juga, main dukun siapa takut?” gumam Rapingi.
Kenyataannya, tanpa menggunakan jasa teman-teman Ki Jaka Bodo, Sarkini suah mulai lengket dengannya. Setiap orangtuanya pergi, gadis itu mengundang Rapingi untuk main main ke rumahnya, langsung dalam kamar pula. Duda satu priode ala AS (4 tahun - Red) disodori gadis sekel nan cemekel dalam kamar, sudah barang tentu ngentek-ngentekne (dibikin ludes). Sekali kunjungan, Sarkini segera saja disetubuhi dalam dua putaran alias dua kali. Sudah 3 kali ayah ibu membiarkan sigadis tinggal di rumah sendirian, itu berarti 6 kali pula Ropingi menggauli anak Pak Sastro.
Akan tetapi, ketika duda celamitan ini hendak nambah untuk ketujuh kalinya, kepergok ibunya Sarkini. Betapa marahnya calon mertua ini, mendapati Ropingi berbugil ria dalam kamar rumahnya. Meski kali ini si ular beludak belum sempat “mematuk” Sarkini langsung saja dilaporkan ke Polres Lumajang. Dengan menangis terisak-isak, Ropingi menyesalkan “kekejaman” calon mertuanya. “Wong saya menikahi Sarkini juga siap kapan saja, kenapa mesti dilaporkan ke polisi?” kata Ropingi saat diperiksa.
ANAK IKUT GEREBEK IBUNYA
Istri salihah mesti bisa jadi panutan keluarga atau uswatun khasanah (ikutan yang baik) menurut bahasa sono-nya. Banyak terjadi, lelaki yang tadinya mursal (kurang ajar) menentang ajaran Tuhan, begitu dapat istri yang rajin beribadah, ikut kesetrom jadi suami yang baik. Saat bujangan dulu salatnya blang-bonteng (bolong-bolong), kini menjadi ajeg menjalani salat lima waktu. Tindak tanduknya pun menjadi santun dan terukur. Dalam setiap pembicaraan tak pernah lepas kata subhanallah dan astagfirullah. Bila melafal huruf “ain” fasih benar. Inilah berkat istri yang salihah!
Tapi kalau istri model Ny. Warti ini, apanya yang jadi panutan? Perilakunya sungguh bukan wanita solihat, tapi musibat (murka Allah). Coba bayangkan, di bulan Romadon seperti sekarang ini, dia malah makin rajin kencan bersama gendakannya. Ketika para tetangga dan suami di mesjid bertadarus, dia malah berbuat ora urus (kurang ajar). Maka Allah pun segera memperingatkan secara telak. Saat berasyik masyuk bersama pamong desa Witono, 30, warga langsung menggerebeknya. Bukan saja penduduk, tapi juga suami berikut lima anaknya!
Agaknya Ny. Warti ini memang wanita paling gatel di zamannya. Penyakit itu demikian susah disembuhkan, tak mempan oleh Kalpanax maupun bedak Herosin. Gatelnya Warti memang lain. Ketika melihat Witono yang ganteng dan elegant, langsung libidonya naik.Lalu seperti orang allergi udang, seluruh tubuhnya menjadi gatel-gatel bak terkena krawe (miang). Digaruk, dikalpanax dan diherosin, tak mempan juga. Obatnya hanya satu, yakni kencan bersama mas pamong desa. “Oh Mas Wito arjunaku…..,” begitu kata Warti selagi gandrung.
Jatuh cinta memang bukan milik kawula muda saja. Ibu-ibu beranak 5 macam Ny. Warti bisa juga, bahkan lebih ganas dan nekad. Begitu tahu suaminya tak bisa diharapkan dalam percaturan ranjang, mulailah dia meladeni ajakan gila pak pamong dari Desa Gebangan Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Bak pajabat Pemda saja, demi sebuah pelayanan, Warti rela melakukan sistem “jemput bola”, alias menyongsong Witono untuk diajak berkencan ria di suatu tempat.
Skandal ini terjadi sejak sebelum Romadon. Setelah bulan suci tiba, mestinya perilaku nyasar ini distop sama sekali, atau paling tidak direm dulu. Tapi ibu STNK dari Desa Demas Kecamatan Besuki Kabupaten Besuki ini bukan begitu. Puasa ya puasa, tapi selingkuh lintas kabupaten ini jalan terus. Bila keuangan memadai, masuk hotel melati bukan masalah. Tapi jika kondisi kantong sangat negatif, kencan di warung juga tak masalah. Warti dan Witono memang sosok yang praktis dan luwesan.
Lama-lama debut selingkuh antar kabupaten ini tercium suami Warti berikut anak-anaknya. Sudah barang tentu mereka tak merelakan istri/ibu-nya berbuat aib. Ketika dapat bocoran info di mana keduanya akan menggebrak ranjang, suami dan anak-anaknya segera steliling (siap). Nah, sekitar pukul 23.00, saat Ny. Warti melayani selingkuhannya di warung miliknya di Pasar Kebonagung Kraksaan, tahu-tahu suami dan kelima anaknya ikut pula menggerebeknya bersama warga. “Sebagai pamong, mestinya sampeyan kan mengajari yang benar pada warga,” protes akan sulung Ny. Warti.
Kalau saja polisi tak segera datang, niscaya Witono habis dikeroyok suami dan anak-anak selingkuhannya. Pasangan mesum itu lalu dibawa ke Polsek Kraksaan. Karena Bowo, 50, suami masih bisa memaafkan, Witono hanya disuruh bikin pernyataan tak berbuat selingkuh lagi. Begitu juga Ny. Warti, dia juga menulis perjanjian bahwa akan kembali bekti dan setia pada suami tercinta. Tobat, tapi sudah kadung berantakan.
Mak Mertua Tiri Ku
ANAK IKUT GEREBEK IBUNYA
Istri salihah mesti bisa jadi panutan keluarga atau uswatun khasanah (ikutan yang baik) menurut bahasa sono-nya. Banyak terjadi, lelaki yang tadinya mursal (kurang ajar) menentang ajaran Tuhan, begitu dapat istri yang rajin beribadah, ikut kesetrom jadi suami yang baik. Saat bujangan dulu salatnya blang-bonteng (bolong-bolong), kini menjadi ajeg menjalani salat lima waktu. Tindak tanduknya pun menjadi santun dan terukur. Dalam setiap pembicaraan tak pernah lepas kata subhanallah dan astagfirullah. Bila melafal huruf “ain” fasih benar. Inilah berkat istri yang salihah!
Tapi kalau istri model Ny. Warti ini, apanya yang jadi panutan? Perilakunya sungguh bukan wanita solihat, tapi musibat (murka Allah). Coba bayangkan, di bulan Romadon seperti sekarang ini, dia malah makin rajin kencan bersama gendakannya. Ketika para tetangga dan suami di mesjid bertadarus, dia malah berbuat ora urus (kurang ajar). Maka Allah pun segera memperingatkan secara telak. Saat berasyik masyuk bersama pamong desa Witono, 30, warga langsung menggerebeknya. Bukan saja penduduk, tapi juga suami berikut lima anaknya!
Agaknya Ny. Warti ini memang wanita paling gatel di zamannya. Penyakit itu demikian susah disembuhkan, tak mempan oleh Kalpanax maupun bedak Herosin. Gatelnya Warti memang lain. Ketika melihat Witono yang ganteng dan elegant, langsung libidonya naik.Lalu seperti orang allergi udang, seluruh tubuhnya menjadi gatel-gatel bak terkena krawe (miang). Digaruk, dikalpanax dan diherosin, tak mempan juga. Obatnya hanya satu, yakni kencan bersama mas pamong desa. “Oh Mas Wito arjunaku…..,” begitu kata Warti selagi gandrung.
Jatuh cinta memang bukan milik kawula muda saja. Ibu-ibu beranak 5 macam Ny. Warti bisa juga, bahkan lebih ganas dan nekad. Begitu tahu suaminya tak bisa diharapkan dalam percaturan ranjang, mulailah dia meladeni ajakan gila pak pamong dari Desa Gebangan Kecamatan Krejengan, Kabupaten Probolinggo. Bak pajabat Pemda saja, demi sebuah pelayanan, Warti rela melakukan sistem “jemput bola”, alias menyongsong Witono untuk diajak berkencan ria di suatu tempat.
Skandal ini terjadi sejak sebelum Romadon. Setelah bulan suci tiba, mestinya perilaku nyasar ini distop sama sekali, atau paling tidak direm dulu. Tapi ibu STNK dari Desa Demas Kecamatan Besuki Kabupaten Besuki ini bukan begitu. Puasa ya puasa, tapi selingkuh lintas kabupaten ini jalan terus. Bila keuangan memadai, masuk hotel melati bukan masalah. Tapi jika kondisi kantong sangat negatif, kencan di warung juga tak masalah. Warti dan Witono memang sosok yang praktis dan luwesan.
Lama-lama debut selingkuh antar kabupaten ini tercium suami Warti berikut anak-anaknya. Sudah barang tentu mereka tak merelakan istri/ibu-nya berbuat aib. Ketika dapat bocoran info di mana keduanya akan menggebrak ranjang, suami dan anak-anaknya segera steliling (siap). Nah, sekitar pukul 23.00, saat Ny. Warti melayani selingkuhannya di warung miliknya di Pasar Kebonagung Kraksaan, tahu-tahu suami dan kelima anaknya ikut pula menggerebeknya bersama warga. “Sebagai pamong, mestinya sampeyan kan mengajari yang benar pada warga,” protes akan sulung Ny. Warti.
Kalau saja polisi tak segera datang, niscaya Witono habis dikeroyok suami dan anak-anak selingkuhannya. Pasangan mesum itu lalu dibawa ke Polsek Kraksaan. Karena Bowo, 50, suami masih bisa memaafkan, Witono hanya disuruh bikin pernyataan tak berbuat selingkuh lagi. Begitu juga Ny. Warti, dia juga menulis perjanjian bahwa akan kembali bekti dan setia pada suami tercinta. Tobat, tapi sudah kadung berantakan.
