Pertama-tama perkenankan saya memperkenalkan diri dulu. Biasa teman-
temanku memanggilku Nana (nama lengkap/aslinya ga usah disebut yah),
lahir tahun 83. Tubuhku cukup jangkung untuk ukuran wanita, terakhir
kuukur 172 cm, dengan berat 48kg dan tiga lingkar tubuh 86/60/90.
Rambutku lurus sebahu, wajah lonjong ,dan kulit putih karena aku WNI
keturunan.
Saat ini masih kuliah di fakultas sastra di salah satu
universitas swasta di Bandung dan ngekost tidak jauh dari kampusku.
Aku termasuk gadis yang sering ke salon dan modis, maka aku sudah
tidak asing dengan tatapan nakal cowok-cowok di kampus kalau aku
memakai pakaian yang ketat atau agak seksi, apalagi ketika ngedugem
dimana aku memakai pakaian yang lebih terbuka. Dalam percintaan,
secara jujur kuakui aku bukan type yang setia. Aku sudah mempunyai
pacar yang sedang kuliah di Amerika sehingga kami jarang bertemu,
kami sudah berjalan lebih dari tiga tahun dan aku mencintainya, tapi
darah muda dalam diriku melibatkanku dalam beberapa hubungan one
night stand dengan teman kuliah maupun teman dugem, bagiku semua itu
hanya hubungan badan tanpa merubah perasaanku pada pacarku.
Kisahku ini terjadi pada pertengahan tahun 2004 yang lalu yaitu
libur akhir semester. Waktu itu teman kostku sudah banyak yang
pulang, di kostku hanya tersisa seorang pria, dan dua wanita
termasuk diriku. Yang dua itu tidak pulang karena ikut semester
pendek, tapi aku belum pulang karena waktu itu di rumahku tidak ada
siapa-siapa berhubung kedua orangtuaku sedang menghadiri pernikahan
di kota lain dan kakakku satu-satunya sudah dua tahun yang lalu
menikah dan ikut suaminya. Jadi pemikiranku lebih baik kutunda
kepulanganku sampai papa dan mamaku pulang 2-3 hari lagi, daripada
kesepian di rumah mendingan kuisi waktuku untuk having fun bersama
teman-temanku di Bandung.
Malam itu aku ngedugem di salah satu tempat dugem di jalan Cihampelas. Teman-temanku mencekoki minuman sementara aku tidak kuat minum, mereka bilang untuk merayakan kenaikan IPK-ku. Aku mabuk sehingga dalam perjalanan pulang dengan mobil Ocha aku numpang ke WC di rumah Risa waktu sampai di rumahnya karena tidak tahan mau muntah. Setelah muntah akupun masih pusing-pusing sehingga terpaksa aku minta Risa untuk menginap di rumahnya semalam saja daripada pulang ke kost dalam keadaan sempoyongan, kan ga enak dilihat.
Singkat cerita akupun menginap di rumah Risa malam itu dan baru
terbangun besoknya, hari Minggu jam sebelasan. Kepalaku masih agak
berat.
“Lu orang sih, nyuruh gua minum terus, aduh kaya mau mati aja
kemarin rasanya tau !” omelku pada Risa.
“Hihihi, gapapa lah Na sekali-kali aja, kan kita baru selesai
semester nih !” jawabnya tertawa kecil mengingat keadaanku kemarin.
Akhirnya setelah makan sedikit, Risa mengantarku pulang ke kostku di
daerah Sukamekar. Kumasuki pintu gerbang kostku, suasanya sepi
seperti beberapa hari terakhir. Di depan pos jaga aku berpapasan
dengan Gungun, pegawai/ penjaga kostku yang berusia dua puluhlimaan
sedang ngobrol-ngobrol dengan dua orang pemuda yang kira-kira sebaya
dengannya, aku tidak tahu siapa mungkin temannya yang penduduk
sekitar sini. Aku tersenyum kecil sebagai basa-basi dan mereka
membalasnya.
Terasa sekali mereka memandangi tubuhku yang masih memakai pakaian
seksi semalam berupa sebuah rok putih sejengkal di atas lutut dan
tank top berdada rendah yang memperlihatkan sedikit belahan dadaku.
Aku mempercepat langkahku ke tangga, di dekat tangga akupun
berpapasan lagi dengan pegawai kostku yang lain, si Acep yang masih
berusia SMA, sekitar enambelas tahun, orangnya agak culun, berambut
cepak dan kerempeng, dia sering bertugas membelikan barang pesanan
dan mengantar makanan untuk kami, para penghuni disini.
“Eh…Neng, baru pulang yah !” sapanya sambil cengengesan.
Aku hanya menjawab iya saja lalu menaiki tangga, instingku
mengatakan kalau dia berusaha mengintip rokku yang mini ketika aku
naik, sempat terlihat sekilas olehku ketika sampai di lantai dua dan
membelok. Sampai di kamar, aku langsung membuka pakaianku dan masuk
ke kamar mandi, langung kubuka shower dan kuguyur tubuhku dengan air
dingin, segar sekali rasanya, udara di luar waktu itu lagi panas
ditambah lagi panas alkohol masih sedikit terasa dari dalam tubuhku.
Selesai mandi, aku keluar dari kamar mandi tanpa mengenakan apapun
sambil mengelap rambutku dengan handuk. Kuambil celana dalam kuning
dan kupakai. Aku tidak menemukan baju barongku yang biasa kupakai
tidur di gantungan di pintu, baru ingat kalau baju itu sudah kutaruh
di tempat cucian. Karena malas mencari baju lain di lemari, akupun
lantas melempar diriku ke kasur. Biar saja tidur hanya dengan celana
dalam, apalagi cuacanya lagi panas, kipas anginnya juga kumatikan.
Kututupi tubuhku dengan selimut dan kupeluk guling kesayanganku
untuk melanjutkan tidurku yang masih belum puas ditambah masih
sedikit pening, maklumlah orang ga kuat minum di suruh minum banyak
ya gini nih jadinya.
Entah berapa lama aku tertidur lelap sekali
sampai kurasakan ada rasa geli pada tubuhku, secara refleks tanganku
menepis dan menggulingkan tubuh ke arah lain. Namun perasaan itu
datang lagi dengan lebih hebat, kali ini juga kurasakan pada paha
dan dadaku seperti ada yang mengenyot. Kali ini aku terbangun dan
kaget sekali melihat ternyata benar-benar ada orang yang sedang
mengenyot dadaku dan seseorang lainnya sedang menjilati pahaku.
Spontan akupun menjerit, namun sebuah tangan membekap mulutku dari
belakang. Ketika aku meronta, gerakanku langsung terkunci oleh
tangan-tangan yang memegangi kedua tangan dan kakiku.
Aku mengedip-ngedipkan mata memperjelas pandanganku, aku makin
terperanjat dengan keempat wajah menyeringai diatasku, wajah yang
tak asing bagiku. Yang dua adalah pegawai kostku, Gungun dan Acep
dan dua orang temannya yang kutemui di bawah tadi. Aku tidak habis
pikir bagaimana mereka bisa masuk sini, padahal pintu sudah kukunci,
tapi sekarang bukan waktunya memikirkan itu, sekarang harusnya
memikirkan apa yang harus kulakukan menghadapi situasi ini.
“Halo Neng, maaf yah kita masuk sini diam-diam abis ga tahan liat
body Neng yang bahenol !” kata Gungun.
“Emmphh…eemhhh !” aku berusaha berteriak walau mulut masih dibekap
sambil meronta ketika Gungun meraba payudaraku.
“Udahlah Neng, ga usah ngelawan terus, disini lagi gak ada siapa-
siapa kok !” sahut orang yang membekapku yang berambut agak
bergelombang dan matanya besar.
Dalam situasi makin kritis seperti ini aku mulai berpikir ulang, aku
pernah membaca berita tentang pembunuhan di kost, melawan mereka
yang sedang kalap mungkin saja malah mencelakakanku, bukankah lebih
baik pasrah saja menuruti mereka. Lagipula aku ini kan bukan perawan
dan pria yang pernah main denganku bukan hanya pacarku, bedanya cuma
mereka sama-sama WNI keturunan dan yang empat ini bukan. Yah, anggap
saja tambah pengalaman seks lah, begitu pikirku positif. Yang masih
membuatku risau adalah apakah aku sanggup melawan empat orang
sekaligus mengingat seumur hidup aku selalu bermain konvensional
satu lawan satu. Mungkin sekaranglah waktunya bagiku untuk mencoba
rasanya digangbang. Seiring dengan birahiku yang mulai naik,
rontaanku pun berangsur-angsur berkurang berganti menjadi
kepasrahan. Darahku berdesir dan bulu-buluku merinding ketika tangan-
tangan itu menggerayangi tubuhku, ciuman dah jilatan juga menghujani
tubuhku. Salah seorang teman Gungun tadi menarik lepas celana
dalamku. Keempat orang itu menelan ludah menyaksikan keindahan
tubuhku yang sudah telanjang bulat, terutama Acep sepertinya ini
baru pertama kali dia melihat tubuh wanita secara nyata.
“Anjrit, jembutnya lebat banget euy !” kata Gungun sambil merabai
kemaluanku yang berbulu lebat tapi rapi, karena sering kucukur rapi
tepiannya agar tidak keluar-keluar kalau memakai baju renangku yang
seksi.
Teman Gungun yang rambutnya gondrong sebahu menciumi payudaraku,
digigit dan disedot-sedotnya putingku yang sensitif. Kuncian mereka
terhadapku mengendur dan tangan yang membekap mulutku juga sudah
lepas. Kepalaku menggeleng-geleng ketika Gungun mau menciumku, tapi
dia lalu memegangi kepalaku sehingga aku tak bisa lagi menghindari
mulutnya. Rangsangan yang datang bertubi-tubi membuatku semakin
horny dan mulutku pun membuka menerima serangan lidah Gungun, mau
tak mau aku harus beradaptasi dengan bau mulutnya. Kumainkan lidahku
mengimbangi lidahnya yang menari-nari di mulutku. Ketika asyik
berciuman dengan Gungun setidaknya ada dua jari yang bermain di
vaginaku, aku tidak tahu siapa itu karena aku biasa memejamkan mata
kalau berciuman agar lebih menghayati, selain itu tangan yang
menggerayangiku ada empat pasang sehingga tidak sempat mengenalinya
satu-satu.
Lama juga Gungun menciumiku, itu dia lakukan sambil tangannya
menjelajahi lekuk-lekuk tubuhku, hampir lima menit kira-kira, begitu
mulutnya lepas aku akhirnya lega bisa kembali menghirup udara segar
walau dengan nafas sudah memburu.Ketika kubuka mata, kulihat di
sebelah kananku teman Gungun yang matanya besar itu sedang
mengenyoti payudaraku dengan rakusnya, dia sudah membuka pakaiannya,
aku melihat penisnya yang sudah tegang itu menggantung di
selangkangannya, bentuknya panjang dengan kepalanya disunat. Iihhh…
geli sekaligus terangsang membayangkan aku harus mengulum dan
dimasuki benda itu. Si Acep sedang menjilat dan meraba tubuh bagian
sampingku (sekitar perut, paha, dan dada), dia juga masih memakai
kaos oblongnya tapi celananya sudah dibuka, penisnya yang juga
bersunat lumayan juga untuk seumuran dia. Ternyata yang daritadi
mengorek vaginaku adalah si pemuda gondrong, kini dia bahkan
mendekatkan wajahnya ke sana dan uuhh…lidahnya menyentuh bibir
vaginaku dan terasa menggelitik nikmat tubuhku sampai menggeliat
karena itu. Aku bingung apa yang kualami saat itu termasuk perkosaan
atau bukan, dibilang ya bisa juga karena awalnya mereka yang
memaksa, tapi dibilang tidak juga bisa karena toh aku juga mulai
menikmatinya.
“Memeknya enak, wangi loh mmm…ssluurrpp !” sahut si gondrong di
bawah sana.
“Oh, ya…nanti juga saya mau nyicipin yah, makannya cepet !” kata
Gungun.
“Jangan lama-lama yah, nanti kita kebagiannya bau jigong lu” timpal
si mata besar
Kini Acep sudah mencaplok payudaraku dengan mulutnya, walau
kelihatan culun jilatannya membuat putingku makin menegang. Gungun
juga membuka pakaiannya hingga telanjang. Wah, anunya juga ga kalah
gede dari kedua temannya, tinggal milik si gondrong saja yang belum
kulihat karena dia masih sibuk menjilat vaginaku. Aku harus mengakui
enak sekali diperlakukan seperti ini, dalam seks satu lawan satu aku
tidak pernah merasakan bagian-bagian sensitifku dimainkan dalam saat
bersamaan.
“Uuhh-eeemm….aaahh !” aku tak tahan untuk tidak mendesah ketika
lidah si gondrong menyapu bibir vaginaku, bukan cuma itu, jarinya
pun ikut keluar masuk di sana.
Hal itu berlangsung sekitar lima menit lamanya, kemudian Gungun
mengambil posisinya.
“Hayo sini, saya juga mau rasain, gantian dong !” katanya menyuruh
si gondrong menyingkir.
Langsung Gungun melumat bagian selangkanganku itu dengan bernafsu,
tangannya memegangi kedua pahaku sambil mengisap dan menjilat,
mulutnya terbenam di kerimbunan bulu kemaluanku, gayanya seperti
makan semangka saja. Serangannya lebih mantap dari si gondrong yang
cenderung monoton, lidah si Gungun sepertinya agak panjang sehingga
ketika menyusup ke dalam vagina benda itu menyentuh klitorisku juga
menjilati dinding kemaluanku, kontan akupun makin menggelinjang tak
karuan. Ketiga orang lainnya tertawa-tawa dan berkomentar jorok
melihat reaksiku, mereka pun makin bersemangat mengerjaiku.
Payudaraku sedikit nyeri ketika dipencet-pencet si mata besar dengan
gemasnya. Si gondrong yang kini sudah membuka bajunya berlutut di
sebelahku memegangi penisnya untuk disodorkan padaku.
“Diisep Neng, enak loh !” suruhnya sambil menggosokkan kepala penis
itu ke wajah dan bibirku.
Walau sebenarnya geli dengan kemaluannya yang hitam dengan kepala
kemerahan itu, aku tertantang juga untuk mencobanya, maka kugenggam
batang itu dengan tangan kiri dan kuawali dengan menyapukan lidah
pada kepala penisnya. Dia langsung mendesah keenakan karenanya.
Entah kekuatan apa yang membuatku demikian liar, padahal sebelumnya
dekat-dekat orang seperti mereka saja aku enggan, apalagi untuk ML.
Awalnya aku sangat tidak nyaman dengan aroma penisnya, namun mau
tidak mau aku harus membiasakan diriku. Aku berusaha tidak
menghirupnya dan kuemuti dalam mulut sambil sesekali mengocok dengan
tangan, kesempatan itulah yang kupakai untuk mengambil udara segar.
Sementara rasa geli pada vaginaku kian menjalari tubuhku, rasanya
seperti mau pipis. Tubuhku menggelinjang, aku tidak tahan lagi dan
mencapai orgasme pertamaku, dari vaginaku keluarlah lendir yang
dijilatinya dengan lahap.
“Eh-eh, gantian dong, saya juga mau ngerasain pejunya si Neng !”
kata si Acep
Acep menggantikan posisi si Gungun, dia menjilati sisa-sisa cairan
kemaluanku. Jilatannya tidak selihai Gungun, maklum karena dia masih
hijau, baru pertama kalinya menikmati wanita. Dia lebih suka
menyentil-nyentil klitorisku dengan lidahnya yang memberi rasa geli.
Sekarang Gungun berlutut di sebelah ku dan meraih tanganku
digenggamkan ke penisnya. Keras dan hangat, begitulah kesan pertama
begitu jari-jariku melingkari batang itu. Mulailah aku mengocok
penis itu dengan tangan kiriku dan yang kanan memegangi milik si
gondrong sambil mengoralnya. Si mata besar masih menyusu dengan
nikmatnya pada payudaraku, sepertinya dia ketagihan dengan
payudaraku yang montok itu.
Acep tidak lama menjilati vaginaku, posisinya digantikan oleh si
mata besar yang tidak sabar menunggu giliran, karena paling kecil
diapun mengalah pada temannya. Si mata besar mencium vaginaku dengan
bernafsu dan terkesan terburu-buru. Aku dibuatnya semakin bergairah
melayani kedua penis yang menodongku, secara bergantian kukocok dan
kuoral menirukan apa yang pernah kulihat di film porno di rumah
temanku. Rasa jijikku pada penis hitam yang kepalanya seperti jamur
itu perlahan-lahan sirna. Gungun mengungkapkan ekspresi nikmatnya
dengan meremas payudaraku yang digenggamnya, sedangkan si gondrong
sambil menekan-nekan penisnya ke mulutku ketika gilirannya dioral
seolah tidak rela melepaskannya. Ditambah lagi Acep sedang asyik
memainkan putingku, benda mungil berwarna merah kecoklatan itu dia
pilin-pilin dengan jarinya sesekali juga dijilati. Si mata besar pun
tidak lama-lama menjilati vaginaku, dia lalu bangkit berlutut
diantara kedua pahaku dan menempelkan kepala penisnya di bibir
vaginaku.
Kuhentikan sejenak aktivitas terhadap dua penis dalam genggamanku
untuk memperhatikan penis si mata besar mendesak memasuki vaginaku.
Kutahan nafasku sambil menggigit bibir, proses penetrasi itu
kuresapi dalam-dalam. Setelah masuk sebagian dia menghentakkan
pinggulnya sehingga penis itu menghujam sampai mentok, spontan aku
pun menjerit kecil dan merapatkan pahaku.
“Waaah…enak pisan, sempit oi !” katanya setelah berhasil membobol
vaginaku.
Tanpa buang waktu lagi dia menggenjotku, penis itu keluar-masuk
vaginaku. Aku meneruskan kocokanku terhadap si gondrong dan Gungun,
rasa nikmat yang menjalari tubuhku semakin membuatku bersemangat
mengocok kedua penis itu. Si Acep juga makin seru mengisapi
payudaraku sampai basah kuyup oleh ludahnya juga oleh ludah orang-
orang yang tadi mengisapnya. Tak lama kemudian, ketika aku sedang
mengulum penis Gungun, sesuatu yang basah dan hangat menerpa wajah
dan leherku dari samping. Ow, ternyata si gondrong sudah keluar,
kulepas sejenak penis Gungun dari mulutku, semprotan berikutnya
makin membasahi wajahku begitu aku menengok menghadap todongan benda
itu.
“Uhh…isepin yah Neng !” lenguhnya seraya menjejali mulutku dengan
penisnya.
Dalam mulutku penis itu masih menyemburkan isinya dan itu kuhisapi
tanpa memikirkan rasa jijik lagi walaupun baunya yang agak
menyengat, mungkin karena saking terangsangnya sampai tidak sadar
aku jadi seliar itu. Sampai sejauh ini ponselku yang kutaruh di meja
sana sudah berdering sekali dan dua SMS sudah masuk, kubiarkan saja
karena tanggung. Aku dapat merasakan penis si gondrong menyusut
dalam mulutku dan pemiliknya terengah-engah.
“Yee, payah lu, belum nojos udah ngecrot !” ledek Gungun pada
temannya.
“Enak pisan sih anjrit, sampe ga tahan !” balas si gondrong
Sekarang si mata besar mengajak ganti posisi, mereka lalu
membalikkan tubuhku hingga telungkup. Akhirnya ganti posisi juga
pikirku, aku sudah gerah daritadi berbaring telentang sambil
dikerjai mereka, punggungku panas sekali rasanya dan benar saja
keringatku sudah membasahi sprei dibawahku tadi. Perutku diangkat
dari belakang hingga posisiku seperti merangkak. Kutengokkan
kepalaku ke belakang dan kulihat si mata besar kembali memasukkan
penisnya ke vaginaku.
Tusukan-tusukan kembali kurasakan, kali ini lebih cepat dan dalam.
Di depanku si Acep berlutut minta giliran merasakan mulutku. Akupun
membuka mulut mempersilakan batang itu memasukinya. Kuemut benda itu
tanpa menghiraukan lagi baunya, tidak terlalu besar tapi cukup
keras, namanya juga barang ABG. Aku melirik ke atas melihat anak itu
merem-melek menikmati kulumanku, lucu juga reaksinya yang amatiran
itu.
“Gimana Cep, asyik ga diemot kontolnya ?”
“Si Acep udah gede euy !”
Celoteh-celoteh yang ditujukan pada si Acep itulah yang sempat
kudengar waktu itu. Sambil terus mengoral Acep, akupun selalu
menggoyang pantatku mengikuti genjotan si mata besar, terus terang
rasanya enak sekali seperti diaduk-aduk. Payudaraku yang menggelayut
sedang dipegang-pegang si gondrong yang sedang mengistirahatkan
penisnya. Tangan kananku menggenggam penis si Gungun dan mengocoknya
pelan.
“Pelan-pelan aja kocoknya Neng, ga pengen cepet-cepet ngecrot sih !”
demikian katanya.
Sibuk sekali aku jadinya dan udara sekitarku serasa makin panas
karena dikerubuti empat orang ini, mana badannya lumayan bau lagi.
Hanya birahi yang meninggilah yang mengalihkanku dari semua itu.
Sekitar lima belas menit menggenjotku, si mata besar sepertinya mau
keluar, kelihatan dari sodokannya yang makin cepat.
“Annjjiiinngg…aaahhh !” lenguhnya panjang diiringi semprotan
spermanya di dalam vaginaku yang tak bisa kutolak.
Sialan juga nih orang pikirku, sembarangan main buang di dalam, ga
minta ijin atau omong dulu kek padahal gak pake kondom, untung waktu
itu aku tidak dalam masa subur, kalo iya kan amit-amit harus hamil
sama orang-orang ginian. Begitu penisnya lepas, aku merasa cairan
hangat meleleh membasahi paha atasku. Gungun langsung mengambil alih
posisinya menusukkan penisnya padaku seolah dapat membaca apa yang
ada dalam hati kecilku yang masih ingin digenjot karena belum
mencapai klimaks alias tanggung. Si Acep yang masih kuoral nampaknya
makin menikmati saja, tanpa sadar dia memaju-mundurkan pinggulnya
seakan sedang menyetubuhi mulutku. Dia mengeluarkan spermanya dalam
mulutku saat Gungun menggenjotku dengan ganasnya sehingga aku tidak
bisa konsentrasi mengisap penis itu, maka cairan itupun meleleh
sebagian di pinggir bibirku.
Setelah Acep melepas penisnya yang telah kubersihkan dari mulutku,
lengan Gungun mengangkat dadaku sehingga kini aku berlutut, Gungun
tidak berhenti menggenjotku sambil menopang tubuhku dengan lengannya
yang melingkari perutku. Si mata besar sambil mengistirahatkan
senjatanya menggerayangi payudaraku yang membusung dalam posisi itu.
Si gondrong memintaku kembali mengoral penisnya yang sudah mulai
bangkit lagi, sepertinya dia suka dengan pelayanan mulutku.
Kugenggam penisnya yang disodorkan padaku, ih…masih lengket-lengket
bekas spermanya tadi, sedikit jijik aku dibuatnya namun juga tak
kuasa menolaknya. Serta merta kumasukkan benda itu kemulutku,
kujilati sisa-sisa spermanya hingga bersih. Di dalam mulutku benda
itu semakin mengeras dan bergetar.
“Pelan-pelan aja Neng, buat persiapan ngejos di bawah nanti !”
katanya.
Tak lama kemudian tubuhku kembali mengejang, seperti ada yang mau
meledak di bawah sana. Aku melepas kulumanku untuk melepaskan
desahan yang tak bisa kutahan lagi, lendirku pun kembali keluar
bersamaan dengan tubuhku. Orgasme kali ini terasa lebih panjang,
Gungun masih menggenjot sampai 2-3 menit kemudian hingga akhirnya
diapun menghujam penisnya lebih dalam dan mempererat pelukannya. Dia
menggeram dan memuntahkan spermanya ke dalam vaginaku, hangat
kurasakan di dalam sana. Kami break sebentar sekitar lima menitan.
Saat itu Gungun dan Acep memperkenalkan dua orang itu kepadaku, yang
gondrong namanya Amad dan yang matanya melotot itu namanya Ifud,
memang benar keduanya adalah teman mereka yang tinggal di pemukiman
penduduk tak jauh dari sini.
Gungun juga bercerita bagaimana mereka bisa masuk sini. Ternyata
mereka iseng mengintipku waktu keluar dari kamar mandi tanpa busana
tadi lewat lubang angin diatas pintu kamarku dengan memakai bangku
tinggi. Tadinya sih hanya sekedar mau ngintip, tapi tak lama
kemudian waktu Amad dan Ifud mau pulang mereka ingin ngintip yang
terakhir kali dan menemukanku telah terlelap hanya dengan memakai
celana dalam dan selimut yang tersingkap. Situasi kost yang sedang
sepi dan nafsu setan mendorong mereka berencana memperkosaku. Maka
setelah yakin aku benar-benar tidur, Gungun mencongkel kaca nako
yang tepat di sebelah pintu lalu meraih grendel sehingga mereka bisa
masuk dan terjadilah seperti ini. Aku sebenarnya marah mendengar
semua itu, lancang sekali mereka berbuat begitu, ini kan pemerkosaan
namanya, tapi mau marah gimana juga toh aku menikmatinya, salahku
juga berpakaian mencolok di depan mereka. Aku menatapi mereka satu-
persatu yang memandangi tubuh telanjangku dengan tatapan kesal
sekaligus berhasrat. Tidak tau mau omong apa deh, soalnya perasaanku
benar-benar campur aduk sih.
“Bentar yah, mau cuci muka dulu” kataku sambil bangkit dan
melangkahkan kakiku dengan gontai ke kamar mandi.
Di sana aku mencuci mukaku dari cipratan sperma agar aroma yang
menyengat itu hilang. Keluar dari kamar mandi, kembali aku duduk di
kasur dikelilingi mereka. Sudah tanggung untuk dihentikan, jadi
kuikuti saja deh permainan mereka. Kali ini si Acep yang masih hijau
itu minta diajari cipokan.
“Boleh yah Neng, soalnya saya pengen ngerasain dicium cewek itu
kayak apa sih, apalagi cewek cakep kaya Neng” pintanya, mukaku
memerah karena malu dan juga tersanjung akan pujiannya.
“Cium-cium-cium !” teman-temannya yang lain menyorakinya
“Sssttt…jangan keras-keras dong, ada yang tau gimana !” kataku
memperingatkan sehingga mereka mengurangi volumenya.
Aku memejamkan mataku seperti kebiasaanku berciuman menunggu Acep
menciumku, pertama-tama aku merasa bahuku dipegang lalu menempellah
bibirnya dengan bibirku. Teknik ciumannya benar-benar amatiran, kaku
dan membosankansekali, sehingga aku yang berinisiatif memainkan
lidahku baru dia mulai bisa membalasnya, aku melingkarkan tangan
memeluknya dan percumbuan kami makin panas.
Selama percumbuan itu juga aku merasakan tangan-tangan lain
berkeliaran di sekujur tubuhku, mengelusi punggung, paha, payudara,
dll. Tidak jelas siapa yang melakukan karena aku memejamkan mata,
yang jelas darahku mulai bergolak lagi karena belaian ditambah
kometar-komentar jorok mereka. Ada seseorang memelukku dari belakang
dan menjilati leherku, oohh…benar-benar sensasional, demikian
rasanya pertama kali dikeroyok. Lama juga aku berciuman sambil
digerayangi, nafasku sampai naik-turun ga karuan karenanya. Setelah
itu si Amad gondrong meminta jatahnya, dia berbaring telentang dan
menyuruhku membenamkan penisnya pada vaginaku. Akupun naik ke atas
penisnya, benda itu kugenggam dan kueluskan pada kemaluanku dulu
supaya nafsu si Amad mendidih. Kemudian baru aku mulai
menjebloskannya perlahan-lahan.
“Ahhh…eeegghh !” desahku saat memasukkan penis itu, aku memejamkan
mata dengan bibir membuka.
Setelah terasa mentok, akupun perlahan menaik-turunkan tubuhku. Amad
juga mendesah kenikmatan karena penisnya dihimpit dinding vaginaku.
Gerak naik-turunku semakin cepat sehingga payudaraku ikut bergoncang-
goncang. Dengan aku yang memegang kendali, si Amad kelihatan
kelabakan, dia mendesah-desah gak karuan. Kelihatan sekali
pengalaman seksnya masih dibawahku. Dia julurkan tangannya meraih
payudara kiriku, sepertinya dia gemas melihat payudaraku yang juga
naik-turun itu. Dua orang lainnya duduk menonton liveshow kami,
Gungun sebelumnya telah turun ke bawah untuk memeriksa keadaan dan
berjaga-jaga di pos jaga dekat gerbang. Tak lama kemudian si Ifud
mendekatiku dan berdiri di sebelah menyodorkan penisnya yang
langsung kugenggam. Jadilah aku bergaya woman on top sambil
mengocoki penis Ifud. Amad, ternyata tidaklah setangguh yang kukira,
tampang boleh sangar kaya preman, tapi dia orgasme dalam waktu yang
relatif singkat, isi penisnya tertumpah dalam vaginaku. Aku paling
senang ML di saat safe seperti ini, bebas dari rasa was-was walau
pasanganku buang di dalam. Tanpa malu-malu lagi, kupanggil si Acep
agar menuntaskan birahiku. Aku duduk di kasur membuka kedua pahaku
seakan mempersilakan anak itu menusuknya, aku harus membimbing
penisnya memasuki vaginaku karena ini pertama kalinya bagi dia.
Setelah kepalanya menekan bibir vaginaku, kusuruh dia mendorong
pantatnya.
“Ohhh…yess !” desahku ketika penis perjaka itu menghujam ke dalam.
Selanjutnya yang kurasakan adalah gesekan-gesekan antara penisnya
dengan dinding kemaluanku. Acep pun semakin menikmati persetubuhan
pertamanya itu dengan makin cepat menusuk-nusukkan penisnya hingga
akhirnya kitapun orgasme bersama atas bimbinganku tentang mengatur
tempo genjotan. Sisa waktu sekitar sejam lebih kedepan aku terus
disetubuhi mereka baik secara bergilir maupun barengan. Hingga
akhirnya kami semua pun kelelahan bersimbah peluh. Wajahku sekali
lagi belepotan sperma karena salah seorang membuangnya di sana
ketika orgasme. Sejak itu mereka sering memintaku melakukan hal yang
sama lagi, terutama Acep dan Gungun. Terkadang memintanya agak
memaksa pula. Memang sih awal-awalnya aku cukup menikmati, tapi lama-
lama kesal juga karena mereka makin gak tau diri, misalnya pernah
satu malam Gungun mengetuk pintu minta jatah lagi, sehingga
mengganggu tidurku.
Jumat, 30 Oktober 2009
LIburan ke vila ngentot sama tante [SB]
Pertama-tama perkenalkan saya Andy (bukan nama sebenarnya). Saat ini saya menginjak 17tahun, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan sangat terawat walaupun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku berangkat dari kota S menuju kota M.
Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Setelah saling tanya-menanya kabar, aku pun diantarkan ke kamar oleh pembantu tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, dan usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membuatku tak berkedip saat mengikutinya dari belakang adalah bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berjalan, seeakan menantangku untuk meremas nya.
Setelah sampai dikamar aku tertegun sejenak, mengamati apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.
"Den, ini kamarnya."
"Eh iya Bi." jawabku setengah tergagap.
Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.
"Den, nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Bibi aja ya?" ucapnya sambil berlalu.
"Eh, tunggu Bi, Bibi bisa mijit kan? badanku pegel nih." Kataku setengah memelas.
"Kalau sekedar mijit sih bisa den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?"
"Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?"
"Wah kesempatan nih, aku bisa merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku." ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.
"Den, coba Aden tiduran gih." suruh Bi Sum.
"Eh, iya Bi." lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.
"Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?" tanyaku memecah keheningan.
Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya bisa diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.
"Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, pasti enak sekali." kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya "Adik" kecilku.
Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.
"Bi, dari tadi aku nggak melihat om susilo dan Dik rico sih."
"Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan sekarang pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L." tuturnya.
"Oo.., jadi tante sendirian dong Bi?" tanyaku
"Iya den, kadang Bibi juga kasihan melihat nyonya, nggak ada yang nemenin." kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.
"Ada apa den?" tanyanya polos.
"Anu Bi, itu yang pegel." jawabku sekenanya.
"Mm.. Bibi udah punya suami?" kataku lagi.
"Anu den, suami Bibi sudah meninggal 6bulan yang lalu." jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku berkata.
"Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?"
"Bibi titipkan pada adik Bibi" katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.
"Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?" tanyaku lagi.
"Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?" ucapnya.
"Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi masih keliatan cantik kok." pujiku, sambil mengamati wajahnya yang bersemu merah.
"Ah.., den andy ini bisa saja" katanya, sambil tersipu malu.
"Eh bener loh Bi, Bibi masih cantik, udah gitu seksi lagi, pasti Bibi rajin merawat tubuh." Godaku lagi.
"Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji terus."
Lalu aku bangkit, dan duduk berhadapan dengan dia.
"Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, sudah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini masih indah loh.." kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Secara reflek dia langsung menutupinya, dan menundukkan wajahnya.
"Aden ini bisa saja, orang ini sudah kendur kok dibilang bagus." katanya polos.
Seperti mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.
"Bibi ini aneh, orang payudara Bibi masih inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri" kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.
"Jangan ah den, Bibi malu."
"Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, dan ngaca." Lalu aku mulai membantu membuka baju kebaya yang dikenakannya, sepertinya ia pasrah saja. Setelah baju kebaya nya lepas, dan ia hanya memakai Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.
"Jangan den, Bibi malu nanti nyonya tahu bagaimana?" tanyanya polos.
"Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok" Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, dan wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal dan padat berisi, melihat itu "Adik" kecilku langsung mengacung keras sekali.
Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya bisa mendesah dan matanya "Merem-melek".
"Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den"
Aku tak menggubris pertanyaannya malahan aku meningkatkan seranganku. Kini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, dan Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil menarik jarik yang dipakainya.
"Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den"
Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku dan ciumanku terus turun keperutnya, dan dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang dipakainya, aku terdiam sesaat seraya mengamati gundukan yang ada dibawah perutnya itu.
"Den, punya aden besar sekali" katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.
"Bi, jilatin ya.. punya Andy." Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.
"Mmhh.. ohh.. Bi terus, kulum penisku Bi.., tak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, dan rasanya ada yang akan keluar di ujung penisku.
"Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh" jeritku panjang dan tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.
Aku pun mulai pindah posisi, kini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum sudah tidak sabar, ia menekan kepalaku agar mulai menjilati memeknya dan sluurpp.. memek Bi Sum kujilati sampai kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, dan gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.
"Ohh.. den.. teruuss den jilat teruss.. memek Bibi den.. mmhh" katanya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh." Bi Sum menggelinjang hebat dan serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum masih menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.
Aku pun mulai menciumi telinganya, dan dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang sudah sangat horny langsung berkata, "Bi aku masukkan sekarang ya..". ia hanya bisa mengangguk pelan.
aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang sudah sangat becek. Bless.. separuh penisku amblas kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun amblas kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.
"Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh." desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny dan kupercepat sodokkanku di memeknya.
"Oh.. Bii memek kamu sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh.."
"Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den.."
aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.
"Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh.."
"Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr.."
Lalu beberapa detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut hebat dan, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.
"Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak" kataku sambil mencupang buah dadanya.
"Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa."
akhirnya kami tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dia mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pembantu tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang tentunya lebih menghebohkan, karena tante saya ini orang yang hipersex, jadi nafsunya sangat besar, dan meledak-ledak.
Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Setelah saling tanya-menanya kabar, aku pun diantarkan ke kamar oleh pembantu tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, dan usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membuatku tak berkedip saat mengikutinya dari belakang adalah bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berjalan, seeakan menantangku untuk meremas nya.
Setelah sampai dikamar aku tertegun sejenak, mengamati apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.
"Den, ini kamarnya."
"Eh iya Bi." jawabku setengah tergagap.
Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.
"Den, nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Bibi aja ya?" ucapnya sambil berlalu.
"Eh, tunggu Bi, Bibi bisa mijit kan? badanku pegel nih." Kataku setengah memelas.
"Kalau sekedar mijit sih bisa den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?"
"Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?"
"Wah kesempatan nih, aku bisa merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku." ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.
"Den, coba Aden tiduran gih." suruh Bi Sum.
"Eh, iya Bi." lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.
"Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?" tanyaku memecah keheningan.
Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya bisa diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.
"Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, pasti enak sekali." kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya "Adik" kecilku.
Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.
"Bi, dari tadi aku nggak melihat om susilo dan Dik rico sih."
"Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan sekarang pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L." tuturnya.
"Oo.., jadi tante sendirian dong Bi?" tanyaku
"Iya den, kadang Bibi juga kasihan melihat nyonya, nggak ada yang nemenin." kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.
"Ada apa den?" tanyanya polos.
"Anu Bi, itu yang pegel." jawabku sekenanya.
"Mm.. Bibi udah punya suami?" kataku lagi.
"Anu den, suami Bibi sudah meninggal 6bulan yang lalu." jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku berkata.
"Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?"
"Bibi titipkan pada adik Bibi" katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.
"Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?" tanyaku lagi.
"Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?" ucapnya.
"Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi masih keliatan cantik kok." pujiku, sambil mengamati wajahnya yang bersemu merah.
"Ah.., den andy ini bisa saja" katanya, sambil tersipu malu.
"Eh bener loh Bi, Bibi masih cantik, udah gitu seksi lagi, pasti Bibi rajin merawat tubuh." Godaku lagi.
"Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji terus."
Lalu aku bangkit, dan duduk berhadapan dengan dia.
"Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, sudah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini masih indah loh.." kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Secara reflek dia langsung menutupinya, dan menundukkan wajahnya.
"Aden ini bisa saja, orang ini sudah kendur kok dibilang bagus." katanya polos.
Seperti mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.
"Bibi ini aneh, orang payudara Bibi masih inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri" kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.
"Jangan ah den, Bibi malu."
"Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, dan ngaca." Lalu aku mulai membantu membuka baju kebaya yang dikenakannya, sepertinya ia pasrah saja. Setelah baju kebaya nya lepas, dan ia hanya memakai Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.
"Jangan den, Bibi malu nanti nyonya tahu bagaimana?" tanyanya polos.
"Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok" Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, dan wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal dan padat berisi, melihat itu "Adik" kecilku langsung mengacung keras sekali.
Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya bisa mendesah dan matanya "Merem-melek".
"Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den"
Aku tak menggubris pertanyaannya malahan aku meningkatkan seranganku. Kini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, dan Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil menarik jarik yang dipakainya.
"Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den"
Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku dan ciumanku terus turun keperutnya, dan dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang dipakainya, aku terdiam sesaat seraya mengamati gundukan yang ada dibawah perutnya itu.
"Den, punya aden besar sekali" katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.
"Bi, jilatin ya.. punya Andy." Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.
"Mmhh.. ohh.. Bi terus, kulum penisku Bi.., tak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, dan rasanya ada yang akan keluar di ujung penisku.
"Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh" jeritku panjang dan tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.
Aku pun mulai pindah posisi, kini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum sudah tidak sabar, ia menekan kepalaku agar mulai menjilati memeknya dan sluurpp.. memek Bi Sum kujilati sampai kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, dan gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.
"Ohh.. den.. teruuss den jilat teruss.. memek Bibi den.. mmhh" katanya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh." Bi Sum menggelinjang hebat dan serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum masih menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.
Aku pun mulai menciumi telinganya, dan dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang sudah sangat horny langsung berkata, "Bi aku masukkan sekarang ya..". ia hanya bisa mengangguk pelan.
aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang sudah sangat becek. Bless.. separuh penisku amblas kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun amblas kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.
"Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh." desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny dan kupercepat sodokkanku di memeknya.
"Oh.. Bii memek kamu sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh.."
"Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den.."
aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.
"Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh.."
"Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr.."
Lalu beberapa detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut hebat dan, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.
"Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak" kataku sambil mencupang buah dadanya.
"Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa."
akhirnya kami tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dia mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pembantu tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang tentunya lebih menghebohkan, karena tante saya ini orang yang hipersex, jadi nafsunya sangat besar, dan meledak-ledak.
Aku,Mama,dan Tante Rina [SD]
Namaku Roy, 32 tahun. Saat ini aku tinggal di Bandung. Banyak yang bilang aku ganteng. Kisah yang akan aku tulis ini adalah kisah nyata dari pengalaman sex aku dengan mama dan tante aku.
Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian. Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papa aku.
Waktu itu hari aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Rina. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.
Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.
Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama memek mama yang aku fokuskan. Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.
Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.
"Roy..!" panggil mama.
"Ya, Ma..." sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.
"Ada apa, Ma?" tanya aku.
"Pijitin badan mama, Roy. Pegal rasanya..." kata mama sambil tengkurap.
"Iya, Ma..." jawab aku.
Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama, "Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih..." tanya aku.
"Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?" tanya mama.
"Seluruh badan mama," jawab aku.
"Ya sudah, mama buka baju saja," kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.
"Ayo lanjutkan, Roy!" kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.
"Mama tidak malu buka baju depan Roy?" tanya aku.
"Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah," jawab mama sambil memejamkan mata.
Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai "memijit" paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.
"Kok dilewat sih, Roy?" protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.
"Mm.. Roy takut mama marah..." jawab aku.
"Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!" pinta mama.
Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yang bulat dan padat. Kontol aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.
Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan memek mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan memek mama. Mama tetap diam. Terasa memek mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan memeknya. Itu perkiraan aku.
Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memek mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.
"Roy, kamu ngapain?" tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.
"Maaf, Ma..." kataku tertunduk tidak berani memandang mata mama.
"Roy tidak tahan menahan nafsu..." kataku lagi.
"Nafsu apa?" kata mama dengan nada lembut.
"Sini berbaring dekat mama," kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tidak mengerti.
"Sini berbaring Roy," ujar mama lagi.
"Tutup dulu pintu kamar," kata mama.
"Ya, Ma..." kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.
Mama menatapku sambil membelai rambut aku.
"Kenapa bernafsu dengan mama, Roy," tanya mama lembut.
"Mama marahkah?" tanya aku.
"Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur," ujar mama.
"Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma..." kataku. Mama tersenyum.
"Berarti anak mama sudah mulai dewasa," kata mama.
"Kamu benar-benar mau sayang?" tanya mama.
"Maksud mama?" tanya aku.
"Dua jam lagi Papa kamu pulang..." hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba kontol aku dari luar celana.
Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.
"Buka pakaian kamu, Roy," kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.
Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.
"Kontol kamu besar, Roy..." kata mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.
"Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?" tanya mama.
Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, "Belum pernah, Ma.. Mmhh..". Mama tersenyum, entah apa artinya.
Lalu mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati kontol aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.
"Enak sayang?" tanya mama sambil menengadah menatapku.
"Iya, Ma.. Enak sekali," jawabku dengan suara tertahan.
"Sini sayang. Kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan..." ujar mama sambil menarik tanganku.
Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memeknya. Tangan mama membimbing kontolku ke lubang memeknya.
"Ayo, Roy.. Masukkan..." ujar mama sambil terus memandang wajahku.
Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan kontolku di memek mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.
"Enak, Roy?" tanya mama.
"Sangat enak, Ma..." jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.
"Kenapa mama mau melakukan ini dengan Roy?" tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.
"Karena mama sayang kamu, Roy..." jawab mama.
"Sangat sayang..." lanjutnya.
"Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh..." lanjutnya lagi.
Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi mama.
"Roy juga sangat sayang mama..." ujarku.
"Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh..." desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.
"Mama mau keluar..." desah mama lagi.
Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..
"Ohh.. Enak sayangg..." desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.
Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..
"Ma, Roy gak tahann..." ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memek mama.
"Keluarin sayang..." ujar mama sambil meremas-remas pantatku.
"Keluarin di dalam aja sayang biar enak..." bisik mama mesra.
Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memek mama.
"Mmhh..." desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.
"Terima kasih ya, Ma..." ujar aku sambil mencium bibir mama.
"Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!" kata mama.
Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.
Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.
Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,"ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?" tanya tante Rina.
"Hayo, ngapain..?" tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.
"Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok..." jawabku.
"Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam," tanyanya lagi.
"Curigaan amat sih, tante?" kataku sambil tersenyum.
"Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu..." ujar tante Rina sambil tersenyum.
"Kayak suara yang lagi enak..." ujar tante Rina lagi.
"Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah..." ujarku sambil bangkit.
"Maaf dong, Roy. Tante becanda kok..." ujar tante Rina.
"Kamu mau kemana?" tanya tante Rina.
"Mau tidur," jawabku pendek.
"Temenein tante dong, Roy," pinta tante.
Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.
"Ada apa sih tante?" tanyaku.
"Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja," jawab tante Rina.
"Kamu sudah punya pacar, Roy?" tanya tante Rina.
"Belum tante. Kenapa?" aku balik bertanya.
"Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?" tanya tante lagi.
"Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau," jawabku.
"Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?" tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.
Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.
"Ni tante lagi horny kayaknya..." pikir aku.
Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.
"Mmhh.."
Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. Kontolku langsung tegang.
"Roy, pindah ke kamar tante, yuk?" pinta tante Rina.
"Iya tante..." jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina.
Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.
"Ayo Roy, tante sudah gak tahan..." ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.
Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.
"Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh..." desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.
Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. Memek tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek tante Rina terutama bagian kelentitnya.
"Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang..." desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.
Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memeknya.
"Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh..." desah tante Rina.
Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.
"Isep dong kontol Roy, tante..." pintaku.
Tante Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari mama.
"Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante..." kataku.
Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.
"Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan..." bisik tante Rina.
Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. Kontolku keluar masuk memek tante Rina.
"Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan..." kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.
"Ah, biasa saja, tante..." ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.
Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.
"Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh..." desahnya.
Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.
"Tente udah keluar, sayang..." bisik tante Rina.
"Kamu hebat.. Kuat..." ujar tante Rina.
"Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu..." ujarnya lagi.
Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.
"Roy mau keluar, Tante..." kataku.
"Jangan keluarkan di dalam, sayang..." pinta tante Rina.
"Cabut dulu..." ujar tante Rina.
"Sini tante isepin..." katanya lagi.
Aku cabut kontolku dari memeknya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok kontolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Rina.
Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.
"Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante," ujar tante Rina.
"Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?" tanya tante sambil memeluk aku.
"Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih," kataku sambil mengecup bibirnya.
"Terima kasih, sayang," ujar tante Rina.
"Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur," kataku.
"Iya, sana tidur," katanya sambil meremas kontolku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.
Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.
"Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?" tanya mama mengejutkanku.
Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,"Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?" tanya mama. Plong rasanya perasaanku mendengarnya.
"Iya, Ma.. Roy suka tante Rina," jawabku.
"Baiklah, mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian..." ujar mama.
"Kalian hati-hatilah..." ujar mama lagi.
"Kenapa mama tidak marah," tanya aku.
"Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab," ujar mama.
"Terima kasih ya, Ma..." kataku.
"Roy sayang mama," kataku lagi.
"Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?" tanya mama.
"Bantu apa, Ma?" aku balik tanya.
"Mama ingin..." ujar mama sambil mengusap kontolku.
"Roy akan lakukan apapun buat mama..." kataku. Mama tersenyum.
"Mama tunggu di kamar ya?" kata mama. Aku mengangguk..
Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.
Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali. Itulah pengalaman kisah nyata aku. Aku tuliskan dengan sebenarnya.
Cerita ini dimulai ketika aku berusia 20 tahun. Saat itu tante Rina datang dan menginap selama beberapa hari di rumah karena suaminya sedang pergi keluar kota. Dia merasa sepi dan takut tinggal di rumahnya sendirian. Tante Rina berusia 32 tahun. Penampilannya biasa saja. Tinggi badan 160 cm. Ramping. Tapi aku suka bodynya. Buah dada 36B, dan pantatnya besar bulat. Aku suka lihat tante Rina kalau sudah memakai celana panjang ketat sehingga pantatnya sangat membentuk, merangsang. Tante Rina adalah adik kandung Papa aku.
Waktu itu hari aku tidak masuk kuliah. Aku diam di rumah bersama mama dan tante Rina. Pagi itu, jam 10, kulihat mama baru selesai mandi. Mama keluar dari kamar mandi memakai handuk menutupi dada dan setengah pahanya yang putih mulus. Mama berusia 38 tahun. Sangat cantik.
Saat itu entah secara tidak sengaja aku melihat mama membetulkan lilitan handuknya sebelum masuk kamar. Terlihat buah dada mama walau tidak terlalu besar tapi masih bagus bentuknya. Yang terutama jadi perhatian aku adalah memek mama yang dihiasi bulu hitam tidak terlalu lebat berbentuk segitiga rapi. Mungkin karena mama rajin merawatnya.
Mama sepertinya tidak sadar kalau aku sedang memperhatikannya. Mama langsung masuk kamar. Hati berdebar dan terbayang terus pemandangan tubuh mama tadi. Aku dekati pintu, lalu aku intip dari lubang kunci. Terlihat mama sedang membuka lilitan handuknya lalu mengeringkan rambutnya dengan handuk tersebut. Terlihat tubuh mama sangat menggairahkan. Terutama memek mama yang aku fokuskan. Secara otomatis tangan aku meraba kontol dari luar celana, lalu meremasnya pelan-pelan sambil menikmati keindahan tubuh merangsang mama. Karena sudah tak tahan lagi, aku segera ke kamar mandi dan onani sambil membayangkan menyetubuhi mama. Sampai akhirnya.. Crot! Crot! Crot! Aku orgasme.
Sore harinya, waktu aku sedang tiduran sambil membaca majalah, tiba-tiba terdengar suara mama memanggil aku.
"Roy..!" panggil mama.
"Ya, Ma..." sahut aku sambil bergegas ke kamar mama.
"Ada apa, Ma?" tanya aku.
"Pijitin badan mama, Roy. Pegal rasanya..." kata mama sambil tengkurap.
"Iya, Ma..." jawab aku.
Waktu itu mama memakai daster. Aku mulai memijit kaki mama dari betis. Terus sampai naik ke paha. Mama tetap diam merasakan pijitan aku. Karena daster mama agak mengganggu pijitan, maka aku bertanya pada mama, "Ma, dasternya naikin ya? mengganggu nih..." tanya aku.
"Emang kamu mau mijitan apa aja, Roy?" tanya mama.
"Seluruh badan mama," jawab aku.
"Ya sudah, mama buka baju saja," kata mama sambil bangkit, lalu melepas dasternya tanpa ragu.
"Ayo lanjutkan, Roy!" kata mama sambil kembali tengkurap. Darah aku berdesir melihat mama setengah telanjang di depan mata.
"Mama tidak malu buka baju depan Roy?" tanya aku.
"Malu kenapa? Kan anak kandung mama.. Biasa sajalah," jawab mama sambil memejamkan mata.
Aku berdebar. Tanganku mulai memijit paha mama. Sebetulnya bukan meimijit, istilah yang tepat adalah mengusap agak keras. Aku nikmati usapan tangan aku di paha mama sambil mata terus memandangi pantat mama yang memakai celana dalam merah. Setelah selesai "memijit" paha, karena masih ragu, aku tidak memijit pantat mama, tapi langsung naik memijit pinggang mama.
"Kok dilewat sih, Roy?" protes mama sambil menggoyangkan pantatnya.
"Mm.. Roy takut mama marah..." jawab aku.
"Marah kenapa? Kamu kan emang mama pinta mijitin.. Ayo teruskan!" pinta mama.
Karena sudah mendapat angin, aku mulai meraba dan agak meremas pantat mama dari luar celana dalamnya. Nyaman rasanya memijit dan meremas pantat mama yang bulat dan padat. Kontol aku sudah mulai mengeras. Mama tetap terpejam menikmati pijitan aku. Karena birahi aku sudah naik, aku sengaja memasukkan tangan aku ke celana dalam mama dan terus meremasnya. Mama tetap diam. Aku makin berani.
Jari tengah aku mulai menyusuri belahan pantat mama sampai ke belahan memek mama. Jari aku diam disana. Aku takut mama marah. Tapi mama tetap diam sambil memejamkan mata. Aku mulai menggerakan jari tengah aku di belahan memek mama. Mama tetap diam. Terasa memek mama mulai basah. Dan aku tahu kalau mama agak menggoyang-goyangkan pantatnya, mungkin mama merasa enak menikmati jari aku di belahan memeknya. Itu perkiraan aku.
Karena sudah basah, aku nekad masukkan jari aku ke lubang memek mama. Mama tetap memejamkan mata, tapi pantatnya mulai bergoyang agak cepat.
"Roy, kamu ngapain?" tanya mama sambil membalikkan badannya. Aku kaget dan takut mama marah.
"Maaf, Ma..." kataku tertunduk tidak berani memandang mata mama.
"Roy tidak tahan menahan nafsu..." kataku lagi.
"Nafsu apa?" kata mama dengan nada lembut.
"Sini berbaring dekat mama," kata mama sambil menggeserkan badannya. Aku diam tidak mengerti.
"Sini berbaring Roy," ujar mama lagi.
"Tutup dulu pintu kamar," kata mama.
"Ya, Ma..." kataku sambil berdiri dan segera menutup pintu. Kemudian aku berbaring di samping mama.
Mama menatapku sambil membelai rambut aku.
"Kenapa bernafsu dengan mama, Roy," tanya mama lembut.
"Mama marahkah?" tanya aku.
"Mama tidak marah, Roy.. Jawablah jujur," ujar mama.
"Melihat tubuh mama, Roy tidak tahu kenapa jadi pengen, Ma..." kataku. Mama tersenyum.
"Berarti anak mama sudah mulai dewasa," kata mama.
"Kamu benar-benar mau sayang?" tanya mama.
"Maksud mama?" tanya aku.
"Dua jam lagi Papa kamu pulang..." hanya itu yang keluar dari mulut mama sambil tangannya meraba kontol aku dari luar celana.
Aku kaget sekaligus senang. Mama mencium bibir aku, dan akupun segera membalasnya. Kami berciuman mesra sambil tangan kami saling meraba dan meremas.
"Buka pakaian kamu, Roy," kata mama. Aku menurut, dan segera melepas baju dan celana.
Mama juga melepas BH dan celana dalamnya. Mama duduk di tepi tempat tidur, sedangkan aku tetap berdiri.
"Kontol kamu besar, Roy..." kata mama sambil meraih kontol aku dan meremas serta mengocoknya. Enak rasanya.
"Kamu udah pernah maen dengan perempuan tidak, sayang?" tanya mama.
Sambil menikmati enaknya dikocok kontol aku menjawab, "Belum pernah, Ma.. Mmhh..". Mama tersenyum, entah apa artinya.
Lalu mama menarik pantat aku hingga kontol aku hampir mengenai wajahnya. Lalu mama mulai menjilati kontol aku mulai dari batang sampai ke kepalanya. Rasanya sangat nikmat. Lebih nikmat lagi ketika mama memasukkan kontolku ke mulutnya. Hisapan dan permainan lidah mama sangat pandai. Tanganku dengan keras memegang dan meremas rambut mama dengan keras karena merasakan kenikmatan yang amat sangat. Tiba-tiba mama menghentikan hisapannya, tapi tangannya tetap mengocok kontolku perlahan.
"Enak sayang?" tanya mama sambil menengadah menatapku.
"Iya, Ma.. Enak sekali," jawabku dengan suara tertahan.
"Sini sayang. Kontolmu udah besar dan tegang. Sekarang cepat masukkan..." ujar mama sambil menarik tanganku.
Mama lalu telentang di tempat tidur sambil membuka lebar pahanya. Tanpa ragu aku naiki tubuh mama. Aku arahkan kontolku ke lubang memeknya. Tangan mama membimbing kontolku ke lubang memeknya.
"Ayo, Roy.. Masukkan..." ujar mama sambil terus memandang wajahku.
Aku tekan kontolku. Lalu terasa kepala kontolku memasuki lubang yang basah, licin dan hangat. Lalu batang kontolku terasa memasuki sesuatu yang menjepit, yang entah bagaimana aku menjelaskan rasa nikmatnya.. Secara perlahan aku keluarmasukkan kontolku di memek mama. Aku cium bibir mama. Mamapun membalas ciuman aku sambil menggoyangkan pinggulnya mengimbangi goyangan aku.
"Enak, Roy?" tanya mama.
"Sangat enak, Ma..." jawabku sambil terus menyetubuhi mama. Setelah beberapa menit, aku hentikan gerakan kontol aku.
"Kenapa mama mau melakukan ini dengan Roy?" tanyaku. Sambil tersenyum, mata mama kelihatan berkaca-kaca.
"Karena mama sayang kamu, Roy..." jawab mama.
"Sangat sayang..." lanjutnya.
"Lagipula saat ini mama memang sedang ingin bersetubuh..." lanjutnya lagi.
Aku terdiam. Tak berapa lama aku kembali menggerakan kontol aku menyetubuhi mama.
"Roy juga sangat sayang mama..." ujarku.
"Ohh.. Roy.. Enakk.. Mmhh..." desah mama ketika aku menyetubuhinya makin keras.
"Mama mau keluar..." desah mama lagi.
Tak lama kurasakan tubuh mama mengejang lalu memeluk aku erat-erat. Goyangan pinggul mama makin keras. Lalu..
"Ohh.. Enak sayangg..." desah mama lagi ketika dia mencapai orgasme.
Aku terus menggenjot kontolku. Lama-lama kurasakan ada dorongan kuat yang akan keluar dari kontol aku. Rasanya sangat kuat. Aku makin keras menggenjot tubuh mama..
"Ma, Roy gak tahann..." ujarku sambil memeluk tubuh mama lalu menekan kontolku lebih dalam ke memek mama.
"Keluarin sayang..." ujar mama sambil meremas-remas pantatku.
"Keluarin di dalam aja sayang biar enak..." bisik mama mesra.
Akhirnya, crott.. Crott.. Crott.. Air maniku keluar di dalam memek mama.
"Mmhh..." desahku. Lalu tubuh kami tergolek lemas berdampingan.
"Terima kasih ya, Ma..." ujar aku sambil mencium bibir mama.
"Lekas berpakaian, Papa kamu sebentar lagi pulang!" kata mama.
Lalu kamipun segera berpakaian. Setengah jam kemudian Papa pulang. Mama dan aku bersikap seperti biasa dan terlihat normal.
Malam harinya, sekitar jam 11 malam, ketika mama dan Papa sudah tidur, aku dan tante Rina masih nonton TV. Tante Rina memakai kimono. Sesekali aku lihat paha mulusnya ketika kimononya tersingkap. Tapi tidak ada perasaan apa-apa. Karena sudah biasa melihat seperti itu.
Tiba-tiba tante Rina bertanya sesuatu yang mengejutkan aku,"ngapain kamu tadi sore lama-lama berduaan ama mama kamu di kamar?" tanya tante Rina.
"Hayo, ngapain..?" tanya tante Rina lagi sambil tersenyum.
"Tidak ada apa-apa. Aku mijitin mama, kok..." jawabku.
"Kok lama amat. Sampe lebih dari satu jam," tanyanya lagi.
"Curigaan amat sih, tante?" kataku sambil tersenyum.
"Tante hanya merasa aneh saja waktu tante denger ada suara-suara yang gimanaa gitu..." ujar tante Rina sambil tersenyum.
"Kayak suara yang lagi enak..." ujar tante Rina lagi.
"Udah ah.. Kok ngomongnya ngaco ah..." ujarku sambil bangkit.
"Maaf dong, Roy. Tante becanda kok..." ujar tante Rina.
"Kamu mau kemana?" tanya tante Rina.
"Mau tidur," jawabku pendek.
"Temenein tante dong, Roy," pinta tante.
Aku kembali duduk dikursi di samping tante Rina.
"Ada apa sih tante?" tanyaku.
"Tidak ada apa-apa kok. Hanya butuh temen ngobrol saja," jawab tante Rina.
"Kamu sudah punya pacar, Roy?" tanya tante Rina.
"Belum tante. Kenapa?" aku balik bertanya.
"Kamu tuh ganteng, tinggi. Tapi kenapa belum punya pacar?" tanya tante lagi.
"Banyak sih yang ngajak jalan, tapi aku tidak mau," jawabku.
"Apa kamu pernah kissing dengan perempuan, Roy?" tanya tante Rina pelan sambil wajahnya didekatkan ke wajahku.
Bibir kami hampir bersentuhan. Aku tak menjawab.
"Ni tante lagi horny kayaknya..." pikir aku.
Tanpa banyak kata, aku cium bibir tante Rina. Tante Rinapun langsung membalas ciumanku dengan hebat. Permainan lidah dan sedotan bibir kami main mainkan.. Sementara tanganku segera masuk ke balik kimono tante Rina. Lalu masuk lagi ke dalam BH-nya. Lalu ku remas-remas buah dadanya dengan mesra sambil ujung jari aku memainkan puting susunya.
"Mmhh.."
Suara tante Rina mendesah tertahan karena kami masih tetap berciuman. Tangan tante Rinapun tidak diam. Tangannya meremas kontolku dari luar celana kolorku. Kontolku langsung tegang.
"Roy, pindah ke kamar tante, yuk?" pinta tante Rina.
"Iya tante..." jawabku. Lalu kami segera naik ke loteng ke kamar tante Rina.
Setiba di kamar, tante Rina dengan tak sabar segera melepas kimono dan BH serta CD-nya. Akupun segera melepas semua pakaian di tubuh aku.
"Ayo Roy, tante sudah gak tahan..." ujar tante Rina sambil senyum, lalu merebahkan badannya di kasur.
Aku segera menindih tubuh telanjang tante Rina. Aku cium bibirnya, pindah ke pipi, leher, lalu turun ke buah dadanya. Aku jilat dan hisap puting susu tante Rina sambil meremas buah dada yang satu lagi.
"Ohh.. Mmhh.. Royy.. Kamu pinter amat sih.. Mmhh..." desah tante Rina sambil tangannya memegang kepala aku.
Lalu lidahku turun lagi ke perut, lalu ketika mulai turun ke selangkangan, tante Rina segera melebarkan kakinya mengangkang. Memek tante Rina bersih tidak berbau. Bulunya hanya sedikit sehing nampak jelas belahan memeknya yang bagus. Aku segera jilati memek tante Rina terutama bagian kelentitnya.
"Ohh.. Sayang.. Enakkhh.. Mmhh.. Terus sayang..." desah tante Rina sambil badannya mengejang menahan nikmat.
Tak berapa lama tiba-tiba tante Rina mengepitkan kedua pahanya menjepit kepalaku. Tangannya menekan kepalaku ke memeknya.
"Oh, Roy.. Tante keluar.. Nikmat sekali.. Ohh..." desah tante Rina.
Aku bangkit, mengusap mulut aku yang basah oleh air memek tante Rina, lalu aku tindih badannya dan kucium bibirnya. Tante Rina langsung membalas ciumanku dengan mesra.
"Isep dong kontol Roy, tante..." pintaku.
Tante Rina mengangguk sambil tersenyum. Lalu aku kangkangi wajah tante Rina dan ku sodorkan kontolku ke mulutnya. Tante Rina langsung menghisap dan menjilati kontolku dan mengocok dengan tangannya sambil memejamkan matanya. Sangat enak rasanya. Cara menghisap dan menjilat kontolnya lebih pintar dari mama.
"Udah tante, Roy udah pengen setubuhi tante..." kataku.
Tante Rina melepaskan genggamannya, lalu aku arahkan kontol aku ke memeknya.
"Ayo, Roy.. Tante sudah tidak tahan..." bisik tante Rina.
Lalu, bless.. sleb.. sleb.. sleb.. Kontolku keluar masuk memek tante Rina.
"Roy kamu pinter menyenangkan perempuan. Kamu pandai memberikan kenikmatan..." kata tante ditengah-tengah persetubuhan kami.
"Ah, biasa saja, tante..." ujarku sambil tersenyum lalu ku kecup bibirnya.
Selang beberapa lama, tiba-tiba tante Rina mempercepat gerakannya. Kedua tangannya erat mendekap tubuhku.
"Roy, terus setubuhi tante.. Mmhh.. Ohh.. Tante mau keluar.. Ohh.. Ohh. Ohh..." desahnya.
Tak lama tubuhnya mengejang. Pahanya erat menjepit pinggulku. Sementara akau terus memompa kontolku di memeknya.
"Tente udah keluar, sayang..." bisik tante Rina.
"Kamu hebat.. Kuat..." ujar tante Rina.
"Terus setubuhi tante, Roy.. Puaskan diri kamu..." ujarnya lagi.
Tak lama akupun mulai merasakan kalo aku akan segera orgasme. Kupertcepat gerakanku.
"Roy mau keluar, Tante..." kataku.
"Jangan keluarkan di dalam, sayang..." pinta tante Rina.
"Cabut dulu..." ujar tante Rina.
"Sini tante isepin..." katanya lagi.
Aku cabut kontolku dari memeknya, lalu aku arahkan ke mulutnya. Tante Rina lalu menghisap kontolku sambil mengocoknya. Tak lama, crott.. crott.. crott.. crott.. Air maniku keluar di dalam mulut tante Rina banyak sekali. Aku tekan kontolku lebih dalam ke dalam mulut tante Rina. Tante Rina dengan tenang menelan air maniku sambil terus mengocok kontolku. Lalu dia menjilati kontolku untuk membersihkan sisa air mani di kontolku. Sangat nikmat rasanya besetubuh dengan tante Rina.
Aku segera berpakaian. Tante Rina juga segera mengenakan kimononya tanpa BH dan CD.
"Kamu hebat, Roy.. Kamu bisa memuaskan tante," ujar tante Rina.
"Kalo tante butuh kamu lagi, kamu mau kan?" tanya tante sambil memeluk aku.
"Kapan saja tante mau, Roy pasti kasih," kataku sambil mengecup bibirnya.
"Terima kasih, sayang," ujar tante Rina.
"Roy kembali ke kamar ya, tante? Mau tidur," kataku.
"Iya, sana tidur," katanya sambil meremas kontolku mesra. Kukecup bibirnya sekali lagi, lalu aku segera keluar.
Besoknya, setelah Papa pergi ke kantor, mama duduk di sampingku waktu aku makan.
"Roy, semalam kamu ngapain di kamar tante Rina sampe subuh?" tanya mama mengejutkanku.
Aku terdiam tak bisa berkata apa-apa. Aku sangat takut dimarahi mama. Mama tersenyum. Sambil mencium pipiku, mama berkata,"Jangan sampai yang lain tahu ya, Roy. Mama akan jaga rahasia kalian. Kamu suka tante kamu itu ya?" tanya mama. Plong rasanya perasaanku mendengarnya.
"Iya, Ma.. Roy suka tante Rina," jawabku.
"Baiklah, mama akan pura-pura tidak tahu tentang kalian..." ujar mama.
"Kalian hati-hatilah..." ujar mama lagi.
"Kenapa mama tidak marah," tanya aku.
"Karena mama pikir kamu sudah dewasa. Bebas melakukan apapun asal mau tanggung jawab," ujar mama.
"Terima kasih ya, Ma..." kataku.
"Roy sayang mama," kataku lagi.
"Roy, tante dan Papa kamu sedang keluar.. Mau bantu mama gak?" tanya mama.
"Bantu apa, Ma?" aku balik tanya.
"Mama ingin..." ujar mama sambil mengusap kontolku.
"Roy akan lakukan apapun buat mama..." kataku. Mama tersenyum.
"Mama tunggu di kamar ya?" kata mama. Aku mengangguk..
Sejak saat itu hingga saat ini aku menikah dan punya 2 anak, aku tetap bersetubuh dengan tante Rina kalau ada kesempatan. Walau sudah agak berumur tapi kecantikan dan kemolekan tubuhnya masih tetap menarik. Baik itu di rumah tante Rina kalau tidak ada Om, di rumah aku sendiri, ataupun di hotel.
Sedangkan dengan mama, aku sudah mulai jarang menyetubuhinya atas permintaan mama sendiri dengan alasan tertentu tentunya. Dalam satu bulan hanya 2 kali. Itulah pengalaman kisah nyata aku. Aku tuliskan dengan sebenarnya.
Skandal Keluarga : Kakak Ipar [SD]
Setelah beberapa kali saya edit, akhirnya kisah ini saya kirimkan ke bebe17.info. Sebuah kisah nyata dengan identitas pelaku saya samarkan untuk melindungi saya dan orang-orang yang terlibat dalam kisah saya. Tadinya seluruh kisah saya akan saya tulis dalam satu cerita. Tetapi ternyata sangat panjang. Padahal kisah ini terdiri dari episode-episode. Karenanya saya coba memecah menjadi beberapa bagian, tetapi tiap bagian (episode) dapat berdiri sendiri. Saya tidak tahu untuk apa menceritakan ini semua. Tetapi setelah semua saya tumpahkan dalam cerita, ada perasaan lega dalam diri saya. Saya seperti terbebas dari himpitan berat selama bertahun-tahun. Inilah kisah saya.
Saya seorang pria berumur 40 tahun. Istri saya satu tahun lebih muda dari saya. Secara keseluruhan kami keluarga bahagia dengan dua anak yang manis-manis. Yang sulung, perempuan kelas II SMP (Nisa) dan bungsu laki-laki kelas 3 SD. Saya bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Sedangkan istri saya seorang wanita karier yang sukses di bidang farmasi. Kini dia menjabat sebagai Distric Manager. Kami saling mencintai. Dia merupakan seorang istri yang setia. Saya sendiri pada dasarnya suami yang setia pula. Paling tidak saya setia terhadap perasaan cinta saya kepada istri saya. Tapi tidak untuk soal seks. Saya seorang peselingkuh. Ini semua karena saya memiliki libido yang amat tinggi sementara istri saya tidak cukup punya minat di bidang seks. Saya menginginkan hubungan paling tidak dua kali dalam seminggu. Tetapi istri saya menganggap sekali dalam seminggu sudah berlebihan.
Dia pernah bilang kepada saya, "Lebih enak hubungan sekali dalam sebulan."
Tiap kali hubungan kami mencapai orgasme bersama-sama. Jadi sebenarnya tidak ada masalah dengan saya.
Rendahnya minat istri saya itu dikarenakan dia terlalu terkuras tenaga dan pikirannya untuk urusan kantor. Dia berangkat ke kantor pukul 07.30 dan pulang lepas Maghrib. Sampai di rumah sudah lesu dan sekitar pukul 20.00 dia sudah terlelap, meninggalkan saya kekeringan. Kalau sudah begitu biasanya saya melakukan onani. Tentu tanpa sepengetahuan dia, karena malu kalau ketahuan.
Selama perkawinan kami sudah tak terhitung berapa kali saya berselingkuh. Kalau istri saya tahu, saya tak bisa membayangkan akan seperti apa neraka yang diciptakannya. Bukan apa-apa. Perempuan-perempuan yang saya tiduri adalah mereka yang sangat dekat dengan dia. Saya menyimpan rapat rahasia itu. Sampai kini. Itu karena saya melakukan persetubuhan hanya sekali terhadap seorang perempuan yang sama. Saya tak mau mengulanginya. Saya khawatir, pengulangan bakal melibatkan perasaan. Padahal yang saya inginkan cuma persetubuhan fisik. Bukan hati dan perasaan. Saya berusaha mengindarinya sebisa mungkin, dan memberi kesan kepada si perempuan bahwa semua yang terjadi adalah kekeliruan. Memang ada beberapa perempuan sebagai perkecualian yang nanti akan saya ceritakan.
Perempuan pertama yang saya tiduri semenjak menikah tidak lain adalah kakak istri saya. Oh ya, istri saya merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Semuanya perempuan. Istri saya sebut saja bernama Yeni. Kedua kakak Yeni sudah menikah dan punya anak. Mereka keluarga bahagia semuanya, dan telah memiliki tempat tinggal masing-masing. Hanya saya dan istri yang ikut mertua dua tahun pertama perkawinan kami. Setiap minggu keluarga besar istri saya berkumpul. Mereka keluarga yang hangat dan saling menyayangi.
Mbak Maya, kakak istri saya ini adalah seorang perempuan yang dominan. Dia terlihat sangat menguasai suaminya. Saya sering melihat Mbak Maya menghardik suaminya yang berpenampilan culun. Suami Mbak Maya sering berkeluh-kesah dengan saya tentang sikap istrinya. Tetapi kepada orang lain Mbak Maya sangat ramah, termasuk kepada saya. Dia bahkan sangat baik. Mbak Maya sering datang bersama kedua anaknya berkunjung ke rumah orang tuanya -yang artinya rumah saya juga- tanpa suaminya.
Kadang-kadang sebagai basa-basi saya bertanya, "Kenapa Mas Wid tidak diajak?"
"Ahh malas saya ngajak dia," jawabnya.
Saya tak pernah bertanya lebih jauh.
Seringkali saat Mbak Maya datang dan menginap, pas istri saya sedang tugas luar kota. Istri saya dua minggu sekali keluar kota saat itu. Dia adalah seorang detailer yang gigih dan ambisius. Jika sudah demikian biasanya ibu mertua saya yang menyiapkan kopi buat saya, atau makan pagi dan makan malam. Tapi jika pas ada Mbak Maya, ya si Mbak inilah yang menggantikan tugas ibu mertua. Tak jarang Mbak Maya menemani saya makan.
Karena seringnya bertemu, maka saya pun mulai dirasuki pikiran kotor. Saya sering membayangkan bisa tidur dengan Mbak Maya. Tapi mustahil. Mbak Maya tidak menunjukkan tipe perempuan yang gampang diajak tidur. Karenanya saya hanya bisa membayangkannya. Apalagi kalau pas hasrat menggejolak sementara istri saya up country. Aduhh, tersiksa sekali rasanya. Dan sore itu, sehabis mandi keramas saya mengeringkan rambut dengan kipas angin di dalam kamar. Saya hanya bercelana dalam ketika Mbak Maya mendadak membuka pintu.
"Kopinya Dik Andy."
Saya terkejut, dan Mbak Maya buru-buru menutup pintu ketika melihat sebelah tangan saya berada di dalam celana dalam, sementara satu tangan lain mengibas-ibas rambut di depan kipas angin. Saya malu awalnya. Tetapi kemudian berpikir, apa yang terjadi seandainya Mbak Maya melihat saya bugil ketika penis saya sedang tegang?
Pikiran itu terus mengusik saya. Peristiwa membuka pintu kamar dengan mendadak bukan hal yang tidak mungkin. Adik-adik dan kakak-kakak istri saya memang terbiasa begitu. Mereka sepertinya tidak menganggap masalah. Seolah kamar kami adalah kamar mereka juga. Adik istri saya yang bungsu (masih kelas II SMU, sebut saja Rosi) bahkan pernah menyerobot masuk begitu saja ketika saya sedang bergumul dengan istri saya. Untung saat itu kami tidak sedang bugil. Tapi dia sendiri yang malu, dan berhari-hari meledek kami.
Sejak peristiwa Mbak Maya membuka pintu itu, saya jadi sering memasang diri, tiduran di dalam kamar dengan hanya bercelana dalam sambil coli (onani). Saya hanya ingin menjaga supaya penis saya tegang, dan berharap saat itu Mbak Maya masuk. Saya rebahan sambil membaca majalah. Sialnya, yang saya incar tidak pernah datang. Sekali waktu malah si Rosi yang masuk buat meminjam lipstik istri saya. Ini memang sudah biasa. Buru-buru saya tutupkan CD saya. Tapi rupanya mata Rosi keburu melihat.
"Woww, indahnya."
Dia tampak cengengesan sambil memolesi bibirnya dengan gincu.
"Mau kemana?" tanya saya.
"Nggak. Pengin makai lipstik aja."
Saya meneruskan membaca.
"Coli ya Mas?" katanya.
Gadis ini memang manja, dan sangat terbuka dengan saya. Ketika saya masih berpacaran dengan istri saya, kemanjaannya bahkan luar biasa. Tak jarang kalau saya datang dia menggelendot di punggung saya. Tentu saya tak punya pikiran apa-apa. Dia kan masih kecil waktu itu. Tapi sekarang. Ahh. Tiba-tiba saya memperhatikannya. Dia sudah dewasa. Sudah seksi. Teteknya 34. Pinggang ramping, kulit bersih. Dia yang paling cantik di antara saudara istri saya.
Pikiran saya mulai kotor. Menurut saya, akan lebih mudah sebenarnya menjebak Rosi daripada Mbak Maya. Rosi lebih terbuka, lebih manja. Kalau cuma mencium pipi dan mengecup bibir sedikit, bukan hal yang sulit. Dulu saya sering mengecup pipinya. Tapi sejak dia kelihatan sudah dewasa, saya tak lagi melakukannya. Akhirnya sasaran jebakan saya beralih ke Rosi. Saya mencoba melupakan Mbak Maya.
Sore selepas mandi saya rebahan di tempat tidur, dan kembali memasang jebakan untuk Rosi. Saya berbulat hati untuk memancing dia. Ini hari terakhir istri saya up country. Artinya besok di kamar ini sudah ada istri saya. Saya elus perlahan-lahan penis saya hingga berdiri tegak. Saya tidak membaca majalah. Saya seolah sedang onani. Saya pejamkan mata saya. Beberapa menit kemudian saya dengar pintu kamar berderit lembut. Ada yang membuka. Saya diam saja seolah sedang keasyikan onani. Tidak ada tanggapan. Saya melihat pintu dengan sudut mata yang terpicing. Sialan. Tak ada orang sama sekali. Mungkin si Rosi langsung kabur. Saya hampir saja menghentikan onani saya ketika dari mata yang hampir tertutup saya lihat bayangan. Segera saya mengelus-elus penis saya dengan agak cepat dan badan bergerak-gerak kecil. Saya mencoba mengerling di antara picingan mata. Astaga! Kepala Mbak Maya di ambang pintu. Tapi kemudian bayangan itu lenyap. Lalu muncul lagi, hilang lagi, Kini tahulah saya, Mbak Maya sembunyi-sembunyi melihat saya. Beberapa saat kemudian pintu ditutup, dan tak dibuka kembali sampai saya menghentikan onani saya. Tanpa mani keluar.
Malamnya, di meja makan kami makan bersama-sama. Saya, kedua mertua, Mbak Maya, Rosi dan kakak Rosi, Mayang. Berkali-kali saya merasakan Mbak Maya memperhatikan saya. Saya berdebar-debar membayangkan apa yang ada di pikiran Mbak Maya. Saya sengaja memperlambat makan saya. Dan ternyata Mbak Maya pun demikian. Sehingga sampai semua beranjak dari meja makan, tinggal kami berdua. Selesai makan kami tidak segera berlalu. Piring-piring kotor dan makanan telah dibereskan Mak Jah, pembantu kami.
"Dik Andy kesepian ya? Suka begitu kalau kesepian?" Mbak Maya mebuka suara.
Saya kaget. Dia duduk persis di kanan saya. Dia memandangi saya. Matanya seakan jatuh kasihan kepada saya. Sialan.
"Maksud Mbak May apaan sih?" saya pura-pura tidak tahu.
"Tadi Mbak May lihat Dik Andy ngapain di kamar. Sampai Dik Andy nggak liat. Kalau sedang gitu, kunci pintunya. Kalau Rosi atau Ibu lihat gimana?"
"Apaan sih?" saya tetap pura-pura tidak mengerti.
"Tadi onani kan?"
"Ohh." Saya berpura-pura malu.
Perasaan saya senang bercampur gugup, menunggu reaksi Mbak Maya. Saya menghela nafas panjang. Sengaja.
"Yahh, Yeni sudah tiga hari keluar kota. Pikiran saya sedang kotor. Jadi.."
"Besok lagi kalau Yeni mau keluar kota, kamu minta jatah dulu."
"Ahh Mbak May ini. Susah Mbak nunggu moodnya si Yeni. Kadang pas saya lagi pengin dia sudah kecapekan."
"Tapi itu kan kewajiban dia melayani kamu?"
"Saya tidak ingin dia melakukan dengan terpaksa."
Kami sama-sama diam. Saya terus menunggu. Menunggu. Jantung saya berdegup keras.
"Kamu sering swalayan gitu?"
"Yaa sering Mbak. Kalau pengin, terus Yeni nggak mau, ya saya swalayan. Ahh udah aahh. Kok ngomongin gitu?"
Saya pura-pura ingin mengalihkan pembicaraan. Tapi Mbak Maya tidak peduli.
"Gini lho Dik. Masalahnya, itu tidak sehat untuk perkawinan kalian. Kamu harus berbicara dengan Yeni. Masa sudah punya istri masih swalayan."
Mbak Maya memegang punggung tangan saya.
"Maaf Mbak. Nafsu saya besar. Sebaliknya dengan Yeni. Jadi kayaknya saya yang mesti mengikuti kondisi dia." Kali ini saya bicara jujur. "Saya cukup puas bisa melayani diri sendiri kok."
"Kasihan kamu."
Mbak Maya menyentuh ujung rambut saya, dan disibakkannya ke belakang. Saya memberanikan diri menangkap tangan itu, dan menciumnya selintas. Mbak Maya seperti kaget, dan buru-buru menariknya.
"Kapan kalian terakhir kumpul?"
"Dua atau tiga minggu lalu," jawab saya.
Bohong besar. Mbak Maya mendesis kaget.
"Ya ampuun."
"Mbak. Tapi Mbak jangan bilang apa-apa ke Yeni. Nanti salah pengertian. Dikira saya mengadu soal begituan."
Mbak Maya kembali menggenggam tangan saya. Erat, dan meremasnya. Isi celana saya mulai bergerak-gerak. Kali ini saya yang menarik tangan saya dari genggaman Mbak Maya. Tapi Mbak Maya menahannya. Saya menarik lagi. Bukan apa-apa. Kali ini saya takut nanti dilihat orang lain.
"Saya horny kalau Mbak pegang terus."
Mbak Maya tertawa kecil dan melepaskan tangan saya. Dia beranjak sambil mengucek-ucek rambut saya.
"Kaciaann ipar Mbak satu ini."
Mbak Maya berlalu, menuju ruang keluarga.
"Liat TV aja yuk," ajaknya.
Saya memaki dalam hati. Kurang ajar betul. Dibilang saya horny malah cengengesan, bukannya bilang, "Saya juga nih, Dik." Setengah jengkel saya mengikutinya. Di ruang keluarga semua kumpul kecuali Rosi. Hanya sebentar. Saya masuk ke kamar.
Sekitar pukul 23.00 pintu kamar saya berderit. Saya menoleh. Mbak Maya. Dia menempelkan telunjuknya di bibirnya.
"Belum bobo?" tanyanya lirih. Jantung saya berdenyut keras.
"Belum." Jawab saya.
"Kita ngobrol di luar yuk?"
"Di sini saja Mbak." Saya seperti mendapat inspirasi.
"Ihh. Di teras aja. Udah ngantuk belum?"
Mbak Maya segera menghilang. Dengan hanya bersarung telanjang dada dan CD saya mengikuti Mbak Maya ke teras. Saya memang terbiasa tidur bertelanjang dada dan bersarung. Rumah telah senyap. TV telah dimatikan. Keluarga ini memang terbiasa tidur sebelum jam 22.00. Hanya aku yang betah melek.
Mbak Maya mengenakan daster tanpa lengan. Ujung atas hanya berupa seutas tali tipis. Daster kuning yang agak ketat. Saya kini memperhatikan betul lekuk tubuh perempuan yang berjalan di depan saya itu. Pantat menonjol. Singset. Kulitnya paling putih di antara semua sadaranya. Umurnya berselisih tiga tahun dengan Yeni.
Mbak Maya duduk di bangku teras yang gelap. Bangku ini dulu sering saya gunakan bercumbu dengan Yeni. Wajah Mbak Maya hanya terlihat samar-samar oleh cahaya lampu TL 10 watt milik tetangga sebelah. Itupun terhalang oleh daun-daun angsana yang rimbun.
Dia memberi tempat kepada saya. Kami duduk hampir berhimpitan. Saya memang sengaja. Ketika dia mencoba menggeser sedikit menjauh, perlahan-lahan saya mendekakan diri.
"Dik Andy" Mbak Maya membuka percakapan.
"Nasib kamu itu sebenernya tak jauh beda dengan Mbak."
Saya mengernyitkan dahi. Menunggu Mbak Maya menjelaskan. Tapi perempuan itu diam saja. tangannya memilin-milin ujung rambut.
"Maksud Mbak apa sih?"
"Tidak bahagia dalam urusan tempat tidur. Ih. Gimana sih."
Mbak Maya mencubit paha saya. Saya mengaduh. Memang sakit, Tapi saya senang. Perlahan-lahan penis saya bergerak.
"Kok bisa?"
"Nggak tahu tuh. Mas Wib itu loyo abis."
"Impoten?" Saya agak kaget.
"Ya enggak sih. Tapi susah diajakin. Banyak nolaknya. Malas saya. Perempuan kok dibegituin,"
"Hihihi.. Tadi kok kasih nasihat ke saya?"
Saya tersenyum kecil. Mbak Maya mencoba mendaratkan lagi cubitannya. Tapi saya lebih sigap. Saya tangkap tangan itu, dan saya amankan dalam genggaman. Saya mulai berani. Saya remas tangan Mbak Maya. Penis saya terasa menegang. Badan mulai panas dingin. Mungkinkan malam ini saya dan Mbak Maya..
"Terus cara pelampiasan Mbak gimana? Swalayan juga?" Tanya saya.
Saya taruh sebelah tangan di atas pahanya. Mbak Maya mencoba menghindar, tapi tak jadi.
"Enggak dong. Malu. Risih. Ya ditahan aja."
"Kapan terakhir Mbak Maya tidur sama Mas Wib?"
Saya mencium punggung tangan Mbak Maya. Lalu tangan itu saya taruh perlahan-lahan di antara pahaku, sedikit menyentuh penis.
"Dua minggu lalu."
"Heh?" Saya menatap matanya. Bener enggak sih. Kok jawabannya sama dengan saya? Ngeledek apa gimana nih.
"Bener." Matanya mengerling ke bawah, melihat sesuatu di dekat tangannya yang kugenggam.
"Mbak.." Saya menyusun kekuatan untuk berbicara. Tenggorokan terasa kering. Nafsu saya mulai naik. Perempuan ini bener-bener seperti merpati. Jangan-jangan hanya jinak ketika didekati. Saat dipegang dia kabur.
"Hm," Mbak Maya menatap mata saya.
"Mbak pengin?"
Dia tak menjawab. Wajahnya tertunduk. Saya raih pundaknya. Saya elus rambutnya. Saya sentuh pipinya. Dia diam saja. Sejurus kemudian mulut kami berpagutan. Lama. Ciuman yang bergairah. Saya remas bagian dadanya. Lalu tali sebelah dasternya saya tarik dan terlepas. Mbak Maya merintih ketika jari saya menyentuh belahan dadanya. Secara spontan tangan kirinya yang sejak tadi di pangkuan saya menggapai apa saja. Dan yang tertangkap adalah penis. Dia meremasnya. Saya menggesek-gesekkan jari saya di dadanya. Kami kembali berciuman.
"Di kamar aja yuk Mbak?" ajak saya.
Lalu kami beranjak. Setengah berjingkat-jingkat menuju kamar Mbak Maya. Kamar ini terletak bersebarangan dengan kamar saya. Di sebelah kamar Mbak Maya adalah kamar mertua saya.
Malam itu tumpahlah segalanya. Kami bermain dengan hebatnya. Berkali-kali. Ini adalah perselingkuhan saya yang pertama sejak saya kawin. Belakangan saya tahu, itu juga perselingkuhan pertama Mbak Maya. Sebelum itu tak terbetik pikiran untuk selingkuh, apalagi tidur dengan laki-laki lain selain Mas Wib.
Bermacam gaya kami lakukan. Termasuk oral, dan sebuah sedotan kuat menjelang saya orgasme. Semprotan mani menerjang tenggorokan Mbak Maya. Itulah pertama kali mani saya diminum perempuan. Yeni pun tidak pernah. Tidak mau. Jijik katanya. Menjelang pagi, saat tulang kami seperti dilolosi, saya kembali ke kamar. Tidur.
Saya tidak berani mengulanginya lagi. Perasaan menyesal tumpah-ruah ketika saya bertemu istri saya. Mungkin itu juga yang dirasakan Mbak Maya. Selepas itu dia mencoba menghindari pembicaraan yang menjurus ke tempat tidur. Kami bersikap biasa-biasa, seolah tidak pernah terjadi apa pun.
Ketika tidur di samping istri saya, saya berjanji dalam hati Tidak akan selingkuh lagi. Ternyata janji tinggal janji. Nafsu besar lebih mengusik saya. Terutama saat istri saya ke luar kota dan keinginan bersetubuh mendesak-desak dalam diri saya. Rasanya ingin mengulanginya dengan Mbak Maya. Tapi tampaknya mustahil. Mbak Maya benar-benar tidak memberi kesempatan kepada saya. Dia tidak lagi mau masuk kamar saya. Jika ada perlu di menyuruh Rosi, atau berteriak di luar kamar, memanggil saya. Bahkan mulai jarang menginap.
Akhirnya saya kembali ke sasaran awal saya. Rosi. Mungkinkah saya menyetubuhi adik istri saya? Uhh. Mustahil. Kalau hamil? Beda dengan Mbak Maya. Kepada dia saya tidak ragu untuk mengeluarkan benih saya ke dalam rahimnya. Kalaupun hamil, tak masalah kan. Paling-paling kalau anaknya lahir dan mirip dengan saya yaa banyak cara untuk menepis tuduhan. Lagian masak sih pada curiga?
Saya seorang pria berumur 40 tahun. Istri saya satu tahun lebih muda dari saya. Secara keseluruhan kami keluarga bahagia dengan dua anak yang manis-manis. Yang sulung, perempuan kelas II SMP (Nisa) dan bungsu laki-laki kelas 3 SD. Saya bekerja di sebuah perusahaan telekomunikasi. Sedangkan istri saya seorang wanita karier yang sukses di bidang farmasi. Kini dia menjabat sebagai Distric Manager. Kami saling mencintai. Dia merupakan seorang istri yang setia. Saya sendiri pada dasarnya suami yang setia pula. Paling tidak saya setia terhadap perasaan cinta saya kepada istri saya. Tapi tidak untuk soal seks. Saya seorang peselingkuh. Ini semua karena saya memiliki libido yang amat tinggi sementara istri saya tidak cukup punya minat di bidang seks. Saya menginginkan hubungan paling tidak dua kali dalam seminggu. Tetapi istri saya menganggap sekali dalam seminggu sudah berlebihan.
Dia pernah bilang kepada saya, "Lebih enak hubungan sekali dalam sebulan."
Tiap kali hubungan kami mencapai orgasme bersama-sama. Jadi sebenarnya tidak ada masalah dengan saya.
Rendahnya minat istri saya itu dikarenakan dia terlalu terkuras tenaga dan pikirannya untuk urusan kantor. Dia berangkat ke kantor pukul 07.30 dan pulang lepas Maghrib. Sampai di rumah sudah lesu dan sekitar pukul 20.00 dia sudah terlelap, meninggalkan saya kekeringan. Kalau sudah begitu biasanya saya melakukan onani. Tentu tanpa sepengetahuan dia, karena malu kalau ketahuan.
Selama perkawinan kami sudah tak terhitung berapa kali saya berselingkuh. Kalau istri saya tahu, saya tak bisa membayangkan akan seperti apa neraka yang diciptakannya. Bukan apa-apa. Perempuan-perempuan yang saya tiduri adalah mereka yang sangat dekat dengan dia. Saya menyimpan rapat rahasia itu. Sampai kini. Itu karena saya melakukan persetubuhan hanya sekali terhadap seorang perempuan yang sama. Saya tak mau mengulanginya. Saya khawatir, pengulangan bakal melibatkan perasaan. Padahal yang saya inginkan cuma persetubuhan fisik. Bukan hati dan perasaan. Saya berusaha mengindarinya sebisa mungkin, dan memberi kesan kepada si perempuan bahwa semua yang terjadi adalah kekeliruan. Memang ada beberapa perempuan sebagai perkecualian yang nanti akan saya ceritakan.
Perempuan pertama yang saya tiduri semenjak menikah tidak lain adalah kakak istri saya. Oh ya, istri saya merupakan anak ketiga dari lima bersaudara. Semuanya perempuan. Istri saya sebut saja bernama Yeni. Kedua kakak Yeni sudah menikah dan punya anak. Mereka keluarga bahagia semuanya, dan telah memiliki tempat tinggal masing-masing. Hanya saya dan istri yang ikut mertua dua tahun pertama perkawinan kami. Setiap minggu keluarga besar istri saya berkumpul. Mereka keluarga yang hangat dan saling menyayangi.
Mbak Maya, kakak istri saya ini adalah seorang perempuan yang dominan. Dia terlihat sangat menguasai suaminya. Saya sering melihat Mbak Maya menghardik suaminya yang berpenampilan culun. Suami Mbak Maya sering berkeluh-kesah dengan saya tentang sikap istrinya. Tetapi kepada orang lain Mbak Maya sangat ramah, termasuk kepada saya. Dia bahkan sangat baik. Mbak Maya sering datang bersama kedua anaknya berkunjung ke rumah orang tuanya -yang artinya rumah saya juga- tanpa suaminya.
Kadang-kadang sebagai basa-basi saya bertanya, "Kenapa Mas Wid tidak diajak?"
"Ahh malas saya ngajak dia," jawabnya.
Saya tak pernah bertanya lebih jauh.
Seringkali saat Mbak Maya datang dan menginap, pas istri saya sedang tugas luar kota. Istri saya dua minggu sekali keluar kota saat itu. Dia adalah seorang detailer yang gigih dan ambisius. Jika sudah demikian biasanya ibu mertua saya yang menyiapkan kopi buat saya, atau makan pagi dan makan malam. Tapi jika pas ada Mbak Maya, ya si Mbak inilah yang menggantikan tugas ibu mertua. Tak jarang Mbak Maya menemani saya makan.
Karena seringnya bertemu, maka saya pun mulai dirasuki pikiran kotor. Saya sering membayangkan bisa tidur dengan Mbak Maya. Tapi mustahil. Mbak Maya tidak menunjukkan tipe perempuan yang gampang diajak tidur. Karenanya saya hanya bisa membayangkannya. Apalagi kalau pas hasrat menggejolak sementara istri saya up country. Aduhh, tersiksa sekali rasanya. Dan sore itu, sehabis mandi keramas saya mengeringkan rambut dengan kipas angin di dalam kamar. Saya hanya bercelana dalam ketika Mbak Maya mendadak membuka pintu.
"Kopinya Dik Andy."
Saya terkejut, dan Mbak Maya buru-buru menutup pintu ketika melihat sebelah tangan saya berada di dalam celana dalam, sementara satu tangan lain mengibas-ibas rambut di depan kipas angin. Saya malu awalnya. Tetapi kemudian berpikir, apa yang terjadi seandainya Mbak Maya melihat saya bugil ketika penis saya sedang tegang?
Pikiran itu terus mengusik saya. Peristiwa membuka pintu kamar dengan mendadak bukan hal yang tidak mungkin. Adik-adik dan kakak-kakak istri saya memang terbiasa begitu. Mereka sepertinya tidak menganggap masalah. Seolah kamar kami adalah kamar mereka juga. Adik istri saya yang bungsu (masih kelas II SMU, sebut saja Rosi) bahkan pernah menyerobot masuk begitu saja ketika saya sedang bergumul dengan istri saya. Untung saat itu kami tidak sedang bugil. Tapi dia sendiri yang malu, dan berhari-hari meledek kami.
Sejak peristiwa Mbak Maya membuka pintu itu, saya jadi sering memasang diri, tiduran di dalam kamar dengan hanya bercelana dalam sambil coli (onani). Saya hanya ingin menjaga supaya penis saya tegang, dan berharap saat itu Mbak Maya masuk. Saya rebahan sambil membaca majalah. Sialnya, yang saya incar tidak pernah datang. Sekali waktu malah si Rosi yang masuk buat meminjam lipstik istri saya. Ini memang sudah biasa. Buru-buru saya tutupkan CD saya. Tapi rupanya mata Rosi keburu melihat.
"Woww, indahnya."
Dia tampak cengengesan sambil memolesi bibirnya dengan gincu.
"Mau kemana?" tanya saya.
"Nggak. Pengin makai lipstik aja."
Saya meneruskan membaca.
"Coli ya Mas?" katanya.
Gadis ini memang manja, dan sangat terbuka dengan saya. Ketika saya masih berpacaran dengan istri saya, kemanjaannya bahkan luar biasa. Tak jarang kalau saya datang dia menggelendot di punggung saya. Tentu saya tak punya pikiran apa-apa. Dia kan masih kecil waktu itu. Tapi sekarang. Ahh. Tiba-tiba saya memperhatikannya. Dia sudah dewasa. Sudah seksi. Teteknya 34. Pinggang ramping, kulit bersih. Dia yang paling cantik di antara saudara istri saya.
Pikiran saya mulai kotor. Menurut saya, akan lebih mudah sebenarnya menjebak Rosi daripada Mbak Maya. Rosi lebih terbuka, lebih manja. Kalau cuma mencium pipi dan mengecup bibir sedikit, bukan hal yang sulit. Dulu saya sering mengecup pipinya. Tapi sejak dia kelihatan sudah dewasa, saya tak lagi melakukannya. Akhirnya sasaran jebakan saya beralih ke Rosi. Saya mencoba melupakan Mbak Maya.
Sore selepas mandi saya rebahan di tempat tidur, dan kembali memasang jebakan untuk Rosi. Saya berbulat hati untuk memancing dia. Ini hari terakhir istri saya up country. Artinya besok di kamar ini sudah ada istri saya. Saya elus perlahan-lahan penis saya hingga berdiri tegak. Saya tidak membaca majalah. Saya seolah sedang onani. Saya pejamkan mata saya. Beberapa menit kemudian saya dengar pintu kamar berderit lembut. Ada yang membuka. Saya diam saja seolah sedang keasyikan onani. Tidak ada tanggapan. Saya melihat pintu dengan sudut mata yang terpicing. Sialan. Tak ada orang sama sekali. Mungkin si Rosi langsung kabur. Saya hampir saja menghentikan onani saya ketika dari mata yang hampir tertutup saya lihat bayangan. Segera saya mengelus-elus penis saya dengan agak cepat dan badan bergerak-gerak kecil. Saya mencoba mengerling di antara picingan mata. Astaga! Kepala Mbak Maya di ambang pintu. Tapi kemudian bayangan itu lenyap. Lalu muncul lagi, hilang lagi, Kini tahulah saya, Mbak Maya sembunyi-sembunyi melihat saya. Beberapa saat kemudian pintu ditutup, dan tak dibuka kembali sampai saya menghentikan onani saya. Tanpa mani keluar.
Malamnya, di meja makan kami makan bersama-sama. Saya, kedua mertua, Mbak Maya, Rosi dan kakak Rosi, Mayang. Berkali-kali saya merasakan Mbak Maya memperhatikan saya. Saya berdebar-debar membayangkan apa yang ada di pikiran Mbak Maya. Saya sengaja memperlambat makan saya. Dan ternyata Mbak Maya pun demikian. Sehingga sampai semua beranjak dari meja makan, tinggal kami berdua. Selesai makan kami tidak segera berlalu. Piring-piring kotor dan makanan telah dibereskan Mak Jah, pembantu kami.
"Dik Andy kesepian ya? Suka begitu kalau kesepian?" Mbak Maya mebuka suara.
Saya kaget. Dia duduk persis di kanan saya. Dia memandangi saya. Matanya seakan jatuh kasihan kepada saya. Sialan.
"Maksud Mbak May apaan sih?" saya pura-pura tidak tahu.
"Tadi Mbak May lihat Dik Andy ngapain di kamar. Sampai Dik Andy nggak liat. Kalau sedang gitu, kunci pintunya. Kalau Rosi atau Ibu lihat gimana?"
"Apaan sih?" saya tetap pura-pura tidak mengerti.
"Tadi onani kan?"
"Ohh." Saya berpura-pura malu.
Perasaan saya senang bercampur gugup, menunggu reaksi Mbak Maya. Saya menghela nafas panjang. Sengaja.
"Yahh, Yeni sudah tiga hari keluar kota. Pikiran saya sedang kotor. Jadi.."
"Besok lagi kalau Yeni mau keluar kota, kamu minta jatah dulu."
"Ahh Mbak May ini. Susah Mbak nunggu moodnya si Yeni. Kadang pas saya lagi pengin dia sudah kecapekan."
"Tapi itu kan kewajiban dia melayani kamu?"
"Saya tidak ingin dia melakukan dengan terpaksa."
Kami sama-sama diam. Saya terus menunggu. Menunggu. Jantung saya berdegup keras.
"Kamu sering swalayan gitu?"
"Yaa sering Mbak. Kalau pengin, terus Yeni nggak mau, ya saya swalayan. Ahh udah aahh. Kok ngomongin gitu?"
Saya pura-pura ingin mengalihkan pembicaraan. Tapi Mbak Maya tidak peduli.
"Gini lho Dik. Masalahnya, itu tidak sehat untuk perkawinan kalian. Kamu harus berbicara dengan Yeni. Masa sudah punya istri masih swalayan."
Mbak Maya memegang punggung tangan saya.
"Maaf Mbak. Nafsu saya besar. Sebaliknya dengan Yeni. Jadi kayaknya saya yang mesti mengikuti kondisi dia." Kali ini saya bicara jujur. "Saya cukup puas bisa melayani diri sendiri kok."
"Kasihan kamu."
Mbak Maya menyentuh ujung rambut saya, dan disibakkannya ke belakang. Saya memberanikan diri menangkap tangan itu, dan menciumnya selintas. Mbak Maya seperti kaget, dan buru-buru menariknya.
"Kapan kalian terakhir kumpul?"
"Dua atau tiga minggu lalu," jawab saya.
Bohong besar. Mbak Maya mendesis kaget.
"Ya ampuun."
"Mbak. Tapi Mbak jangan bilang apa-apa ke Yeni. Nanti salah pengertian. Dikira saya mengadu soal begituan."
Mbak Maya kembali menggenggam tangan saya. Erat, dan meremasnya. Isi celana saya mulai bergerak-gerak. Kali ini saya yang menarik tangan saya dari genggaman Mbak Maya. Tapi Mbak Maya menahannya. Saya menarik lagi. Bukan apa-apa. Kali ini saya takut nanti dilihat orang lain.
"Saya horny kalau Mbak pegang terus."
Mbak Maya tertawa kecil dan melepaskan tangan saya. Dia beranjak sambil mengucek-ucek rambut saya.
"Kaciaann ipar Mbak satu ini."
Mbak Maya berlalu, menuju ruang keluarga.
"Liat TV aja yuk," ajaknya.
Saya memaki dalam hati. Kurang ajar betul. Dibilang saya horny malah cengengesan, bukannya bilang, "Saya juga nih, Dik." Setengah jengkel saya mengikutinya. Di ruang keluarga semua kumpul kecuali Rosi. Hanya sebentar. Saya masuk ke kamar.
Sekitar pukul 23.00 pintu kamar saya berderit. Saya menoleh. Mbak Maya. Dia menempelkan telunjuknya di bibirnya.
"Belum bobo?" tanyanya lirih. Jantung saya berdenyut keras.
"Belum." Jawab saya.
"Kita ngobrol di luar yuk?"
"Di sini saja Mbak." Saya seperti mendapat inspirasi.
"Ihh. Di teras aja. Udah ngantuk belum?"
Mbak Maya segera menghilang. Dengan hanya bersarung telanjang dada dan CD saya mengikuti Mbak Maya ke teras. Saya memang terbiasa tidur bertelanjang dada dan bersarung. Rumah telah senyap. TV telah dimatikan. Keluarga ini memang terbiasa tidur sebelum jam 22.00. Hanya aku yang betah melek.
Mbak Maya mengenakan daster tanpa lengan. Ujung atas hanya berupa seutas tali tipis. Daster kuning yang agak ketat. Saya kini memperhatikan betul lekuk tubuh perempuan yang berjalan di depan saya itu. Pantat menonjol. Singset. Kulitnya paling putih di antara semua sadaranya. Umurnya berselisih tiga tahun dengan Yeni.
Mbak Maya duduk di bangku teras yang gelap. Bangku ini dulu sering saya gunakan bercumbu dengan Yeni. Wajah Mbak Maya hanya terlihat samar-samar oleh cahaya lampu TL 10 watt milik tetangga sebelah. Itupun terhalang oleh daun-daun angsana yang rimbun.
Dia memberi tempat kepada saya. Kami duduk hampir berhimpitan. Saya memang sengaja. Ketika dia mencoba menggeser sedikit menjauh, perlahan-lahan saya mendekakan diri.
"Dik Andy" Mbak Maya membuka percakapan.
"Nasib kamu itu sebenernya tak jauh beda dengan Mbak."
Saya mengernyitkan dahi. Menunggu Mbak Maya menjelaskan. Tapi perempuan itu diam saja. tangannya memilin-milin ujung rambut.
"Maksud Mbak apa sih?"
"Tidak bahagia dalam urusan tempat tidur. Ih. Gimana sih."
Mbak Maya mencubit paha saya. Saya mengaduh. Memang sakit, Tapi saya senang. Perlahan-lahan penis saya bergerak.
"Kok bisa?"
"Nggak tahu tuh. Mas Wib itu loyo abis."
"Impoten?" Saya agak kaget.
"Ya enggak sih. Tapi susah diajakin. Banyak nolaknya. Malas saya. Perempuan kok dibegituin,"
"Hihihi.. Tadi kok kasih nasihat ke saya?"
Saya tersenyum kecil. Mbak Maya mencoba mendaratkan lagi cubitannya. Tapi saya lebih sigap. Saya tangkap tangan itu, dan saya amankan dalam genggaman. Saya mulai berani. Saya remas tangan Mbak Maya. Penis saya terasa menegang. Badan mulai panas dingin. Mungkinkan malam ini saya dan Mbak Maya..
"Terus cara pelampiasan Mbak gimana? Swalayan juga?" Tanya saya.
Saya taruh sebelah tangan di atas pahanya. Mbak Maya mencoba menghindar, tapi tak jadi.
"Enggak dong. Malu. Risih. Ya ditahan aja."
"Kapan terakhir Mbak Maya tidur sama Mas Wib?"
Saya mencium punggung tangan Mbak Maya. Lalu tangan itu saya taruh perlahan-lahan di antara pahaku, sedikit menyentuh penis.
"Dua minggu lalu."
"Heh?" Saya menatap matanya. Bener enggak sih. Kok jawabannya sama dengan saya? Ngeledek apa gimana nih.
"Bener." Matanya mengerling ke bawah, melihat sesuatu di dekat tangannya yang kugenggam.
"Mbak.." Saya menyusun kekuatan untuk berbicara. Tenggorokan terasa kering. Nafsu saya mulai naik. Perempuan ini bener-bener seperti merpati. Jangan-jangan hanya jinak ketika didekati. Saat dipegang dia kabur.
"Hm," Mbak Maya menatap mata saya.
"Mbak pengin?"
Dia tak menjawab. Wajahnya tertunduk. Saya raih pundaknya. Saya elus rambutnya. Saya sentuh pipinya. Dia diam saja. Sejurus kemudian mulut kami berpagutan. Lama. Ciuman yang bergairah. Saya remas bagian dadanya. Lalu tali sebelah dasternya saya tarik dan terlepas. Mbak Maya merintih ketika jari saya menyentuh belahan dadanya. Secara spontan tangan kirinya yang sejak tadi di pangkuan saya menggapai apa saja. Dan yang tertangkap adalah penis. Dia meremasnya. Saya menggesek-gesekkan jari saya di dadanya. Kami kembali berciuman.
"Di kamar aja yuk Mbak?" ajak saya.
Lalu kami beranjak. Setengah berjingkat-jingkat menuju kamar Mbak Maya. Kamar ini terletak bersebarangan dengan kamar saya. Di sebelah kamar Mbak Maya adalah kamar mertua saya.
Malam itu tumpahlah segalanya. Kami bermain dengan hebatnya. Berkali-kali. Ini adalah perselingkuhan saya yang pertama sejak saya kawin. Belakangan saya tahu, itu juga perselingkuhan pertama Mbak Maya. Sebelum itu tak terbetik pikiran untuk selingkuh, apalagi tidur dengan laki-laki lain selain Mas Wib.
Bermacam gaya kami lakukan. Termasuk oral, dan sebuah sedotan kuat menjelang saya orgasme. Semprotan mani menerjang tenggorokan Mbak Maya. Itulah pertama kali mani saya diminum perempuan. Yeni pun tidak pernah. Tidak mau. Jijik katanya. Menjelang pagi, saat tulang kami seperti dilolosi, saya kembali ke kamar. Tidur.
Saya tidak berani mengulanginya lagi. Perasaan menyesal tumpah-ruah ketika saya bertemu istri saya. Mungkin itu juga yang dirasakan Mbak Maya. Selepas itu dia mencoba menghindari pembicaraan yang menjurus ke tempat tidur. Kami bersikap biasa-biasa, seolah tidak pernah terjadi apa pun.
Ketika tidur di samping istri saya, saya berjanji dalam hati Tidak akan selingkuh lagi. Ternyata janji tinggal janji. Nafsu besar lebih mengusik saya. Terutama saat istri saya ke luar kota dan keinginan bersetubuh mendesak-desak dalam diri saya. Rasanya ingin mengulanginya dengan Mbak Maya. Tapi tampaknya mustahil. Mbak Maya benar-benar tidak memberi kesempatan kepada saya. Dia tidak lagi mau masuk kamar saya. Jika ada perlu di menyuruh Rosi, atau berteriak di luar kamar, memanggil saya. Bahkan mulai jarang menginap.
Akhirnya saya kembali ke sasaran awal saya. Rosi. Mungkinkah saya menyetubuhi adik istri saya? Uhh. Mustahil. Kalau hamil? Beda dengan Mbak Maya. Kepada dia saya tidak ragu untuk mengeluarkan benih saya ke dalam rahimnya. Kalaupun hamil, tak masalah kan. Paling-paling kalau anaknya lahir dan mirip dengan saya yaa banyak cara untuk menepis tuduhan. Lagian masak sih pada curiga?
Pengalaman Bersama Tante Yossie
Cerita ini adalah sebuah pengalaman saya yang terjadi sekitar 1 tahun yang lalu. Ini adalah pengalaman yang tidak akan pernah saya lupakan bersama Tante Yossie. Umur saya sekarang adalah 23 tahun, saya (Donnie) baru saja menyelesaikan kuliah saya di sebuah perguruan swasta yang terkenal di Jakarta.
Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya mempunyai teman bermain yang cukup akrab, namanya Jessy. Dia adalah teman dekat saya sejak perkenalan pertama kali ketika masih duduk di bangku SMP. Karena hubungan kami sangat dekat, maka saya sering bermain ke rumahnya di kawasan Menteng. Hampir tiap minggu pasti saya bermain ke rumahnya, entah untuk mengajaknya pergi atau hanya bermain di rumahnya saja. Karena hubungan kami yang dekat, maka hubungan saya dengan keluarganya cukup dekat pula. Apalagi dengan Tante Yossie, yang tidak lain adalah ibu kandung Jessy. Perlu anda ketahui, Tante Yossie menikah di umur yang sangat muda dengan Om Anwar. Tante Yossie melahirkan Jessy ketika masih berumur 18 tahun. Selain Jessy, Tante Yossie juga mempunyai anak lagi yaitu George yang baru berumur 2 tahun saat itu. Memang perbedaan umurnya dengan Jessy sangat jauh, apakah mungkin Tante Yossie memang ingin mempunyai anak lagi ataukah..? Setiap hari Tante Yossie hanya di rumah saja, sedangkan Om Anwar-nya adalah seorang karyawan perusahaan asing yang cukup sukses. Pada akhirnya ketika baru menginjak SMA tahun ke-2 hubungan saya dan Jessy serta dengan keluarganya putus, ketika ternyata mereka sekeluarga harus pindah ke Jerman untuk mengikuti Om Anwar yang mendapat pekerjaan di Jerman.
Namun kira–kira setahun yang lalu saya mendapat berita bahwa Jessy sedang liburan ke Jakarta. Tentu saja saya senang sekali karena bisa bertemu teman lama saya. Ketika sudah berada di Jakarta, Jessy menelepon saya dan dia menyuruh saya datang ke apartmentnya di kawasan Kuningan. Dan akhirnya saya pun datang bertemu dengan dia di apartmentnya. Ketika datang saya sangat kaget, karena ternyata Tante Yossie sudah tinggal kembali di Jakarta. Tante Yossie ternyata tidak terlalu betah dengan suasana di Jerman, kira–kira setelah 1 tahun di Jerman dia memutuskan bersama George untuk kembali ke Jakarta. Sedangkan Om Anwar dan Jessy tetap tinggal di sana. George sekarang sudah sekolah pada sebuah SD swasta terkenal di kawasan Lippo Karawaci.
Ketika bertemu dengan Jessy maupun dengan anggota keluarganya yang lain, saya sangat senang sekali, karena sudah lama sekali saya tidak berjumpa dengan mereka semua. Namun setelah kira–kira 2 minggu berada di Jakarta untuk liburan, akhirnya Jessy harus kembali ke Jerman untuk meneruskan studinya. Namun setelah 1 minggu Jessy balik ke Jerman, tiba–tiba saya mendapat telepon dari nomor HP yang biasa dipakai Jessy ketika dia berada di Jakarta, dan ternyata setelah saya ingat nomor tersebut adalah nomor HP Tante Yossie.
"Don.. Tante nih, kamu lagi dimana?" tanya si Tante.
"Saya baru saja habis makan siang tuh sama teman saya Tante, ada apa memangnya?" tanyaku kembali.
"Gini.. ada yang aneh sama TV di rumah Tante, kamu bisa tolong kemari tidak?" tanyanya.
"Yah.. bisa deh Tante, cuman kira-kira 2 jam lagi deh yah," jawab saya.
Akhirnya saya datang juga ke apartmentnya untuk membantunya. Setelah sampai di apartmentnya alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Yossie memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi bagiku, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Yossie masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam "BL" seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira–kira 36B. Ketika saya mengecek TV-nya ternyata memang ada yang rusak. Waktu saya sedang berusaha mengeceknya tiba–tiba Tante Yossie menempel di belakang saya. Mula–mula saya tidak menaruh curiga sama sekali mungkin karena dia ingin tahu bagian mana yang rusak, namun lama–lama saya merasakan ada sesuatu yang menempel di punggung saya, yaitu payudaranya yang montok. Setelah TV berhasil saya benarkan, kami berdua akhirnya duduk di ruang keluarganya sambil menonton acara TV dan berbicara tentang kabar saya.
"Don, kamu masih seperti yang dulu saja yah?" tanya Tante Yossie.
"Agh.. Tante bisa aja deh, emang nggak ada bedanya sama sekali apa?" jawabku.
"Iyah tuh.. masih seperti yang dulu saja, cuman sekarang pastinya sudah dewasa dong.." tanyanya.
Lalu belum saya menjawab pertanyaannya yang satu itu, tiba–tiba tangan Tante Yossie sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.
"Don.. mau kan tolongin Tante?" tanya si Tante dengan manja.
"Loh.. tolongin apalagi nih Tante?" jawabku.
"Tolong memuaskan Tante, Tante kesepian nih.." jawab si Tante.
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Yossie yang memiliki rambut sebahu dengan warna rambut yang highlight, saya benar–benar tidak membayangkan kalau ibu teman dekatku sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk "bercinta" dengan Tante Yossie ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.
"Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong?" tanyaku sambil bercanda.
"Yah.. kamu pikir sendiri dong, kan kamu sudah dewasa kan.." jawabnya.
Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulailah memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas–remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Yossie juga tidak mau kalah, ia langsung meremas–remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini, apalagi setelah kepulangannya dari Jerman. Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu seperti di atas, Tante Yossie menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya dia langsung melucuti semua baju saya, pertama–tama dia melepas kemeja saya kancing perkancing sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi's saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya. "Wah.. Don, gede juga nih punya kamu.." kata si Tante sambil bercanda. "Masa sih Tante.. perasaan biasa–biasa saja deh," jawabku. Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Yossie yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.
Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba–tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas–remas, sementara itu Tante Yossie terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit–gigit putingnya yang sudah mengeras.
"Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Don.." desahnya.
"Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah?" kataku.
Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitorisnya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu–bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat–jilat kemaluan si Tante dengan pelan–pelan. "Ogh.. Don, pintar sekali yah kamu merangsang Tante.." dengan suara yang mendesah. "Wah.. natural tuh Tante, padahal saya belum pernah sampai sejauh ini loh.." jawabku. Tak terasa, tahu–tahu rambutku dijambaknya dan tiba–tiba tubuh tante mengejang dan aku merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, cuma berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apapun tentunya sudah tidak menjadi masalah.
Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar–benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Yossie sekarang meminta saya untuk memasukan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.
"Don.. ayoo dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih," minta si Tante.
"Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana.." tanyaku.
"Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang–tenang aja deh," sambil berusaha meyakinkanku.
Benar–benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya. Walaupun sakitnya juga lumayan. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan, karena masih terasa sakit. "Ahh.. dorong terus dong Don.." minta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali. Mendengar desahannya saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat walaupun rasa sakit juga terasa. Akhirnya saya mulai terbiasa dan mulai mendorong dengan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas–remas payudaranya, sampai tiba–tiba tubuh Tante Yossie mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya. Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar–benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, dan tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.
"Oh.. oh.. nikmat sekali Donniie..!" teriak si Tante.
"Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih.." kata saya.
"Sabar yah Don.. tunggu sebentar lagi dong, Tante juga udah mau keluar lagi nih.." jawab si Tante.
Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante. "Arghh..!" teriak si Tante Yossie. Tante Yossie kemudian mencakar pundak saya sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot–otot kemaluannya benar–benar meremas batang kemaluanku. Setelah itu kami berdua letih dan langsung tidur saja di atas ranjangnya. Tanpa disadari setelah 3 jam tertidur, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke dapur. Ketika di dapur saya melihat Tante Yossie dalam keadaan telanjang, mungkin dia sudah biasa seperti itu. Entah kenapa, tiba–tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata–kata, saya langsung memeluk Tante Yossie dari belakang, dan mulai lagi meremas–remas payudaranya dan pantatnya yang bahenol serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.
"Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya?" kataya sambil tertawa kecil.
"Agh Tante bisa aja deh," jawabku sambil menciumi bibirnya kembali.
Saking nafsunya, saya mengajak untuk sekali lagi bersenggama dengan si Tante, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Yossie kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di dapurnya. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya doggie style."Um.. dorong lebih keras lagi dong Don.." desahnya. Semakin nafsu saja aku mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokanku kepada si Tante, sementara itu tanganku menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.
"Don.. mandi yuk?" mintanya.
"Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah?" jawab saya.
Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya mendudukkan Tante Yossie di atas wastafel, dan kemudian saya kembali menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.
"Hm.. nikmat sekali jilatanmu Don.. agghh.." desahnya.
"Don.. kamu sering–sering ke sini dong.." katanya dengan nafas memburu.
"Tante, kalo tahu ada service begini mah saya tiap hari kalau bisa juga mau," jawabku sambil tersenyum.
Setelah puas menjilatinya, saya memasukkan batang kemaluan saya kembali ke lubang kemaluan Tante Yossie. Kali ini, dorongan saya sudah semakin kuat, karena rasa sakit saya sudah mulai berkurang ataukah saya sudah mulai terbiasa yah? Bosan dengan gaya tersebut, saya duduk di atas kloset dan Tante Yossie saya dudukkan di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini saya sudah mulai tidak terlalu merasakan sakit sama sekali, namun rasa nikmat lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat akhirnya saya "KO" kembali, saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Yossie kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.
Setelah selesai mandi, Tante Yossie memasakkan makan malam untuk kami berdua, dan setelah itu saya pamitan untuk balik ke rumah. Setelah kajadian itu saya baru tahu bahwa kesepian seorang Tante dapat membawa nikmat juga kadang–kadang. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan bersetubuhan. Kami biasanya melakukan di apartmetnya di kala anaknya George sedang sekolah atau les. Dan sering juga Tante mem-booking hotel berbintang dan kami bertemu di kamar.
Dulu ketika saya masih duduk di bangku SMA, saya mempunyai teman bermain yang cukup akrab, namanya Jessy. Dia adalah teman dekat saya sejak perkenalan pertama kali ketika masih duduk di bangku SMP. Karena hubungan kami sangat dekat, maka saya sering bermain ke rumahnya di kawasan Menteng. Hampir tiap minggu pasti saya bermain ke rumahnya, entah untuk mengajaknya pergi atau hanya bermain di rumahnya saja. Karena hubungan kami yang dekat, maka hubungan saya dengan keluarganya cukup dekat pula. Apalagi dengan Tante Yossie, yang tidak lain adalah ibu kandung Jessy. Perlu anda ketahui, Tante Yossie menikah di umur yang sangat muda dengan Om Anwar. Tante Yossie melahirkan Jessy ketika masih berumur 18 tahun. Selain Jessy, Tante Yossie juga mempunyai anak lagi yaitu George yang baru berumur 2 tahun saat itu. Memang perbedaan umurnya dengan Jessy sangat jauh, apakah mungkin Tante Yossie memang ingin mempunyai anak lagi ataukah..? Setiap hari Tante Yossie hanya di rumah saja, sedangkan Om Anwar-nya adalah seorang karyawan perusahaan asing yang cukup sukses. Pada akhirnya ketika baru menginjak SMA tahun ke-2 hubungan saya dan Jessy serta dengan keluarganya putus, ketika ternyata mereka sekeluarga harus pindah ke Jerman untuk mengikuti Om Anwar yang mendapat pekerjaan di Jerman.
Namun kira–kira setahun yang lalu saya mendapat berita bahwa Jessy sedang liburan ke Jakarta. Tentu saja saya senang sekali karena bisa bertemu teman lama saya. Ketika sudah berada di Jakarta, Jessy menelepon saya dan dia menyuruh saya datang ke apartmentnya di kawasan Kuningan. Dan akhirnya saya pun datang bertemu dengan dia di apartmentnya. Ketika datang saya sangat kaget, karena ternyata Tante Yossie sudah tinggal kembali di Jakarta. Tante Yossie ternyata tidak terlalu betah dengan suasana di Jerman, kira–kira setelah 1 tahun di Jerman dia memutuskan bersama George untuk kembali ke Jakarta. Sedangkan Om Anwar dan Jessy tetap tinggal di sana. George sekarang sudah sekolah pada sebuah SD swasta terkenal di kawasan Lippo Karawaci.
Ketika bertemu dengan Jessy maupun dengan anggota keluarganya yang lain, saya sangat senang sekali, karena sudah lama sekali saya tidak berjumpa dengan mereka semua. Namun setelah kira–kira 2 minggu berada di Jakarta untuk liburan, akhirnya Jessy harus kembali ke Jerman untuk meneruskan studinya. Namun setelah 1 minggu Jessy balik ke Jerman, tiba–tiba saya mendapat telepon dari nomor HP yang biasa dipakai Jessy ketika dia berada di Jakarta, dan ternyata setelah saya ingat nomor tersebut adalah nomor HP Tante Yossie.
"Don.. Tante nih, kamu lagi dimana?" tanya si Tante.
"Saya baru saja habis makan siang tuh sama teman saya Tante, ada apa memangnya?" tanyaku kembali.
"Gini.. ada yang aneh sama TV di rumah Tante, kamu bisa tolong kemari tidak?" tanyanya.
"Yah.. bisa deh Tante, cuman kira-kira 2 jam lagi deh yah," jawab saya.
Akhirnya saya datang juga ke apartmentnya untuk membantunya. Setelah sampai di apartmentnya alangkah kagetnya saya, ternyata Tante Yossie memakai baju yang sangat seksi. Yah, memang badannya cukup seksi bagiku, karena walaupun sudah mulai berumur, Tante Yossie masih sempat menjaga tubuhnya dengan melakukan senam "BL" seminggu 3 kali. Tubuhnya yang ideal menurut saya mempunyai tinggi sekitar 168 cm, dan berat sekitar 48 kg, ditambah ukuran payudaranya kira–kira 36B. Ketika saya mengecek TV-nya ternyata memang ada yang rusak. Waktu saya sedang berusaha mengeceknya tiba–tiba Tante Yossie menempel di belakang saya. Mula–mula saya tidak menaruh curiga sama sekali mungkin karena dia ingin tahu bagian mana yang rusak, namun lama–lama saya merasakan ada sesuatu yang menempel di punggung saya, yaitu payudaranya yang montok. Setelah TV berhasil saya benarkan, kami berdua akhirnya duduk di ruang keluarganya sambil menonton acara TV dan berbicara tentang kabar saya.
"Don, kamu masih seperti yang dulu saja yah?" tanya Tante Yossie.
"Agh.. Tante bisa aja deh, emang nggak ada bedanya sama sekali apa?" jawabku.
"Iyah tuh.. masih seperti yang dulu saja, cuman sekarang pastinya sudah dewasa dong.." tanyanya.
Lalu belum saya menjawab pertanyaannya yang satu itu, tiba–tiba tangan Tante Yossie sudah memegang tangan saya duluan, dan tentu saja saya kaget setengah mati.
"Don.. mau kan tolongin Tante?" tanya si Tante dengan manja.
"Loh.. tolongin apalagi nih Tante?" jawabku.
"Tolong memuaskan Tante, Tante kesepian nih.." jawab si Tante.
Astaga, betapa kagetnya saya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Tante Yossie yang memiliki rambut sebahu dengan warna rambut yang highlight, saya benar–benar tidak membayangkan kalau ibu teman dekatku sendiri yang meminta seperti itu. Memang tidak pernah ada keinginan untuk "bercinta" dengan Tante Yossie ini, karena selama ini saya menganggap dia sebagai seorang ibu yang baik dan bertanggung jawab.
"Wah.. saya harus memuaskan Tante dengan apa dong?" tanyaku sambil bercanda.
"Yah.. kamu pikir sendiri dong, kan kamu sudah dewasa kan.." jawabnya.
Lalu akhirnya saya terbawa nafsu setan juga, dan mulailah memberanikan diri untuk memeluknya dan kami mulai berciuman di ruang keluarganya. Dimulai dengan mencium bibirnya yang tipis, dan tanganku mulai meremas–remas payudaranya yang masih montok itu. Tante Yossie juga tidak mau kalah, ia langsung meremas–remas alat kelaminku dengan keras. Mungkin karena selama ini tidak ada pria yang dapat memuaskan nafsu seksnya yang ternyata sangat besar ini, apalagi setelah kepulangannya dari Jerman. Akhirnya setelah hampir selama setengah jam kami berdua bercumbu seperti di atas, Tante Yossie menarik saya ke kamar tidurnya. Sesampainya di kamar tidurnya dia langsung melucuti semua baju saya, pertama–tama dia melepas kemeja saya kancing perkancing sambil menciumi dada saya. Bukan main nafsunya si Tante, pikirku. Dan akhirnya sampailah pada bagian celana. Betapa nafsunya dia ingin melepaskan celana Levi's saya. Dan akhirnya dia dapat melihat betapa tegangnya batang kemaluan saya. "Wah.. Don, gede juga nih punya kamu.." kata si Tante sambil bercanda. "Masa sih Tante.. perasaan biasa–biasa saja deh," jawabku. Dalam keadaan saya berdiri dan Tante Yossie yang sudah jongkok di depan saya, dia langsung menurunkan celana dalam saya dan dengan cepatnya dia memasukkan batang kemaluan saya ke dalam mulutnya. Aghh, nikmat sekali rasanya. Karena baru pertama kali ini saya merasakan oral seks. Setelah dia puas melakukan oral dengan kemaluan saya, kemudian saya mulai memberanikan diri untuk bereaksi.
Sekarang gantian saya yang ingin memuaskan si Tante. Saya membuka bajunya dan kemudian saya melepaskan celana panjangnya. Setelah melihat keadaan si Tante dalam keadaan tanpa baju itu, tiba–tiba libido seks saya menjadi semakin besar. Saya langsung menciumi payudaranya sambil meremas–remas, sementara itu Tante Yossie terlihat senangnya bukan main. Lalu saya membuka BH hitamnya, dan mulailah saya menggigit–gigit putingnya yang sudah mengeras.
"Oghh.. saya merindukan suasana seperti ini Don.." desahnya.
"Tante, saya belum pernah gituan loh, tolong ajarin saya yah?" kataku.
Karena saya sudah bernafsu sekali, akhirnya saya mendorong Tante jatuh ke ranjangnya. Dan kemudian saya membuka celana dalamnya yang berwarna hitam. Terlihat jelas klitorisnya sudah memerah dan liang kemaluannya sudah basah sekali di antara bulu–bulu halusnya. Lalu saya mulai menjilat–jilat kemaluan si Tante dengan pelan–pelan. "Ogh.. Don, pintar sekali yah kamu merangsang Tante.." dengan suara yang mendesah. "Wah.. natural tuh Tante, padahal saya belum pernah sampai sejauh ini loh.." jawabku. Tak terasa, tahu–tahu rambutku dijambaknya dan tiba–tiba tubuh tante mengejang dan aku merasakan ada cairan yang membanjiri kemaluannya, wah.. ternyata dia orgasme! Memang berbau aneh sih, cuma berhubung sudah dilanda nafsu, bau seperti apapun tentunya sudah tidak menjadi masalah.
Setelah itu kami merubah posisi menjadi 69, posisi ini baru pertama kalinya saya rasakan, dan nikmatnya benar–benar luar biasa. Mulut Tante menjilati kemaluan saya yang sudah mulai basah dan begitupun mulut saya yang menjilat-jilat liang kemaluannya. Setelah kami puas melakukan oral seks, akhirnya Tante Yossie sekarang meminta saya untuk memasukan batang kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya.
"Don.. ayoo dong, sekarang masukin yah, Tante sudah tidak tahan nih," minta si Tante.
"Wah.. saya takut kalo Tante hamil gimana.." tanyaku.
"Nggak usah takut deh, Tante minum obat kok, pokoknya kamu tenang–tenang aja deh," sambil berusaha meyakinkanku.
Benar–benar nafsu setan sudah mempengaruhi saya, dan akhirnya saya nekad memasukan kemaluan saya ke dalam lubang kemaluannya. Oghh, nikmatnya. Walaupun sakitnya juga lumayan. Setelah akhirnya masuk, saya melakukan gerakan maju-mundur dengan pelan, karena masih terasa sakit. "Ahh.. dorong terus dong Don.." minta si Tante dengan suara yang sudah mendesah sekali. Mendengar desahannya saya menjadi semakin nafsu, dan saya mulai mendorong dengan kencang dan cepat walaupun rasa sakit juga terasa. Akhirnya saya mulai terbiasa dan mulai mendorong dengan cepat. Sementara itu tangan saya asyik meremas–remas payudaranya, sampai tiba–tiba tubuh Tante Yossie mengejang kembali. Astaga, ternyata dia orgasme yang kedua kalinya. Dan kemudian kami berganti posisi, saya di bawah dan dia di atas saya. Posisi ini adalah idaman saya kalau sedang bersenggama. Dan ternyata posisi pilihan saya ini memang tidak salah, benar–benar saya merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan posisi ini. Sambil merasakan gerakan naik-turunnya pinggul si Tante, dan tangan saya tetap sibuk meremas payudaranya lagi.
"Oh.. oh.. nikmat sekali Donniie..!" teriak si Tante.
"Tante.. saya kayaknya sudah mau keluar nih.." kata saya.
"Sabar yah Don.. tunggu sebentar lagi dong, Tante juga udah mau keluar lagi nih.." jawab si Tante.
Akhirnya saya tidak kuat menahan lagi, dan keluarlah cairan mani saya di dalam liang kemaluan si Tante, begitu juga dengan si Tante. "Arghh..!" teriak si Tante Yossie. Tante Yossie kemudian mencakar pundak saya sementara saya memeluk badannya dengan erat sekali. Sungguh luar biasa rasanya, otot–otot kemaluannya benar–benar meremas batang kemaluanku. Setelah itu kami berdua letih dan langsung tidur saja di atas ranjangnya. Tanpa disadari setelah 3 jam tertidur, saya akhirnya bangun. Saya memakai baju saya kembali dan menuju ke dapur. Ketika di dapur saya melihat Tante Yossie dalam keadaan telanjang, mungkin dia sudah biasa seperti itu. Entah kenapa, tiba–tiba sekarang giliran saya yang nafsu melihat pinggulnya dari belakang. Tanpa bekata–kata, saya langsung memeluk Tante Yossie dari belakang, dan mulai lagi meremas–remas payudaranya dan pantatnya yang bahenol serta menciumi lehernya. Tante pun membalasnya dengan penuh nafsu juga. Tante langsung menciumi bibir saya, dan memeluk saya dengan erat.
"Ih.. kamu ternyata nafsuan juga yah anaknya?" kataya sambil tertawa kecil.
"Agh Tante bisa aja deh," jawabku sambil menciumi bibirnya kembali.
Saking nafsunya, saya mengajak untuk sekali lagi bersenggama dengan si Tante, dan si Tante setuju-setuju saja. Tanpa ada perintah dari Tante Yossie kali ini saya langsung membuka celana dan baju saya kembali, sehingga kami dalam keadaan telanjang kembali di dapurnya. Karena keadaan tempat kurang nyaman, maka kami hanya melakukannya dengan gaya doggie style."Um.. dorong lebih keras lagi dong Don.." desahnya. Semakin nafsu saja aku mendengar desahannya yang menurut saya sangat seksi. Maka semakin keras juga sodokanku kepada si Tante, sementara itu tanganku menjamah semua bagian tubuhnya yang dapat saya jangkau.
"Don.. mandi yuk?" mintanya.
"Boleh deh Tante, berdua yah tapinya, terus Tante mandiin saya yah?" jawab saya.
Akhirnya kami berdua yang telanjang menuju ke kamar mandi. Di kamar mandi saya mendudukkan Tante Yossie di atas wastafel, dan kemudian saya kembali menciumi kemaluannya yang mulai basah kembali. Dan Tante mulai terangsang kembali.
"Hm.. nikmat sekali jilatanmu Don.. agghh.." desahnya.
"Don.. kamu sering–sering ke sini dong.." katanya dengan nafas memburu.
"Tante, kalo tahu ada service begini mah saya tiap hari kalau bisa juga mau," jawabku sambil tersenyum.
Setelah puas menjilatinya, saya memasukkan batang kemaluan saya kembali ke lubang kemaluan Tante Yossie. Kali ini, dorongan saya sudah semakin kuat, karena rasa sakit saya sudah mulai berkurang ataukah saya sudah mulai terbiasa yah? Bosan dengan gaya tersebut, saya duduk di atas kloset dan Tante Yossie saya dudukkan di atas saya, dan batang kemaluan saya kembali dibimbingnya masuk ke dalam lubang kemaluannya. Kali ini saya sudah mulai tidak terlalu merasakan sakit sama sekali, namun rasa nikmat lebih banyak terasa. Goyangan si Tante yang naik-turun yang makin lama makin cepat membuat akhirnya saya "KO" kembali, saya mengeluarkan air mani ke dalam lubang kemaluannya. Tante Yossie kemudian menjilati kemaluan saya yang sudah berlumuran dengan air mani, dihisapnya semua sampai bersih. Setelah itu kami mandi bersama.
Setelah selesai mandi, Tante Yossie memasakkan makan malam untuk kami berdua, dan setelah itu saya pamitan untuk balik ke rumah. Setelah kajadian itu saya baru tahu bahwa kesepian seorang Tante dapat membawa nikmat juga kadang–kadang. Sampai sekarang kami masih sering bertemu dan melakukan bersetubuhan. Kami biasanya melakukan di apartmetnya di kala anaknya George sedang sekolah atau les. Dan sering juga Tante mem-booking hotel berbintang dan kami bertemu di kamar.
Salah Sambung
Untuk menyelesaikan tugas kuliah, aku harus meminjam buku dari teman. Tapi, sayang bukunya sedang dipinjam oleh teman ceweknya. Dia menyarankan untuk menelepon temannya, siapa tahu sudah selesai. Dia lalu memberi nomor telepon, kucatat dan langsung aku menelponnya.
telepon diangkat, suara cewek menyapa dari seberang sana. Waktu kutanya nama teman tersebut, dijawab tidak ada. Rupanya salah sambung. Entah temanku yang salah memberi nomor, atau aku yang salah catat. Yang pasti, karena aku merasa cewek penerima telepon itu tidak mau terburu-buru memutuskan hubungan, aku juga tidak langsung menutup telepon. Pendek kata, terjadilah perkenalan dan dialog yang cukup panjang. Aku jadi tahu dia tinggal di daerah Lebak Bulus bersama pembantu, adik perempuan dan anak ceweknya. Erni, begitu namanya, berumur 36 tahun, dan sudah lama menjanda.
Telepon salah sambung itu berlanjut dengan pertemuan. Sebab, Erni bilang lebih nikmat kalau kita ngobrol langsung, jadi dia memintaku datang ke rumahnya, saat itu juga. Tidak peduli dengan tugas kuliah, buru-buru aku tancap gas ke Lebak Bulus. Sampai di sana Erni sudah menyambutku, cuma memakai daster, seperti yang tadi dia bilang di telepon.
Setelah berkenalan, Erni mengajakku masuk ke ruang tamu. Dia bertanya, aku mau minum apa?, Seperti biasa, aku minta kopi. Sambil menunggu Erni membuat kopi, aku memperhatikan suasana rumah. Di ruang tengah yang bersebelahan dengan ruang tamu cuma ada pembantunya sedang asyik nonton TV bersama adik perempuannya.
Tidak lama Erni keluar membawa secangkir kopi panas. Waktu meletakkan cangkir kopi di meja, badannya membungkuk, dan karena dia tidak memakai BH, tanpa tedeng aling-aling aku menyaksikan dua gunung putih indah tergantung di dadanya, seperti mau jatuh ke lantai. Tapi tidak lama, karena dia segera berdiri dan langsung duduk. Kami lalu ngobrol akrab meneruskan omongan di telepon tadi. Di tengah pembicaraan, aku memintanya untuk mengambilkan segelas air putih karena leherku terasa kering. Mungkin karena selama ngobrol aku terus-terusan membayangkan payudaranya yang indah. Apalagi, pembicaraan mulai mengarah kesana.
Sekali lagi, waktu meletakkan gelas di meja, aku menyaksikan keindahan "buah menggelantung" di dadanya. Kali ini aku tidak tahan lagi.
"Sebenernya sih sekarang yang paling nikmat minum susu, tapi adanya cuma air putih..", kataku.
Dia langsung sadar apa yang terjadi. Refleks tangannya menutupi dasternya. Sambil senyum dia berkata, "Susunya ada, tapi cuma buat Ingrid (nama anaknya).."
Aku makin berani, "Kalo gitu, aku mau pinjem sama Ingrid, pasti diberi, Mana dia?"
Rupanya si gadis cilik sudah tidur. Aku makin nekat dan memaksa, "Tolong bangunin deh, aku ngomong sebentar mau pinjem botol susunya, nanti dia juga tidur lagi.."
Erni tertawa, tapi tampaknya tahu kalau aku sudah bernafsu kepadanya. Tidak lama kemudian, dia pindah duduk ke sampingku.
Lalu bicara pelan seperti berbisik, "Beneran mau pinjem sama Ingrid?".
Aku menggangguk dan langsung berdiri. Dia juga berdiri dan mengajakku masuk. Di ruang tengah cuma ada adik perempuannya sendirian asyik nonton TV sambil tiduran di karpet. Pembantunya rupanya sudah tidur duluan.
Erna, begitu nama adik Erni, sudah menikah, belum mempunyai anak, tapi sedang pisah ranjang dengan suaminya. Dia lebih cantik dan seksi dibanding Erni. Apalagi dengan busananya malam itu, singlet tipis tanpa BH memperlihatkan putingnya dan short super pendek yang memamerkan keputihan, kemulusan, dan kepadatan pahanya. Erna tidak kelihatan risih, atau berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka, waktu diperkenalkan kepadaku.
Erni kemudian menarik lenganku untuk mengikutinya sambil bicara kepada Erna, "Pintunya jangan lupa dikunci ya..". Yang menakjubkan, Erni bukannya mengajakku ke kamar Ingrid, anaknya, tapi malah masuk ke kamarnya yang agak berantakan. Sebuah ranjang ukuran king size seperti menanti kedatangan kita. Tanpa basa-basi lagi, aku cium Erni. aku jilatin kuping dan lehernya. Sementara tanganku memeluk pantatnya keras-keras sambil ngeremas-remas. Tanganku yang satu lagi langsung menelusup ke balik dasternya untuk meremas-remas payudaranya. Erni tertawa kecil melihatku sudah begitu bernafsu. Dia segera mencopot daster dan CD-nya, lalu membantuku melepaskan pakaian.
Setelah sama-sama polos, dia menarikku ke atas ranjang. Tanpa memberi kesempatan sedikit juga, dia langsung menindihku. Dengan gerakan yang sangat agresif dan berpengalaman dia mencium habis bibirku, menjilati badanku, sementara liang kewanitaannya digesek-gesek naik-turun di atas penisku. Asyik benar. Apalagi jilatannya benar-benar yahud. Dari leher, dada, terus turun sampai ke selangkangan. Bijiku dijilatin, terus ditelen dan disedotnya dengan lembutnya. Lubang pantatku juga dijilatin habis. Dan tentu saja, penisku jadi santapan utamanya. Mula-mula dijilatin bagian bawahnya, terutama pada lipatan di bawah kepala penis. Setelah itu dia masukkan penisku ke dalam mulutnya, mula-mula cuma kepalanya, batangnya, terus dimasukkan lagi sampai mentok di kerongkongannya. Lalu dia kulumnya penisku seperti anak kecil makan es lilin.
Diservis begitu rupa, aku tidak cuma tinggal diam. Tanganku gerayangan ke sana kemari, melakukan serangan balik. Mula-mula cuma mengelus-elus punggung dan pahanya. Terus ngeremas-remas payudaranya. Pindah lagi ke liang kewanitaannya. Sampai-sampai dia yang awalnya seperti 'mau menang sendiri' menjadi pasrah, membiarkan posisi badannya kuputar. Sambil terus menjilati dan menyedot penisku, kaki Erni sekarang seperti menjepit kepalaku. Berarti, kemaluannya yang berbulu agak jarang tapi kelihatan sangat tebal itu menantang di depan mataku. Tanpa buang-buang waktu, kujilat lubang kenikmatan itu. Dan itulah rupanya titik terakhir pertahanan Erni.
Belum terlalu lama aku melahap bibir kewanitaannya, Erni tiba-tiba berubah menjadi seperti kuda liar nan ganas. Dengan penuh birahi dia memberikan kenikmatan seks yang luar biasa. Dia begitu ganas memberi rangsangan di sekujur badanku. Dia juga begitu agresif menancapkan lubang senggamanya ke penisku. Dan dia sungguh liar ketika menggoyang-goyangkan pantatnya turun-naik, diputar ke kiri ke kanan, turun-naik.., penisku terasa dikucek-dikucek, dibilas dan diperas--seperti (mungkin) kalau dimasukkan ke dalam lubang mesin cuci.
Permainan seks yang betul-betul heboh itu berakhir dengan semprotan spermaku di dalam mulut Erni. Setelah istirahat sebentar, ronde kedua dimulai. Kali ini berlangsung jauh lebih liar lagi, sampai badanku dan dia penuh bekas gigitan dan cakaran. Setelah ronde kedua berakhir, Erni keluar kamar dan masuk lagi diikuti Erna adiknya yang rupanya sudah ketiduran di depan TV. Dengan wajah tidak peduli, seperti tidak ada sesuatu yang luar biasa, Erna merebahkan diri di atas ranjang, persis di sampingku yang masih bugil dan salah tingkah karena tidak tahu mesti berbuat apa. Erna cuma tersenyum melihatku, kemudian membalikkan badan sambil memeluk guling yang dibawanya, dan meneruskan tidurnya.
Terus terang, diam-diam, aku sebenarnya pingin benar menyetubuhi Erna. Tapi bagaimana dengan Erni yang tanpa sepotong benang di badannya mendekatiku, langsung menindih, memeluk dan mencium leherku?
telepon diangkat, suara cewek menyapa dari seberang sana. Waktu kutanya nama teman tersebut, dijawab tidak ada. Rupanya salah sambung. Entah temanku yang salah memberi nomor, atau aku yang salah catat. Yang pasti, karena aku merasa cewek penerima telepon itu tidak mau terburu-buru memutuskan hubungan, aku juga tidak langsung menutup telepon. Pendek kata, terjadilah perkenalan dan dialog yang cukup panjang. Aku jadi tahu dia tinggal di daerah Lebak Bulus bersama pembantu, adik perempuan dan anak ceweknya. Erni, begitu namanya, berumur 36 tahun, dan sudah lama menjanda.
Telepon salah sambung itu berlanjut dengan pertemuan. Sebab, Erni bilang lebih nikmat kalau kita ngobrol langsung, jadi dia memintaku datang ke rumahnya, saat itu juga. Tidak peduli dengan tugas kuliah, buru-buru aku tancap gas ke Lebak Bulus. Sampai di sana Erni sudah menyambutku, cuma memakai daster, seperti yang tadi dia bilang di telepon.
Setelah berkenalan, Erni mengajakku masuk ke ruang tamu. Dia bertanya, aku mau minum apa?, Seperti biasa, aku minta kopi. Sambil menunggu Erni membuat kopi, aku memperhatikan suasana rumah. Di ruang tengah yang bersebelahan dengan ruang tamu cuma ada pembantunya sedang asyik nonton TV bersama adik perempuannya.
Tidak lama Erni keluar membawa secangkir kopi panas. Waktu meletakkan cangkir kopi di meja, badannya membungkuk, dan karena dia tidak memakai BH, tanpa tedeng aling-aling aku menyaksikan dua gunung putih indah tergantung di dadanya, seperti mau jatuh ke lantai. Tapi tidak lama, karena dia segera berdiri dan langsung duduk. Kami lalu ngobrol akrab meneruskan omongan di telepon tadi. Di tengah pembicaraan, aku memintanya untuk mengambilkan segelas air putih karena leherku terasa kering. Mungkin karena selama ngobrol aku terus-terusan membayangkan payudaranya yang indah. Apalagi, pembicaraan mulai mengarah kesana.
Sekali lagi, waktu meletakkan gelas di meja, aku menyaksikan keindahan "buah menggelantung" di dadanya. Kali ini aku tidak tahan lagi.
"Sebenernya sih sekarang yang paling nikmat minum susu, tapi adanya cuma air putih..", kataku.
Dia langsung sadar apa yang terjadi. Refleks tangannya menutupi dasternya. Sambil senyum dia berkata, "Susunya ada, tapi cuma buat Ingrid (nama anaknya).."
Aku makin berani, "Kalo gitu, aku mau pinjem sama Ingrid, pasti diberi, Mana dia?"
Rupanya si gadis cilik sudah tidur. Aku makin nekat dan memaksa, "Tolong bangunin deh, aku ngomong sebentar mau pinjem botol susunya, nanti dia juga tidur lagi.."
Erni tertawa, tapi tampaknya tahu kalau aku sudah bernafsu kepadanya. Tidak lama kemudian, dia pindah duduk ke sampingku.
Lalu bicara pelan seperti berbisik, "Beneran mau pinjem sama Ingrid?".
Aku menggangguk dan langsung berdiri. Dia juga berdiri dan mengajakku masuk. Di ruang tengah cuma ada adik perempuannya sendirian asyik nonton TV sambil tiduran di karpet. Pembantunya rupanya sudah tidur duluan.
Erna, begitu nama adik Erni, sudah menikah, belum mempunyai anak, tapi sedang pisah ranjang dengan suaminya. Dia lebih cantik dan seksi dibanding Erni. Apalagi dengan busananya malam itu, singlet tipis tanpa BH memperlihatkan putingnya dan short super pendek yang memamerkan keputihan, kemulusan, dan kepadatan pahanya. Erna tidak kelihatan risih, atau berusaha menutupi bagian tubuhnya yang terbuka, waktu diperkenalkan kepadaku.
Erni kemudian menarik lenganku untuk mengikutinya sambil bicara kepada Erna, "Pintunya jangan lupa dikunci ya..". Yang menakjubkan, Erni bukannya mengajakku ke kamar Ingrid, anaknya, tapi malah masuk ke kamarnya yang agak berantakan. Sebuah ranjang ukuran king size seperti menanti kedatangan kita. Tanpa basa-basi lagi, aku cium Erni. aku jilatin kuping dan lehernya. Sementara tanganku memeluk pantatnya keras-keras sambil ngeremas-remas. Tanganku yang satu lagi langsung menelusup ke balik dasternya untuk meremas-remas payudaranya. Erni tertawa kecil melihatku sudah begitu bernafsu. Dia segera mencopot daster dan CD-nya, lalu membantuku melepaskan pakaian.
Setelah sama-sama polos, dia menarikku ke atas ranjang. Tanpa memberi kesempatan sedikit juga, dia langsung menindihku. Dengan gerakan yang sangat agresif dan berpengalaman dia mencium habis bibirku, menjilati badanku, sementara liang kewanitaannya digesek-gesek naik-turun di atas penisku. Asyik benar. Apalagi jilatannya benar-benar yahud. Dari leher, dada, terus turun sampai ke selangkangan. Bijiku dijilatin, terus ditelen dan disedotnya dengan lembutnya. Lubang pantatku juga dijilatin habis. Dan tentu saja, penisku jadi santapan utamanya. Mula-mula dijilatin bagian bawahnya, terutama pada lipatan di bawah kepala penis. Setelah itu dia masukkan penisku ke dalam mulutnya, mula-mula cuma kepalanya, batangnya, terus dimasukkan lagi sampai mentok di kerongkongannya. Lalu dia kulumnya penisku seperti anak kecil makan es lilin.
Diservis begitu rupa, aku tidak cuma tinggal diam. Tanganku gerayangan ke sana kemari, melakukan serangan balik. Mula-mula cuma mengelus-elus punggung dan pahanya. Terus ngeremas-remas payudaranya. Pindah lagi ke liang kewanitaannya. Sampai-sampai dia yang awalnya seperti 'mau menang sendiri' menjadi pasrah, membiarkan posisi badannya kuputar. Sambil terus menjilati dan menyedot penisku, kaki Erni sekarang seperti menjepit kepalaku. Berarti, kemaluannya yang berbulu agak jarang tapi kelihatan sangat tebal itu menantang di depan mataku. Tanpa buang-buang waktu, kujilat lubang kenikmatan itu. Dan itulah rupanya titik terakhir pertahanan Erni.
Belum terlalu lama aku melahap bibir kewanitaannya, Erni tiba-tiba berubah menjadi seperti kuda liar nan ganas. Dengan penuh birahi dia memberikan kenikmatan seks yang luar biasa. Dia begitu ganas memberi rangsangan di sekujur badanku. Dia juga begitu agresif menancapkan lubang senggamanya ke penisku. Dan dia sungguh liar ketika menggoyang-goyangkan pantatnya turun-naik, diputar ke kiri ke kanan, turun-naik.., penisku terasa dikucek-dikucek, dibilas dan diperas--seperti (mungkin) kalau dimasukkan ke dalam lubang mesin cuci.
Permainan seks yang betul-betul heboh itu berakhir dengan semprotan spermaku di dalam mulut Erni. Setelah istirahat sebentar, ronde kedua dimulai. Kali ini berlangsung jauh lebih liar lagi, sampai badanku dan dia penuh bekas gigitan dan cakaran. Setelah ronde kedua berakhir, Erni keluar kamar dan masuk lagi diikuti Erna adiknya yang rupanya sudah ketiduran di depan TV. Dengan wajah tidak peduli, seperti tidak ada sesuatu yang luar biasa, Erna merebahkan diri di atas ranjang, persis di sampingku yang masih bugil dan salah tingkah karena tidak tahu mesti berbuat apa. Erna cuma tersenyum melihatku, kemudian membalikkan badan sambil memeluk guling yang dibawanya, dan meneruskan tidurnya.
Terus terang, diam-diam, aku sebenarnya pingin benar menyetubuhi Erna. Tapi bagaimana dengan Erni yang tanpa sepotong benang di badannya mendekatiku, langsung menindih, memeluk dan mencium leherku?
Sial Membawa Nikmat
Seharian ini aku tidak karuan bekerja, suntuk benar rasanya hari ini, seharian dimarahi melulu sama boss karena kerjaanku salah terus, "Teet.." bel pulang sudah berbunyi, kesempatan ini tidak kusia-siakan, "langsung ngacir". Sore itu cuaca masih mendung karena sebelumnya hujan mengguyur dengan sangat deras. Aku berjalan keluar halaman kantor, kulihat jalanan sebagian tergenang air. Aku berdiri di trotoar jalan menunggu angkutan umum yang lewat. Hari ini memang aku tidak naik motor karena motorku sedang ada di bengkel. Entah kenapa hari ini aku sial terus dari rumah pas mau kerja motorku mendadak ngadat tidak mau distater. Sial, mana hari ini aku pagi-pagi sekali harus sudah menyerahkan laporan bulanan kepada boss. Sial benar-benar sial.
Saat aku asik melamunkan kesialanku hari ini, tanpa sadar tiba-tiba sebuah Baleno warna silver metalik melintas di depanku dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba.. "Craasshh..!" air genangan menyemprot ke seluruh tubuhku, mukaku, baju, celanaku semuanya basah kuyup. Shiit, sekali lagi shiit, lengkap sudah kesialanku hari ini. Aku memaki-maki tidak karuan. Tiba-tiba Baleno itu berhenti beberapa puluh meter dari tempat aku berdiri dan langsung mundur menuju ke arahku. "Cari penyakit," gerutuku. Aku sudah bersiap-siap mau mendampratnya jika orangnya keluar, paling tidak kumaki-maki dulu. Urusan maaf-memaafkan belakangan. Aku sudah bersiap-siap ketika pintu Baleno itu terbuka, aku terkejut ketika sebuah kaki indah terbungkus sepatu kets menapak di aspal yang basah. Sesaat kemudian munculah mahluk yang menurutku sangat cantik. Tingginya kira-kira 165 cm, kulitnya putih, kalau ditaksir-taksir umurnya sekitar 35-an, tetapi penampilannya modis sehingga tidak terkesan dewasa, tapi yang paling menarik perhatianku adalah bentuk bodinya yang sangat proporsional, "Gitar Spanyol Cing". Terbalut kaos ketat lengan cekak warna abu-abu dan legging warna hitam selutut menambah tonjolan-tonjolan tubuhnya semakin nampak nyata, sampai-sampai aku meneguk air liurku, "Glek.. glek,".
"M.. ma'af Mas.." katanya menyadarkan aku dari kekagumanku.
"Oh oh.. tidak pa.. pa.." sahutku (kok jadi aku yang gugup bathinku ").
"Maafkan saya Mas, saya tidak segaja.. lagi ngelamun jadi tidak sadar kalo ada orang," ujarnya menjelaskan.
"Mas mau pulang..? tambahnya lagi.
"Ii.. iya.." jawabku.
"Oke.. sebagai pernyataan maaf saya, gimana kalo Mas saya antar pulang. Ayo mari masukMas!" pintanya tanpa menunggu persetujuanku.
Wah kesempatan yang tidak boleh kusia-siakan nih.
"Bagaimana ya.." kataku.
"Please.. " katanya.
Tanpa ba bi Bu lagi aku langsung masuk ke Balenonya yang langsung meluncur.
"Ngomong-ngomong dari tadi kita belum kenalan, saya.. Conny," katanya memecah kekakuan.
"Saya Irwan, Mbak," timpalku.
Ternyata Mbak Conny enak diajak ngomong tentang apa saja, orangnya supel. Dan sampai aku juga tahu bahwa ia adalah istri kedua dari salah seorang pengusaha sukses yang meninggal karena kecelakaan mobil setengah tahun lalu. Menurut dia suaminya dibunuh karena persaingan dengan seteru bisnisnya.
"Maaf Mbak, kalau saya mengingatkan," kataku.
"Tidak.. papa Wan," sahutnya.
"Wan kamu tidak papa kan ke rumah Mbak dulu. Mandi dulu ya, nanti setelah itu baru kita ke rumah kamu gimana?"
"Terserah Mbak deh," kataku mengiyakan.
Kami tiba di rumahnya di salah satu kawasan pemukiman elit yang terkenal. Wah ternyata rumahnya cukup besar dan asri.
"Masuk Wan!"
"Makasih Mbak."
."Wan kamu mandi dulu ya," katanya sambil menunjukkan kamar mandi.
"Nanti Mbak siapkan pakaian untukmu, kan baju sama celana kamu basah, biar di cuci di sini saja, Mbak juga mau mandi dulu."
Kulepas semua pakaian sehingga sekarang aku sudah telanjang dan siap untuk mandi. Iseng aku mengingat Mbak Conny yang aduhai tanpa sadar "si Jonny" tiba-tiba mengeras. Aku membayangkan jika Mbak Conny mengatakan, "Wan, maukah menyenangkan Mbak?" Kurasakan "si Jonny" semakin keras seiring imajinasiku tentang Mbak Conny wajah cantiknya, kulit putihnya yang halus mulus tanpa cacat, dua gunung kembarnya yang ukuran 34 dan pantatnya yang besar. Kukocok-kocok batang kemaluanku, sementara khayalanku dengan Mbak Conny semakin menjadi-jadi, dan tiba-tiba "Cklok.." pintu dibuka, aku terkejut tanpa bisa berbuat apa-apa. Tadi aku lupa mengunci pintu kamar mandi, ternyata Mbak Conny sudah berdiri di hadapanku.
"Maaf Wan, aku lupa ngasih handuk ke kamu."
"Oh iya Mbak," kataku.
Mbak Conny tidak langsung pergi ia tertegun melihatku telanjang bulat dan sekilas kulihat ia melirik batang kemaluanku yang dari tadi sudah tegang. "Mbak mau mandi berdua denganku?" tanyaku asal. Mbak Conny tidak menolak dan juga tidak mengiyakan, naluri kelelakianku mulai jalan, kutarik lembut tangannya ke dalam dan kukunci pintu kamar mandi, tanpa menunggu reaksinya lebih lanjut kusentuh wajahnya dengan lembut, "Mbak cantik sekali," aku mulai melancarkan rayuan, "Masa sih Wan, Mbak kan sudah 30 lebih, kamu bisa saja."
Kucium pipinya dengan lembut lalu bergeser ke bibirnya yang seksi. "Wan!" keluhnya lirih, "Mbak saya sangat mengagumi Mbak," bisikku lembut di telinganya, sambil kuletakkan tanganku melingkari lehernya. Kembali kukecup lembut bibirnya, kali ini dia membalas dengan hangat, beberapa saat adegan cium itu berlangsung, tanganku mulai "bergerilya", kuusap punggungnya, terus turun ke bawah, ke bagian pantatnya, kurasakan bongkahannya masih sangat padat, kuremas-remas dengan lembut. Kali ini ia yang melingkarkan tangannya ke pinggangku, semakin erat, kurasakan gunung kembarnya menggencet dadaku kenyal dan lembut kurasakan.
Kami semakin bernafsu, batang kemaluan yang sudah dari tadi tegang tambah kurasakan berdenyut-denyut. Kurasakan aku semakin terangsang, segera saja kubuka baju mandi Mbak Conny. Terlihatlah pemandangan yang sangat indah, aku terdiam sejenak mengagumi keindahan tersebut, kulihat payudaranya yang besar dan masih kencang. Kutelusuri semua bagian tubuhnya tanpa ada bagian yang terlewatkan, sampai pada "area kenikmatan" Mbak Conny. Aku semakin terangsang karena pussy Mbak Conny mulus tanpa ditumbuhi bulu sedikitpun. Kali ini langsung kuserbu payudaranya, kuraba-raba sambil terus kissing sambil sesekali terdengar rintihannya, "Ohh.. Wan mhmm.." kujilati kupingnya terus menjalar ke leher, dada, dan sampai ke payudaranya, kujilat, kumainkan putingnya dengan lidahku, aku semakin bernafsu.
"Waan, ohh.."
"Hmm, Mbak.. Mbak cantik sekali."
Kali ini tangannya mulai kurasakan lebih aktif, dirabanya punggungku turus turun ke pantatku kemudian ke depan mencoba meraih batang kemaluanku dipegangnya dengan lembut, dikocoknya pelan-pelan sambil berkata, "Wan, punyamu lumayan besar juga. Mbak mau merasakannya Wan.. ohh," kembali erangannya terdengar karena aku masih sibuk memainkan pentil payudaranya dengan ujung lidahku.
Mulai bosan dengan payudara, kuangkat badannya, kududukkan ke pinggir bak air. Kembali aku menjilati perutnya, kukukek-kucek liang pusatnya masih dengan ujung lidahku, terdengar kembali erangannya lebih keras, "Ooouhh.. hmm.. ahh.." mungkin Mbak Conny sudah terangsang hebat. Keadaan ini tidak kubiarkan langsung kuarahkan lidah ku ke arah belahan pussy tanpa bulu yang indah sekali, tercium olehku bau khas kewanitaannya. Aku semakin bernafsu kujilati pussy Mbak Conny yang sudah mulai basah dengan lendir kumainkan ujung lidahku menelusuri setiap millimeter dari "benda enak gila" itu. Tubuh Mbak Conny semakin terguncang hebat menikmati permainan lidahku, nafasnya memburu, sudah tidak beraturan lagi sambil terus mengerang, "Oouusshh aahh," merintih tidak karuan keenakan.
Ujung lidahku masih menempel pada benda enak milik Mbak Conny kali ini bagian terakhir yang akan kugarap. Benda sebesar biji kacang yang terletak di atas lubang pussy-nya. Hooaah, hmm hh oouuhh, Wan terus sayang terus.. terus.. Ouuhh uuhh terus.." Kali ini Mbak Conny pasti hampir mencapai puncak gunung kenikmatannya, dan aku terus saja memainkan lidahku dengan ganas di liang pussy-nya yang semakin banjir oleh cairan kewanitaannya yang nikmat di lidahku. Sampai suatu saat ia menjabak rambutku, dan menekan kepalaku ke selangkangannya seakan-akan jangan sampai lepas. "Ooouuhn mm ohh.. ohh, Wan terus Wan.. Mbak mau keluarrhh.." sampai suatu sentakan hebat akibat kontraksi otot-otot badannya yang menegang. "Waan Mbak keluaar hh.."
Beberapa saat badannya masih tersengal-sengal, sambil berkata padaku,
"Wan makasih, kamu hebat, Mbak sudah lama tidak merasakannya sejak suami Mbak meninggal." "Sama-sama Mbak, saya juga sangat menikmatinya, saya suka sama Mbak," ujarku.
"Kali ini giliran kamu ya, Wan. Sekarang kamu duduk di pinggir sini," katanya.
Di kecupnya bibirku, dilumatnya, lidahnya sengaja dimasukkannya menjalari seluruh rongga mulutku sambil sesekali menghisap lidahku, kali ini aku sedikit tidak menguasai keadaan, tangan Mbak Conny masih terus memegang batang kemaluanku sambil terus mengocoknya, "Ooohh.." kali ini aku yang dibuatnya mengeluarkan suara keenakan.
Ah, lidahnya sudah hampir di puting susuku, dimainkannya lidahnya yang membuat sensasi tersendiri. "Aahh.. enak gila," sambil terus mengocok batang kemaluanku. Mbak Conny terus menjilati bagian tubuhku sampai akhirnya dia menjilati kepala kemaluan. Dia terus memainkan lidahnya menjilati, kepalanya, batangnya, biji kemaluan tidak luput dari sasaran lidahnya. "Ahh, Mbak.. enak Mbak ahh.." Mendengar rintihanku dia memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya, "Ooh.. terus Mbak.." pintaku. Turun-naik kepalanya mengisap batang kemaluanku sampai keadaan dimana aku merasakan kejang dan batang kemalaunku berdenyut-denyut sangat hebat, "Ooohh.. ohh.. aku hampir keluar Mbak.." Semakin ganas kepalanya turun-naik, semakin mempercepat kocokan dan sedotannya dan.. "Croot.. croot.. croot.." batang kemaluanku memuntahkan sperma ke dalam mulut Mbak Conny dan dengan bernafsu ditelannya sperma tersebut dan sisanya dijilatnya sampai bersih.
"Makasih Mbak," kataku.
"Sama-sama Wan," katanya dengan lembut.
"Oke sekarang kita mandi dulu biar segar dan kita ulangi lagi nanti ya di kamar."
Aku masih mengenakan handuk yang dililitkan ketika Mbak Conny datang membawa segelas susu coklat hangat dan memberikannya kepadaku.
"Minum dulu sayang, biar tambah segar."
Kuseruput coklat hangat, "Aaahh.." kurasakan kehangatan menjalari tubuhku dan kurasakan kesegaran kembali.
Kami berciuman kembali, Mbak Conny tampak sangat menikmati ciumanku ini, matanya terpejam, nafasnya mendesah, dan bibirnya dengan lembut mengecup sambil sesekali menghisap bibir dan lidahku, jari jemari lentik guruku itu mulai bergerak turun menyusup ke balik handukku menuju buah pantatku. Batang kemaluanku yang hanya ditutupi handuk kecil itu segera berdiri tegang. Bagian bawah kepala kemaluanku itupun langsung tergencet oleh perut Mbak Conny yang langsung menyalurkan getaran-getaran kenikmatan ke seluruh urat syarafku.
Jari-jemarinya mulai meraba kedua buah pantatku. Mula-mula rabaannya melingkar perlahan, makin cepat, makin cepat, sampai akhirnya dengan suara mendesah, diremas-remasnya dengan penuh nafsu. Aku mencium dan menjilati telinga Mbak Conny, sehingga membuat tubuh janda cantik itu menggelinjang-gelinjang, "Ohh Wan.. gelii.. ss.." Kuturunkan bibirku dari kuping menelusuri leher, terus turun ke dada, jari jemarinya pun terasa semakin keras meremas-remas pantatku. Seraya mengecupi areal dadanya, jemariku membuka satu persatu kancing seragam kebanggaannya itu hingga terlihat belahan payudaranya yang besar menyembul dari balik baju mandinya. Bentuknya menghadap ke atas dengan puting yang langsung mengarah ke mukaku. Amboi seksinya, tanpa membuang waktu kulahap payudara itu dengan gemas. Kusedot-sedot dan kujilati putingnya yang sudah menegang itu. Tiba-tiba tangan kanan Mbak Conny berputar ke arah depan. Dengan sekali sentak maka terjatuhlah penutup satu-satunya tubuhku itu.
Kulirik kaca lemarinya, di sana terlihat badan tegapku yang bugil tengah menunduk menghisap payudara wanita berbadan montok yang masih dibalut pakaian mandinya. Dari kaca riasnya kulihat Mbak Conny mengalihkan tangan kanannya ke arah selangkanganku dan.. "Slepp!" dalam sekejap batang kemaluanku sudah berada dalam genggamannya. Dengan lembut dan penuh perasaan ia mulai mengocok batang kemaluanku ke atas.. ke bawah.. ke atas.. ke bawah. Uff.. tak bisa kuceritakan nikmat yang kurasakan di selangkanganku itu. Apalagi ketika sesekali ia menghentikan kocokannya dan mengarahkan jempolnya ke urat yang terletak di bawah kepala batang kemaluanku.
"Aaahh.. Mbaak.. aahh.." aku hanya bisa mengerang keenakan seraya terus mengecup dan menjilati payudaranya. Tiba-tiba Mbak Conny mendorong tubuhku hingga terduduk di atas ranjang busanya dan ia sendiri kemudian berlutut dihadapan selangkanganku. Ia menengadahkan kepalanya dan menatap mataku dengan pandangan penuh nafsu.
Bersamaan dengan itu, ia menciumi kepala batang kemaluanku, kemudian menjilati lubang penisku yang sudah dipenuhi dengan cairan lengket berwarna bening. Tiba-tiba ia memasukkan penisku ke dalam mulutnya dan apa yang kurasakan berikutnya adalah kenikmatan yang tak terlukiskan. Mbak Conny memasukkan dan mengeluarkan penisku di dalam mulutnya dengan gerakan yang cepat sambil menggoyang-goyangkan lidahnya sehingga menggesek urat bawah kepala penisku itu. "Aaahh.. ouuhh.. Mbak! aakh.. ouhh.." aku hanya bisa terduduk sambil mengerang nikmat dan Mbak Conny tampak begitu menikmati kemaluanku yang berada di dalam mulutnya, sampai-sampai ia memejamkan matanya.
Tangan kiriku kembali meremas-remas payudara Mbak Conny sedangkan tangan kananku menyentuh bagian bawah buah pantatnya. "Mmmh.. mmhh..emmhh.." rintihnya sambil terus mengulum batang kemaluanku ketika kuraba-raba lubang kemaluannya. Mbak Conny semakin memperkuat sedotannya sehingga memaksaku untuk semakin mengerang tak keruan, seakan tak mau kalah, kumasukkan tanganku ke selangkangannya dari arah perut, dan dengan mudah jemariku mencapai vagina yang sudah sangat basah itu.
Dalam 3 detik jariku menyentuh sebuah daging sebesar kacang yang sudah menonjol keluar di bagian atas vagina Mbak Conny, jari tengah dan telunjukku segera mengocok "kacangnya" dengan cepat. "Mmmhh.. mmhh.. aahh.." Mbak Conny melepaskan penisku dari mulutnya untuk berteriak histeris menikmati kocokanku di klitorisnya. Sekitar 5 menit kami saling mengocok, meremas, dan menghisap diikuti dengan gelinjangan dan jeritan-jeritan histeris, ketika tiba-tiba Mbak Conny menengadahkan mukanya ke arahku dan merintih, "Wan.. please sekarang.." Tanpa menunggu kata-kata selanjutnya kuangkat tubuh janda cantik itu dari posisi berlututnya. Kusuruh dia meletakkan kedua tangannya di atas meja menghadap cermin rias sehingga Mbak Conny kini berada dalam posisi menungging. Tampak buah dadanya bergelayut seakan menantang untuk diperah. Kurenggangkan kedua kaki mulusnya, kugosok-gosokkan penisku di belahan pantatnya sebelum kuturunkan menelusuri tulang ekornya, anus dan kutempelkan di pintu belakang vaginanya.
Perlahan-lahan kusodokkan penisku ke dalam vagina kecil yang sudah sangat banjir itu, "Aaahh.." Mbak Conny menggigit bibirnya menikmati senti demi senti penisku yang tengah memasuki vaginanya, semakin dalam kumasukkan batang kemaluanku dan semakin dalam.. "Ooohh Wan.. oohh.." dan.. "Aaakhh.." jeritnya ketika dengan keras kusodokkan penisku sedalam-dalamnya di vagina janda cantik itu. Tampak janda cantik itu masih menggigit bibirnya menikmati besarnya batang kemaluanku yang terbenam penuh di dalam vaginanya. Dengan segera kupompakan kemaluanku dengan cepat dari arah belakang. Kutempelkan perut dan dadaku di punggung perempuan itu dan kedua tanganku dengan keras meremas-remas dan memelintir kedua puting buah dada Mbak Conny yang sudah sangat keras itu.
"Ohh.. ohh.. ouuhh.." Tiba-tiba Mbak Conny mengangkat kepala dan badannya ke arahku dengan menengok ke arah kiri dan menjulurkan lidahnya. Dengan cepat kusambut lidah yang menggairahkan itu dengan lidahku dan kami pun berciuman dengan posisi Mbak Conny yang tetap membelakangiku. Karena ia menegakkan badannya, Mbak Conny menaikkan kaki kirinya ke atas meja riasnya untuk memudahkan aku terus menyodokkan batang kemaluanku.
Sambil terus melumat bibirnya dan menyodok, tanganku kembali meremas-remas kedua payudaranya. Tangan kiri Mbak Conny menjambak rambut di belakang kepalaku untuk mempererat tautan bibir kami. Ketiaknya menyebarkan wangi khas yang membuatku semakin bernafsu lagi. Tiba-tiba Mbak Conny merintih-rintih sambil terus mengulum lidahku. Tampak alisnya mengerut, wajahnya mengekspresikan seakan-akan kenikmatan yang amat sangat menjalari seluruh tubuhnya, ia dengan cepat membimbing tangan kananku yang masih asyik meremas payudaranya untuk kembali memainkan kacangnya. Goyangan pinggulnya menjadi semakin cepat tak terkendali, dinding vagina mulai terasa berdenyut-denyut, tiba-tiba.. "Aaahh aahh oouuhh.. Wan.. Mbak keluaarr.. aahh.."
Malam itu beberapa kali aku dan Mbak Conny mengulangi "gulat gaya bebas" itu sampai akhirnya kami sama-sama tertidur kecapaian. Aku segera terbangun ketika menyadari ada seberkas sinar yang menerpa wajahku. Aku segera menyadari bahwa aku berada di rumah Mbak Conny. Dan ia sudah bangun dan tidak berada di kamar ini lagi, kulihat jam dinding menunjukkan pukul 10.00 dan lagi-lagi.. oh shiit, aku terlambat masuk kantor. Sial, lagi-lagi sial.
Saat aku asik melamunkan kesialanku hari ini, tanpa sadar tiba-tiba sebuah Baleno warna silver metalik melintas di depanku dengan kecepatan tinggi, tiba-tiba.. "Craasshh..!" air genangan menyemprot ke seluruh tubuhku, mukaku, baju, celanaku semuanya basah kuyup. Shiit, sekali lagi shiit, lengkap sudah kesialanku hari ini. Aku memaki-maki tidak karuan. Tiba-tiba Baleno itu berhenti beberapa puluh meter dari tempat aku berdiri dan langsung mundur menuju ke arahku. "Cari penyakit," gerutuku. Aku sudah bersiap-siap mau mendampratnya jika orangnya keluar, paling tidak kumaki-maki dulu. Urusan maaf-memaafkan belakangan. Aku sudah bersiap-siap ketika pintu Baleno itu terbuka, aku terkejut ketika sebuah kaki indah terbungkus sepatu kets menapak di aspal yang basah. Sesaat kemudian munculah mahluk yang menurutku sangat cantik. Tingginya kira-kira 165 cm, kulitnya putih, kalau ditaksir-taksir umurnya sekitar 35-an, tetapi penampilannya modis sehingga tidak terkesan dewasa, tapi yang paling menarik perhatianku adalah bentuk bodinya yang sangat proporsional, "Gitar Spanyol Cing". Terbalut kaos ketat lengan cekak warna abu-abu dan legging warna hitam selutut menambah tonjolan-tonjolan tubuhnya semakin nampak nyata, sampai-sampai aku meneguk air liurku, "Glek.. glek,".
"M.. ma'af Mas.." katanya menyadarkan aku dari kekagumanku.
"Oh oh.. tidak pa.. pa.." sahutku (kok jadi aku yang gugup bathinku ").
"Maafkan saya Mas, saya tidak segaja.. lagi ngelamun jadi tidak sadar kalo ada orang," ujarnya menjelaskan.
"Mas mau pulang..? tambahnya lagi.
"Ii.. iya.." jawabku.
"Oke.. sebagai pernyataan maaf saya, gimana kalo Mas saya antar pulang. Ayo mari masukMas!" pintanya tanpa menunggu persetujuanku.
Wah kesempatan yang tidak boleh kusia-siakan nih.
"Bagaimana ya.." kataku.
"Please.. " katanya.
Tanpa ba bi Bu lagi aku langsung masuk ke Balenonya yang langsung meluncur.
"Ngomong-ngomong dari tadi kita belum kenalan, saya.. Conny," katanya memecah kekakuan.
"Saya Irwan, Mbak," timpalku.
Ternyata Mbak Conny enak diajak ngomong tentang apa saja, orangnya supel. Dan sampai aku juga tahu bahwa ia adalah istri kedua dari salah seorang pengusaha sukses yang meninggal karena kecelakaan mobil setengah tahun lalu. Menurut dia suaminya dibunuh karena persaingan dengan seteru bisnisnya.
"Maaf Mbak, kalau saya mengingatkan," kataku.
"Tidak.. papa Wan," sahutnya.
"Wan kamu tidak papa kan ke rumah Mbak dulu. Mandi dulu ya, nanti setelah itu baru kita ke rumah kamu gimana?"
"Terserah Mbak deh," kataku mengiyakan.
Kami tiba di rumahnya di salah satu kawasan pemukiman elit yang terkenal. Wah ternyata rumahnya cukup besar dan asri.
"Masuk Wan!"
"Makasih Mbak."
."Wan kamu mandi dulu ya," katanya sambil menunjukkan kamar mandi.
"Nanti Mbak siapkan pakaian untukmu, kan baju sama celana kamu basah, biar di cuci di sini saja, Mbak juga mau mandi dulu."
Kulepas semua pakaian sehingga sekarang aku sudah telanjang dan siap untuk mandi. Iseng aku mengingat Mbak Conny yang aduhai tanpa sadar "si Jonny" tiba-tiba mengeras. Aku membayangkan jika Mbak Conny mengatakan, "Wan, maukah menyenangkan Mbak?" Kurasakan "si Jonny" semakin keras seiring imajinasiku tentang Mbak Conny wajah cantiknya, kulit putihnya yang halus mulus tanpa cacat, dua gunung kembarnya yang ukuran 34 dan pantatnya yang besar. Kukocok-kocok batang kemaluanku, sementara khayalanku dengan Mbak Conny semakin menjadi-jadi, dan tiba-tiba "Cklok.." pintu dibuka, aku terkejut tanpa bisa berbuat apa-apa. Tadi aku lupa mengunci pintu kamar mandi, ternyata Mbak Conny sudah berdiri di hadapanku.
"Maaf Wan, aku lupa ngasih handuk ke kamu."
"Oh iya Mbak," kataku.
Mbak Conny tidak langsung pergi ia tertegun melihatku telanjang bulat dan sekilas kulihat ia melirik batang kemaluanku yang dari tadi sudah tegang. "Mbak mau mandi berdua denganku?" tanyaku asal. Mbak Conny tidak menolak dan juga tidak mengiyakan, naluri kelelakianku mulai jalan, kutarik lembut tangannya ke dalam dan kukunci pintu kamar mandi, tanpa menunggu reaksinya lebih lanjut kusentuh wajahnya dengan lembut, "Mbak cantik sekali," aku mulai melancarkan rayuan, "Masa sih Wan, Mbak kan sudah 30 lebih, kamu bisa saja."
Kucium pipinya dengan lembut lalu bergeser ke bibirnya yang seksi. "Wan!" keluhnya lirih, "Mbak saya sangat mengagumi Mbak," bisikku lembut di telinganya, sambil kuletakkan tanganku melingkari lehernya. Kembali kukecup lembut bibirnya, kali ini dia membalas dengan hangat, beberapa saat adegan cium itu berlangsung, tanganku mulai "bergerilya", kuusap punggungnya, terus turun ke bawah, ke bagian pantatnya, kurasakan bongkahannya masih sangat padat, kuremas-remas dengan lembut. Kali ini ia yang melingkarkan tangannya ke pinggangku, semakin erat, kurasakan gunung kembarnya menggencet dadaku kenyal dan lembut kurasakan.
Kami semakin bernafsu, batang kemaluan yang sudah dari tadi tegang tambah kurasakan berdenyut-denyut. Kurasakan aku semakin terangsang, segera saja kubuka baju mandi Mbak Conny. Terlihatlah pemandangan yang sangat indah, aku terdiam sejenak mengagumi keindahan tersebut, kulihat payudaranya yang besar dan masih kencang. Kutelusuri semua bagian tubuhnya tanpa ada bagian yang terlewatkan, sampai pada "area kenikmatan" Mbak Conny. Aku semakin terangsang karena pussy Mbak Conny mulus tanpa ditumbuhi bulu sedikitpun. Kali ini langsung kuserbu payudaranya, kuraba-raba sambil terus kissing sambil sesekali terdengar rintihannya, "Ohh.. Wan mhmm.." kujilati kupingnya terus menjalar ke leher, dada, dan sampai ke payudaranya, kujilat, kumainkan putingnya dengan lidahku, aku semakin bernafsu.
"Waan, ohh.."
"Hmm, Mbak.. Mbak cantik sekali."
Kali ini tangannya mulai kurasakan lebih aktif, dirabanya punggungku turus turun ke pantatku kemudian ke depan mencoba meraih batang kemaluanku dipegangnya dengan lembut, dikocoknya pelan-pelan sambil berkata, "Wan, punyamu lumayan besar juga. Mbak mau merasakannya Wan.. ohh," kembali erangannya terdengar karena aku masih sibuk memainkan pentil payudaranya dengan ujung lidahku.
Mulai bosan dengan payudara, kuangkat badannya, kududukkan ke pinggir bak air. Kembali aku menjilati perutnya, kukukek-kucek liang pusatnya masih dengan ujung lidahku, terdengar kembali erangannya lebih keras, "Ooouhh.. hmm.. ahh.." mungkin Mbak Conny sudah terangsang hebat. Keadaan ini tidak kubiarkan langsung kuarahkan lidah ku ke arah belahan pussy tanpa bulu yang indah sekali, tercium olehku bau khas kewanitaannya. Aku semakin bernafsu kujilati pussy Mbak Conny yang sudah mulai basah dengan lendir kumainkan ujung lidahku menelusuri setiap millimeter dari "benda enak gila" itu. Tubuh Mbak Conny semakin terguncang hebat menikmati permainan lidahku, nafasnya memburu, sudah tidak beraturan lagi sambil terus mengerang, "Oouusshh aahh," merintih tidak karuan keenakan.
Ujung lidahku masih menempel pada benda enak milik Mbak Conny kali ini bagian terakhir yang akan kugarap. Benda sebesar biji kacang yang terletak di atas lubang pussy-nya. Hooaah, hmm hh oouuhh, Wan terus sayang terus.. terus.. Ouuhh uuhh terus.." Kali ini Mbak Conny pasti hampir mencapai puncak gunung kenikmatannya, dan aku terus saja memainkan lidahku dengan ganas di liang pussy-nya yang semakin banjir oleh cairan kewanitaannya yang nikmat di lidahku. Sampai suatu saat ia menjabak rambutku, dan menekan kepalaku ke selangkangannya seakan-akan jangan sampai lepas. "Ooouuhn mm ohh.. ohh, Wan terus Wan.. Mbak mau keluarrhh.." sampai suatu sentakan hebat akibat kontraksi otot-otot badannya yang menegang. "Waan Mbak keluaar hh.."
Beberapa saat badannya masih tersengal-sengal, sambil berkata padaku,
"Wan makasih, kamu hebat, Mbak sudah lama tidak merasakannya sejak suami Mbak meninggal." "Sama-sama Mbak, saya juga sangat menikmatinya, saya suka sama Mbak," ujarku.
"Kali ini giliran kamu ya, Wan. Sekarang kamu duduk di pinggir sini," katanya.
Di kecupnya bibirku, dilumatnya, lidahnya sengaja dimasukkannya menjalari seluruh rongga mulutku sambil sesekali menghisap lidahku, kali ini aku sedikit tidak menguasai keadaan, tangan Mbak Conny masih terus memegang batang kemaluanku sambil terus mengocoknya, "Ooohh.." kali ini aku yang dibuatnya mengeluarkan suara keenakan.
Ah, lidahnya sudah hampir di puting susuku, dimainkannya lidahnya yang membuat sensasi tersendiri. "Aahh.. enak gila," sambil terus mengocok batang kemaluanku. Mbak Conny terus menjilati bagian tubuhku sampai akhirnya dia menjilati kepala kemaluan. Dia terus memainkan lidahnya menjilati, kepalanya, batangnya, biji kemaluan tidak luput dari sasaran lidahnya. "Ahh, Mbak.. enak Mbak ahh.." Mendengar rintihanku dia memasukkan batang kemaluanku ke dalam mulutnya, "Ooh.. terus Mbak.." pintaku. Turun-naik kepalanya mengisap batang kemaluanku sampai keadaan dimana aku merasakan kejang dan batang kemalaunku berdenyut-denyut sangat hebat, "Ooohh.. ohh.. aku hampir keluar Mbak.." Semakin ganas kepalanya turun-naik, semakin mempercepat kocokan dan sedotannya dan.. "Croot.. croot.. croot.." batang kemaluanku memuntahkan sperma ke dalam mulut Mbak Conny dan dengan bernafsu ditelannya sperma tersebut dan sisanya dijilatnya sampai bersih.
"Makasih Mbak," kataku.
"Sama-sama Wan," katanya dengan lembut.
"Oke sekarang kita mandi dulu biar segar dan kita ulangi lagi nanti ya di kamar."
Aku masih mengenakan handuk yang dililitkan ketika Mbak Conny datang membawa segelas susu coklat hangat dan memberikannya kepadaku.
"Minum dulu sayang, biar tambah segar."
Kuseruput coklat hangat, "Aaahh.." kurasakan kehangatan menjalari tubuhku dan kurasakan kesegaran kembali.
Kami berciuman kembali, Mbak Conny tampak sangat menikmati ciumanku ini, matanya terpejam, nafasnya mendesah, dan bibirnya dengan lembut mengecup sambil sesekali menghisap bibir dan lidahku, jari jemari lentik guruku itu mulai bergerak turun menyusup ke balik handukku menuju buah pantatku. Batang kemaluanku yang hanya ditutupi handuk kecil itu segera berdiri tegang. Bagian bawah kepala kemaluanku itupun langsung tergencet oleh perut Mbak Conny yang langsung menyalurkan getaran-getaran kenikmatan ke seluruh urat syarafku.
Jari-jemarinya mulai meraba kedua buah pantatku. Mula-mula rabaannya melingkar perlahan, makin cepat, makin cepat, sampai akhirnya dengan suara mendesah, diremas-remasnya dengan penuh nafsu. Aku mencium dan menjilati telinga Mbak Conny, sehingga membuat tubuh janda cantik itu menggelinjang-gelinjang, "Ohh Wan.. gelii.. ss.." Kuturunkan bibirku dari kuping menelusuri leher, terus turun ke dada, jari jemarinya pun terasa semakin keras meremas-remas pantatku. Seraya mengecupi areal dadanya, jemariku membuka satu persatu kancing seragam kebanggaannya itu hingga terlihat belahan payudaranya yang besar menyembul dari balik baju mandinya. Bentuknya menghadap ke atas dengan puting yang langsung mengarah ke mukaku. Amboi seksinya, tanpa membuang waktu kulahap payudara itu dengan gemas. Kusedot-sedot dan kujilati putingnya yang sudah menegang itu. Tiba-tiba tangan kanan Mbak Conny berputar ke arah depan. Dengan sekali sentak maka terjatuhlah penutup satu-satunya tubuhku itu.
Kulirik kaca lemarinya, di sana terlihat badan tegapku yang bugil tengah menunduk menghisap payudara wanita berbadan montok yang masih dibalut pakaian mandinya. Dari kaca riasnya kulihat Mbak Conny mengalihkan tangan kanannya ke arah selangkanganku dan.. "Slepp!" dalam sekejap batang kemaluanku sudah berada dalam genggamannya. Dengan lembut dan penuh perasaan ia mulai mengocok batang kemaluanku ke atas.. ke bawah.. ke atas.. ke bawah. Uff.. tak bisa kuceritakan nikmat yang kurasakan di selangkanganku itu. Apalagi ketika sesekali ia menghentikan kocokannya dan mengarahkan jempolnya ke urat yang terletak di bawah kepala batang kemaluanku.
"Aaahh.. Mbaak.. aahh.." aku hanya bisa mengerang keenakan seraya terus mengecup dan menjilati payudaranya. Tiba-tiba Mbak Conny mendorong tubuhku hingga terduduk di atas ranjang busanya dan ia sendiri kemudian berlutut dihadapan selangkanganku. Ia menengadahkan kepalanya dan menatap mataku dengan pandangan penuh nafsu.
Bersamaan dengan itu, ia menciumi kepala batang kemaluanku, kemudian menjilati lubang penisku yang sudah dipenuhi dengan cairan lengket berwarna bening. Tiba-tiba ia memasukkan penisku ke dalam mulutnya dan apa yang kurasakan berikutnya adalah kenikmatan yang tak terlukiskan. Mbak Conny memasukkan dan mengeluarkan penisku di dalam mulutnya dengan gerakan yang cepat sambil menggoyang-goyangkan lidahnya sehingga menggesek urat bawah kepala penisku itu. "Aaahh.. ouuhh.. Mbak! aakh.. ouhh.." aku hanya bisa terduduk sambil mengerang nikmat dan Mbak Conny tampak begitu menikmati kemaluanku yang berada di dalam mulutnya, sampai-sampai ia memejamkan matanya.
Tangan kiriku kembali meremas-remas payudara Mbak Conny sedangkan tangan kananku menyentuh bagian bawah buah pantatnya. "Mmmh.. mmhh..emmhh.." rintihnya sambil terus mengulum batang kemaluanku ketika kuraba-raba lubang kemaluannya. Mbak Conny semakin memperkuat sedotannya sehingga memaksaku untuk semakin mengerang tak keruan, seakan tak mau kalah, kumasukkan tanganku ke selangkangannya dari arah perut, dan dengan mudah jemariku mencapai vagina yang sudah sangat basah itu.
Dalam 3 detik jariku menyentuh sebuah daging sebesar kacang yang sudah menonjol keluar di bagian atas vagina Mbak Conny, jari tengah dan telunjukku segera mengocok "kacangnya" dengan cepat. "Mmmhh.. mmhh.. aahh.." Mbak Conny melepaskan penisku dari mulutnya untuk berteriak histeris menikmati kocokanku di klitorisnya. Sekitar 5 menit kami saling mengocok, meremas, dan menghisap diikuti dengan gelinjangan dan jeritan-jeritan histeris, ketika tiba-tiba Mbak Conny menengadahkan mukanya ke arahku dan merintih, "Wan.. please sekarang.." Tanpa menunggu kata-kata selanjutnya kuangkat tubuh janda cantik itu dari posisi berlututnya. Kusuruh dia meletakkan kedua tangannya di atas meja menghadap cermin rias sehingga Mbak Conny kini berada dalam posisi menungging. Tampak buah dadanya bergelayut seakan menantang untuk diperah. Kurenggangkan kedua kaki mulusnya, kugosok-gosokkan penisku di belahan pantatnya sebelum kuturunkan menelusuri tulang ekornya, anus dan kutempelkan di pintu belakang vaginanya.
Perlahan-lahan kusodokkan penisku ke dalam vagina kecil yang sudah sangat banjir itu, "Aaahh.." Mbak Conny menggigit bibirnya menikmati senti demi senti penisku yang tengah memasuki vaginanya, semakin dalam kumasukkan batang kemaluanku dan semakin dalam.. "Ooohh Wan.. oohh.." dan.. "Aaakhh.." jeritnya ketika dengan keras kusodokkan penisku sedalam-dalamnya di vagina janda cantik itu. Tampak janda cantik itu masih menggigit bibirnya menikmati besarnya batang kemaluanku yang terbenam penuh di dalam vaginanya. Dengan segera kupompakan kemaluanku dengan cepat dari arah belakang. Kutempelkan perut dan dadaku di punggung perempuan itu dan kedua tanganku dengan keras meremas-remas dan memelintir kedua puting buah dada Mbak Conny yang sudah sangat keras itu.
"Ohh.. ohh.. ouuhh.." Tiba-tiba Mbak Conny mengangkat kepala dan badannya ke arahku dengan menengok ke arah kiri dan menjulurkan lidahnya. Dengan cepat kusambut lidah yang menggairahkan itu dengan lidahku dan kami pun berciuman dengan posisi Mbak Conny yang tetap membelakangiku. Karena ia menegakkan badannya, Mbak Conny menaikkan kaki kirinya ke atas meja riasnya untuk memudahkan aku terus menyodokkan batang kemaluanku.
Sambil terus melumat bibirnya dan menyodok, tanganku kembali meremas-remas kedua payudaranya. Tangan kiri Mbak Conny menjambak rambut di belakang kepalaku untuk mempererat tautan bibir kami. Ketiaknya menyebarkan wangi khas yang membuatku semakin bernafsu lagi. Tiba-tiba Mbak Conny merintih-rintih sambil terus mengulum lidahku. Tampak alisnya mengerut, wajahnya mengekspresikan seakan-akan kenikmatan yang amat sangat menjalari seluruh tubuhnya, ia dengan cepat membimbing tangan kananku yang masih asyik meremas payudaranya untuk kembali memainkan kacangnya. Goyangan pinggulnya menjadi semakin cepat tak terkendali, dinding vagina mulai terasa berdenyut-denyut, tiba-tiba.. "Aaahh aahh oouuhh.. Wan.. Mbak keluaarr.. aahh.."
Malam itu beberapa kali aku dan Mbak Conny mengulangi "gulat gaya bebas" itu sampai akhirnya kami sama-sama tertidur kecapaian. Aku segera terbangun ketika menyadari ada seberkas sinar yang menerpa wajahku. Aku segera menyadari bahwa aku berada di rumah Mbak Conny. Dan ia sudah bangun dan tidak berada di kamar ini lagi, kulihat jam dinding menunjukkan pukul 10.00 dan lagi-lagi.. oh shiit, aku terlambat masuk kantor. Sial, lagi-lagi sial.
Langganan:
Postingan (Atom)
